Sosok Rasulullah di Mata Para Pujangga

1
14

BincangSyariah.Com – Dalam kesempatan ini, penulis membahas sosok Rasulullah saw. perspektif kisah-kisah yang disebutkan oleh Imam ‘Abdurrahman ad-Diba‘i, Imam al-Barzanji, dan Imam Syaraf al-Anam. Beberapa percetakan di Indonesia mengumpulkan karya mereka menjadi satu buku dan biasanya diberi judul Majmu‘ah al-Mawalid yang biasa dibaca setiap bulan Maulid (Rabiulawal) oleh sebagian besar Masyarakat Muslim Nusantara, baik di kampung maupun di kota.

Ketiga sufi dan pujangga ternama tersebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Rasulullah saw. Mereka adalah para pecinta sejati yang mengabadikan keagungan dan keindahan kekasihnya, Rasulullah saw., melalui untaian-untaian syair yang sungguh indah-menawan. (Baca: Alasan Dakwah Rasulullah Mendapat Banyak Ujian dan Cobaan)

Menurut cerita Habib Quraisy Baharun, ketika beliau bermimpi Rasulullah saw. menghadiri Jalsah Itsnain asuhan Habib Quraisy sendiri, maka beliau juga melihat beberapa ulama terkemuka di sana menemani Rasulullah saw., seperti Imam ad-Diba‘i, Imam al-Barzanji, Imam Syaraf al-Anam, dan beberapa ulama lain.

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Imam ad-Diba‘i berkata: aku kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan ketinggianmu, Ya Rasulallah.

Imam Syaraf al-Anam berkata: Tidak satupun makhluk yang menyerupai Muhammad, di mana umatnya beruntung karenanya # barangsiapa yang fana’ (tenggelam dalam cinta Muhammad) ataupun mati karena cinta kepada Muhammad, maka dia akan memperoleh segala hal yang diinginkannya).

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Imam Syaraf al-Anam berkata: hatiku sungguh merindukan Muhammad # sungguh aku tergila-gila kepadanya. Aku tergila-gila kepada Muhammad dan selalu ingin dekat dengannya # ya Tuhan, semoga Engkau segera mempertemukanku dengannya sehingga kecamuk rinduku segera sirna).

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Imam al-Barzanji berkata: semua orang yang ada di alam semesta rindu kepadamu # duhai kekasih yang memiliki kening yang elok. Mereka semua menaruh cinta dan rindu yang mendalam kepadamu).

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai seorang pecinta berkata: seandainya Rasulullah saw. bersama kami # pasti yang jauh dan dekat akan datang padanya. mengharapkan kebaikan Rasulullah sebelum beliau pergi # dengan harapan dapat mendampingi Rasulullah saw.. lantaran dengan mendampinya jiwa menjadi tenang # dan doa-doa akan dikabulkan oleh Allah.

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Imam al-Bushiri berkata dalam kasidah Burdah: dialah Muhammad yang sempurna lahir-batin # kemudian Tuhan Pencipta manusia memilihnya sebagai kekasih-Nya. tidak satupun makhluk yang menyerupai kebaikan dan keindahan Muhammad # karena memang esensi kebaikan dan keindahan Muhammad tidak mungkin terbagi.

Lekatkanlah segala bentuk kemuliaan kepada pribadi Muhammad sesukamu # dan lekatkanlah segala bentuk ketinggian dan penghormatan kepada derajat Muhammad sesukamu. karena sesungguhnya keutamaan Rasulullah tidak terbatas # sehingga mengurai keindahan, kemuliaan, dan keagungannya terasa mudah di mulut.

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani berkata: setiap kepala akan riang gembira apabila menjadi kaki Rasulullah saw. (Jawahir al-Bihar fi Fadha’il a-Mukhtar Shallallahu ‘Alaih wa Sallam, III: 975). Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Abu Lahab saja masih bisa mendapatkan keringanan di neraka setiap hari Senin hanya karena bergembira atas lahirnya Rasulullah saw. (Imam Nawawi al-Jawi, Nur azh-Zhalam, hlm. 37).

Baca Juga :  Wilayah Dinasti Seljuk: Terbentang dari Iran hingga Romawi

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai orang yang tidak bersyukur (berterimakasih) kepadanya sama saja dengan tidak bersyukur kepada Allah. Hal ini disebutkan dalam hadis qudsi: “hamba-Ku tidak dikatakan bersyukur kepada-Ku jika dia tidak bersyukur (berterimakasih) kepada orang yang darinya Aku telah mengalirkan berbagai nikmat (Imam Nawawi al-Jawi, Kasyifah as-Saja, hlm. 4).” Salah satu bentuk syukur (terimakasih) kepada Rasulullah saw. adalah memperbanyak baca salawat.

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai tidak pernah bermimpi keluar mani (ihtilam) sama sekali; tidak pernah menguap selama hidup; tubuhnya yang elok tidak pernah dihinggapi lalat sepanjang hidup; bisa melihat sesuatu yang ada dibelakangnya sebagaimana melihat sesuatu yang ada di depannya; bekas kencingnya tidak terlihat di permukaan bumi; meskipun kedua matanya tertidur, tetapi hatinya senantiasa terjaga; tidak memiliki bayang-bayang meskipun di bawah matahari; dua pundaknya selalu terlihat lebih tinggi daripada orang lain ketika duduk bersama; dan lahir dalam keadaan terkhitan (Imam Nawawi al-Jawi, Syarh Maraqiyy al-‘Ubudiyyah, hlm. 3).

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai bisa melakukan perjalanan Isra’-Mi‘raj dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan sadar dan menyaksikan Zat Allah dengan mata telanjang (Mawlid al-Barzanji Natsr, hlm. 64 & Mawlid al-Barzanji Nazhm, hlm. 178 dalam Majmu‘ah al-Mawalid, penerbit al-‘Aidrus Jakarta). Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Allah berfirman: Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu (Ali ‘Imran (3): 31).”

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Allah tidak pernah memanggil namanya secara langsung dalam al-Qur’an. Allah memanggil Rasulullah saw. dengan panggilan Nabi atau Rasul (wahai Nabi atau wahai Rasul), bukan panggilan “wahai Muhammad”. Padahal Allah memanggil nabi-nabi yang lain dengan nama mereka secara langsung, seperti: “wahai Adam, wahai Nuh, wahai Ibrahim, wahai Musa, wahai Isa, wahai Dawud” (Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani, al-Fadha’il al-Muhammadiyyah, 1994: 71).

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Mulk Ayat 13-14: Allah Mengetahui Segala Rahasia Manusia

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai namanya disandingkan dengan Asma Allah Yang Maha Suci lagi Maha Agung di arasy, yaitu: tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah) (al-Fadha’il al-Muhammadiyyah, hlm. 109). Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai siapapun yang menaatinya, maka dia telah menaati Allah, sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah (an-Nisa’ (4): 80)”.

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai beliau disebut paling awal sebelum para nabi yang lain meskipun beliau diutus paling akhir (Imam al-Gazali, Ihya’ ‘Ulumi ad-Din, 2005: 368). Hal ini diabadikan dalam al-Qur’an: “dan (ingatlah) ketika Kami Mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa putra Maryam, dan Kami telah Mengambil dari mereka perjanjian yang teguh (al-Ahzab (33): 7).

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Allah dan para malaikat bersalawat kepadanya. Bahkan Allah secara tegas menyuruh orang-orang beriman agar senantiasa bersalawat-salam kepada Rasulullah saw., yaitu: “sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (al-Ahzab (33): 56).

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai Allah mengutus beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sekali lagi, beliau diutus tidak hanya menjadi rahmat bagi manusia atau umat Islam saja, tetapi sebagai rahmat bagi seluruh alam, baik manusia, jin, binatang, tumbuhan, bebatuan, daratan, lautan, maupun makhluk lain. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an: “Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (al-Anbiya’ (21): 107).”

Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai bisa melakukan perkara yang tidak bisa dilakukan oleh para nabi yang lain kelak di akhirat, yaitu memberikan pertolongan (syafaat) kepada umat-umatnya. Rasulullah saw. memang betul-betul agung nan istimewa sampai tidak satupun orang mukmin bisa masuk surga tanpa syafaat Rasulullah saw. Oleh karena itu, para nabi yang lain dan umat-umatnya kelak akan meminta syafaat kepada Rasulullah saw. (Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki, Muhammad saw. al-Insan al-Kâmil, 2007: 163). Wallah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here