Sufi Agung Syekh Zarruq dan Pendapatnya tentang Kunci Keberhasilan

1
1008

BincangSyariah.Com – Imam Ahmad Zarrūq (w 899 H), Sufi besar dari Fes Maroko, dan juga tokoh penting mazhab Maliki pada masanya, dianggap sebagai sosok pertama yang menyusun kaidah-kaidah tasawuf melalui karya tulisnya yang diberi judul “Ta’sīs al-Qawā’id wa al-Ushūl wa Tahshīl al-Fawāid li Dzawī al-Wushūl” yang kemudian populer dengan “Qawā’id al-Tashawwuf”.

Di dalam karyanya ini, ia memuat sebanyak 225 kaidah, setebal 136 Halaman (cetakan DKI, dan 320 halaman di cetakan Markaz Al-‘Arabi Lil-Kitab dengan ukuran font lebih besar).

Muatan karyanya ini begitu menjawab berbagai pertanyaan “apa”, “kenapa” dan “bagaimana” terkait tasawuf. Baik tasawuf jika dipandang dari praktik sufi, maupun jika dipandang sebagai suatu bidang ilmu yang dapat dibandingkan dengan fikih, akidah dan bidang lainnya.

Metode penulisannya ialah: pada setiap kaidah yang disusunnya, Ahmad Zarruq langsung memberikan contoh penerapan kaidah tersebut pada persoalan tasawwuf. Kendatipun penerapan kaidah tersebut untuk bidang tasawwuf, namun, sebagaimana layaknya kaidah yang merupakan formulasi yang bersifat umum, kaidah-kaidah tasawuf ini pun dapat diterapkan pada kasus lain.

Misalnya kaidah-kaidah yang berkaitan dengan bagaimana supaya seorang salik (penempuh jalan tasawwuf) berhasil dalam perjalanan speritualnya, kaidah-kaidah itu juga dapat diterapkan untuk keberhasilan seorang penuntut ilmu, untuk keberhasilan seorang yang menjalani suatu profesi dan lain sebagainya.

Setidaknya ada tiga kaidah yang ia torehkan, sebagai kunci keberhasilan,

  1. Mengenali kecenderungan diri.

Ahmad Zarruq menyatakan: “Sesuatu yang ada pada tabiat merupakan hal yang sangat membantu jiwa untuk mencapai apa yang diinginkannya, sesuai dengan kadar kekuatannya”.

Maksudnya, mengenali kecenderungan natural yang dimiliki seseorang lalu menekuninya, merupakan suatu yang memudahkan seorang itu menjadi berhasil, tinggal bagaimana kadar kekuatan dirinya menekuni bakatnya.

Baca Juga :  Ketika Terjadi Hal yang Tak Diinginkan, Ini yang Seharusnya Dilakukan Muslim

Kaidah ini, oleh Zarruq, dicontohkannya dengan: seorang anak yang sejak kecil sudah mengetahui kecenderungan dirinya, kelak ia akan menjadi ahli dalam hal yang menjadi kecenderungannya itu.

Dalam konteks membidangi suatu disiplin ilmu misalnya, dapatlah kiranya kaidah ini dipakai, bahwa sebelum mendalami suatu bidang, hendaklah diperhatikan terlebih dahulu kecenderungan diri, sehingga dapat memilih bidang yang tepat dan kelak menjadi ahli di bidang tersebut. Begitu pun dalam bekerja atau dalam mendalami suatu profesi tertentu, tentunya kaidah ini juga dapat diterapkan.

  1. Fokus pada satu arah dan serius

 “Mencari dan mengusahakan sesuatu dengan satu arah disertai keseriusan, merupakan cara yang paling mendekati keberhasilan.”

Sebaliknya, seseorang yang berpindah-pindah dari satu hal ke hal lain sebelum mendapatkan hasilnya, oleh Ahmad Zarruq diibaratkan seperti orang yang menggali lubang di suatu tempat, lalu ia berpindah ke tempat lain sebelum galiannya selesai, atau seperti orang yang meneteskan suatu tetesan di tempat yang berbeda sedangkan ia menginginkan tetesannya itu memberi bekas pada tempat yang diteteskan, maka ia tidak akan melihat bekas dari tetesan tersebut.

Karenanya, Ahmad Zarruq menyarankan agar seorang salik ilmtizam dengan suatu wirid dan tidak berpindah kepada wirid lain sebelum buah wiridnya ia dapatkan.

Dalam konteks mendalami suatu bidang ilmu, agaknya kaidah ini dapat pula diterapkan, bahwa fokus mendalami suatu bidang dengan serius, merupakan cara yang tepat untuk pencepatan keberhasilan, sebelum beranjak mendalami bidang lain. 

  1. Terus menerus menjalani sabab.

Ahmad Zarruq mengatakan: “melaksanakan asbab (proses-proses di dunia) merupakan hal yang mesti diperhatikan”. Maksudnya ialah memperhatikan hukum sebab-akibat. Untuk berhasil mendapatkan suatu hal, memperhatikan dan menjalankan sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada pencapaian yang dituju, merupakan suatu keniscayaan.

Baca Juga :  Hadis tentang Hijrah

Menurutnya, sebagaimana alam semesta ini senantiasa tegak dan berjalan baik, ialah sebab ia berjalan sesuai sistemnya. Begitu pulalah kiranya dalam menghasilkan sesuatu hal, jika tak dilakukan sebabnya, tak akan mencapai tujuannya selain hanya sebatas ilusi semata. Menurutnya, seorang yang mencari sesuatu secara instan, tak lain justru mendapatkan kebalikan dari yang diinginkannya.

Dari kaidah ini, dapat dipahami bahwa jika ingin menguasai bidang ilmu tertentu, haruslah terus menerus menjalankan sebabnya, yaitu mempelajari ilmu tersebut. Jika ingin menjadi kaya, mestilah bekerja dan berusaha, bukan dengan cara berbuat curang, ataupun dengan menggunakan bantuan makhluk halus.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here