St. John Sang Pembaptis dan Tafsir Kata “As-Sabiin” dalam Alquran

0
704

BincangSyariah.Com – Alquran dalam berbagai ayat-ayatnya selalu saja mengandung istilah-istilah tersendiri yang terkadang tidak sesuai dengan makna yang dikenal dalam masyarakat Jahiliyyah. Sebut saja istilah salat, ummi, zakat dan lain-lain yang semuanya adalah istilah baru.

Sebagiannya tidak dikenal di masyarakat ketika Nabi diutus. Dengan kata-kata lain, Alquran terkadang menciptakan bahasa yang khas dan unik yang dalam mencari maknanya, kita tidak melulu harus merujuk kepada kamus-kamus Arab Badui seperti Lisan al-Arab karya Ibnu al-Mandzhur, al-Qamus al-Muhit karya al-Fairuz Abadi dan lain-lain melainkan bisa dengan metode al-quran yufassir baddhuhu badhan.

Menafsirkan Alquran dengan merujuk maknanya pada kamus-kamus bahasa Arab Badui ini di satu sisi dapat memahamkan kita dengan kandungan makna kata yang digunakan Alquran namun di sisi lain akan membatasi Alquran dengan cara pandang Arab Badui yang primitif.

Maksudnya, jika kita menggunakan kamus-kamus ini dalam menafsirkan kata Alquran secara konsisten, maka akan banyak kata-kata Alquran yang dibatasi maknanya sesuai dengan kosmologi orang-orang Arab Badui. Tentu ini sangat berbahaya dalam menafsirkan Alquran.

Muhammad Abid al-Jabiri dalam bukunya Takwin al-Aqal al-Arabi, Bunyat al-Aqal al-Arabi dan at-Turats wa al-Hadathah dengan sangat menarik mengkritik penggunaan kata-kata Arab Badui dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam. Bagi al-Jabiri, memaknai Alquran dan hadis dengan merujuk kepada bahasa Arab Badui ini sama saja dengan memakai cara pandang orang-orang Badui dalam memahami Alquran.

Tentu, kata al-Jabiri, hasilnya akan jauh dari semangat yang digaungkan oleh Islam itu sendiri. Berangkat dari cara pandang seperti inilah, al-Jabiri mengkritik tradisi Bayani berikut dengan segenap cara pandangnya yang tidak mempertimbangkan maqasid dan lain-lain. Hal demikian berangkat dari bahasa Arab Badui yang dijadikan kerangka referensi dalam memahami ajaran-ajaran Alquran dan as-Sunnah.

Baca Juga :  Metodologi Kritik Hadis Menurut K.H. Ali Mustafa Yaqub

Namun terlepas dari kritik al-Jabiri terhadap cara kerja bahasa Arab Badui ini dalam memahami bahasa Alquran, ada istilah Alquran yang khas yang terkadang kita tidak mampu mengungkap maknanya secara pasti. Salah satu istilah tersebut ialah as-sabiin. Kata ini disebut dalam Alquran sebanyak tiga kali QS. 2:62; 5: 69; 22: 17.

Dalam The Holy Quran karya Muhammad Ali, Sabiin ini ditafsirkan sebagai sekte semi-Kristen yang tinggal di wilayah bekas Babilonia (mungkin Irak sekarang). Sekte ini mirip dengan Kristen ajaran St. John, sang Pembaptis. Atau dalam bahasa Alquran disebut sebagai Nabi Yahya. Kata Sabian sendiri, menurut Muhammad Ali, berasal dari bahasa Aramia yang maknanya itu ialah orang-orang yang membasuh dirinya sendiri yang dalam literatur Arab, mereka juga disebut sebagai al-mughtasilah.

Menurut Muhammad Ali, pandangan yang mengatakan bahwa Sabean adalah para penyembah bintang jelas sangat keliru. Kekeliruan ini kemungkinan terjadi akibat pencapur adukan antara Pseudo-Sabean dari Harran yang masih hidup di zaman al-Makmun. Mereka mengaku penganut Sabean agar disamakan perlakuannya dengan penganut Ahli Kitab, yakni diberi hak untuk hidup damai dengan Islam. Pseudo-Sabean inilah yang ajaran-ajarannya dikemukakan dengan sangat baik oleh as-Syahrastani dalam kitabnya al-Milal wa an-Nihal.

Namun kemungkinan tafsir yang tepat terhadap makna Sabiin dalam ayat-ayat ini ialah agama yang posisinya berada di antara Yahudi dan Kristen yang masih mengakui adanya ke-Esa-an Tuhan. Sabean sendiri asal Aramia nya ialah Tsebbha yang artinya pembaptisan lewat mencelupkan diri ke dalam air atau sungai. Yesus Kristus dulu juga pernah dibaptis oleh Yahya ini di sungai Yordania. Jadi bisa dimungkinkan bahwa dua tokoh Nabi ini memiliki ajaran yang sama dan memiliki pengikutnya masing-masing. Kendati dalam beberapa literatur sejarah, pengikut Yahya yang lebih tua enam bulan dari Yesus ini bentrok dengan para pengikut Yesus.

Baca Juga :  Ketika Kaum Nasrani Salat di Masjid Nabi

Ala kulli hal, kemungkinan ajaran-ajaran Nabi Yahya atau St. John Sang Pembaptis ini membentuk semacam agama baru yang posisinya secara ajaran berada di antara Yahudi dan Kristen yang dalam Alquran, para pengikut agama ini disebut sebagai Sabiin atau Sabean. Jika benar tafsir ini merujuk kepada agama yang dibawa oleh St. John tersebut, maka Ahli Kitab juga tidak selalu merujuk kepada Yahudi dan Kristen, namun juga para pengikut ajaran agama Sabean, agama yang dibawa oleh Nabi Yahya AS. Allahu Alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here