Suka Menerima Hadiah karena Jabatan, Ini Cara Unik Rasulullah Menegurnya

0
532

BincangSyariah.Com – Dalam Surat An-Nahl [16]: 125 Allah SWT berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. An-Nahl: 125).

Ayat tersebut memaparkan kepada kita tentang metode terbaik untuk menunjukkan seseorang ke jalan yang diridhai Tuhan. Yaitu dengan Hikmah dan pelajaran atau nasihat yang baik, serta dialog yang sehat.

Ada pemaknaan yang menarik dari KH. Abdurrahman Wahid mengenai tiga metode tersebut. Kata “hikmah” oleh KH. Abdurrahman Wahid dimaknai dengan cara yang bisa diterima orang lain dan menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempatnya. Sedangkan “al-Mauidzhoh al-Hasanah” beliau maknai dengan tutur kata yang baik, selanjutnya “al-Mujadalah billati hiya ahsan” beliau maknai dengan berdiskusi dengan cara yang baik, diterima secara rasional, dan dapat dicerna serta dipahami.

Metode ini merupakan metode yang dipakai Rasulullah SAW ketika mengingatkan seseorang yang keliru dalam bersikap. Diantara kisah yang merepresentasikan hal tersebut adalah kisah yang menceritakan tentang cara Rasulullah SAW menegur seseorang yang beliau pekerjakan untuk mengelola zakat yang diambil dari klan Bani Sulaim.

Kemudian dalam pelaksanaan tugasnya, orang tersebut menganggap hadiah yang ia terima karena posisinya sebagai pengelola zakat, adalah sesuatu yang wajar, sehingga ia memisahkan antara zakat yang diberikan dengan hadiah yang diberikan untuknya. Ketika itu Rasulullah SAW mengingatkannya, jika saja ia tak menempati posisi tersebut, tidak mungkin ia menerima hadiah-hadiah tersebut.

Baca Juga :  Bulan Safar di Masa Bangsa Arab Jahiliyah

Kisah tersebut diceritakan secara lengkap dalam sebuah riwayat dari Abu Humaid as-Saidiy, ia berkata: “Bahwasannya Rasulullah SAW mempekerjakan seorang lelaki dari kabilah al-Azd untuk mengelola shadaqah (zakat) yang diterima dari Bani Sulaim yang lebih dikenal dengan bani al-Lutbiyah, dan ketika ia datang untuk menyerahkan shadaqah (zakat) yang dikumpulkannya, ia berkata “ini harta bagian kalian, sedangkan yang ini adalah hadiah yang diberikan kepadaku” Rasulullah SAW pun berkata, “kalau begitu mengapa kamu tidak duduk-duduk saja di rumah ibu bapakmu sehingga hadiah untukmu mendatangimu dengan sendirinya, jika memang apa yang kau katakan adalah benar”.

Akhirnya Rasulullah SAW berkhutbah, beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya, lalu setelah itu beliau berkata “sesungguhnya aku telah mempekerjakan salah seorang dari kalian untuk mengerjakan sesuatu yang diamanahkan Allah SWT kepadaku (mengumpulkan zakat), kemudian ia datang kepadaku dan berkata: “ini harta bagian kalian, sedangkan (sebagian) ini adalah hadiah yang diberikan untukku”, (kalau begitu) tidakkah ia mencoba duduk saja (berdiam diri) di rumah ayah ibunya sehingga hadiahnya akan mendatangi dirinya. Demi Allah tidak ada satu orangpun dari kalian yang mengambil dari harta shodaqoh (zakat) yang bukan haknya, kecuali ia akan bertemu dengan Allah SWT pada hari kiamat kelak dengan harta tersebut, sehingga kelak aku akan benar-benar mengetahui ketika salah satu dari kalian menghadap Allah SWT dengan seekor unta yang terus berbicara, atau membawa seekor sapi yang terus bersuara, atau membawa seekor kambing yang juga tak berhenti bersuara, kemudian Rasulullah SAW mengangkat tangannya sehingga terlihat putih bagian ketiaknya, dan beliau berseru “demi Allah, bukankah aku telah menyampaikannya, dengan mata kepalaku sendiri?” (HR. Bukhari, Muslim)

Baca Juga :  Nabi Pun Bercanda

Dari riwayat tersebut kita mendapati bahwa Rasulullah SAW tidak lantas marah-marah ketika orang yang dipekerjakannya melakukan hal yang keliru, beliau bersikap dengan kebijaksanaannya dalam mengingatkan orang yang beliau pekerjakan ketika orang tersebut telah menyimpang.

Beliau mencoba untuk membangun dialog yang menyentuh kesadaran diri orang tersebut bahwasannya apa yang dia sebut dengan hadiah baginya, sejatinya tak akan pernah ia dapatkan jika ia tak menempati posisi yang Rasulullah SAW amanahkan.

Bahkan, beliau bisa menggunakan momentum tersebut untuk mengajarkan yang lain tentang ketidakbolehan seseorang mengambil sedikitpun dari uang zakat atau uang-uang lainnya karena posisi yang ditempatinya. Meskipun, orang yang memberikannya mengatakan harta tersebut sebagai hadiah. Karena sejatinya yang dinamakan hadiah itu tak akan datang, jika memang ia tak menempati posisinya itu.

Dari cara menegur beliau kita bisa mendapati ketiga komponen penting yang Al-Qur’an ajarkan ketika kita mencoba mengajak orang lain untuk menempuh jalan yang diridhai Tuhan. Ketiga komponen itu adalah al-hikmah, al-mauidzah al-hasanah, serta al-mujadalah billati hiya ahsan, maka sangat tepat pendeskripsian ahlak Rasulullah SAW adalah Alqur’an, sebagaimana jawaban sayyidatuna Aisyah ketika beliau ditanya tentang ahlak beliau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here