Optimisme dan Solidaritas Nabi Menghadapi Penyakit Menular

0
1200

BincangSyariah.Com – Belakangan ini, isu wabah atau penyakit menular kembali menghebohkan umat manusia di dunia. Wabah ini dikenal dengan sebutan Corona atau Covid-19 dan dinyatakan bersumber dari China. Para ahli medis menginstruksikan untuk selalu berhati-hati dan mewaspadai wabah ini. Sebab wabah ini sangat mudah tertular pada orang lain, sekalipun sebatas hanya bersentuhan tangan. (Baca: Terkait Social Distancing Corona, Rasulullah Menolak Bersalaman dengan Orang Berpenyakit Menular)

Di samping kenyataan hari ini, sebenarnya wabah menular juga pernah menghebohkan umat manusia jauh sebelumnya. Tepatnya pada masa Rasulullah saw. Peristiwa tersebut termaktub dalam Shahih al-Bukhari sebagai berikut.

 عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ. رواه البخاري

Riwayat dari Abu Hurairah r.a., ia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada penyakit yang menular, dan tidak ada shafar (menjadikan bulan shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula ada haamah (keyakinan Jahiliyah tentang Reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal, kemudian berpindah pada hewan).” Lalu ada seorang Arab Badui (pedalaman) berkata; “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan untaku (unta yang sehat) yang ada di pasir, seolah-olah mereka bagaikan gerombolan kijang. Lalu, datang seekor unta yang berpenyakit kudis, kemudian unta itu bercampur baur dengan unta-unta yang sehat, kemudian ia menularinya?” Maka Nabi saw. bersabda: “ Jika penularan itu ada, lalu siapakah yang menulari unta yang pertama tadi?.” (HR. al-Bukhari)

Sekilas dari hadis ini, Rasulullah saw. terlihat tidak mengakui adanya wabah atau penyakit menular. Hal ini berdasarkan pada ungkapan beliau Laa ‘Adwa (tidak ada penyakit menular). Lantas, benarkah penyakit menular itu tidak ada?

Jika kita melihat latar belakang hadis ini, sebenarnya peristiwa ini terjadi di Madinah yang saat itu sedang terkena wabah penyakit kusta, di mana penduduk Madinah saat itu merasa khawatir akan tertular wabah tersebut, hingga mereka menjauhi orang-orang yang terjangkit kusta. Bahkan, mereka sampai ke taraf pengabaian terhadap penderitaan mereka.

Yang biasanya mereka makan bersama atau memberi makan seseorang, namun karena ia terkena penyakit kusta, akhirnya mereka acuh terhadap para pengidap kusta. Melihat kondisi yang demikian, Nabi merasa khawatir terhadap solidaritas antar sesama muslim.(Baca: Umat Muslim Terjangkit Virus Corona Diharamkan Sholat Jamaah di Masjid, Ini Alasannya)

Wabah yang sedang menimpa mereka, bukannya dijadikan ajang untuk saling tolong-menolong, malah justru membuat para penderita semakin menderita. Oleh karena itu, tak mengherankan jika Nabi saw. mengambil suatu tindakan yang berisiko, sebagai langkah awal untuk membantu sesama, sebagaimana yang dituturkan oleh Jabir Ibn ‘Abd Allah:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَكَلَ مَعَ مَجْذُوْمٍ وَقَالَ: كُلْ، ثِقَةً بِاللهِ وَتَوَكُلًا عَلَيْهِ

Bahwa Nabi saw. pernah makan bersama orang yang berpenyakit kusta dan beliau bersabda kepadanya: “Makanlah, kemudian yakinlah pada Allah dan bertawakkallah.”

Dari sini, jelaslah bahwa pernyataan Nabi di atas yang tidak mengakui adanya penyakit menular, bukan semata-mata tidak ada penyakit yang menular. Namun, disebabkan karena kondisi orang-orang saat itu yang sudah tidak lagi peduli dengan para penderita penyakit menular.

Di lain sisi, banyak dari golongan sahabat yang juga menyaksikan bahwa Nabi saw. meyakini adanya penyakit menular, sebagaimana hadis-hadis berikut.

سَمِعْتُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ يُحَدِّثُ سَعْدًا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا رواه البخاري

Riwayat dari Usamah Ibn Zaid, ia bercerita kepada Sa’d dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. al-Bukhari)

عن أبي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ رواه البخاري

Riwayat dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat.” (HR. al-Bukhari)

عن عمرو بن الثريد الثقفي عن أبيه قال: كان في وفد ثقيف رجل مجذوم، فأرسل إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنا قد بايعناك، فارجع. رواه مسلم

Riwayat dari ‘Amr Ibn al-Tsarid al-Tsaqafi dari ayahnya, ia berkata: Dalam delegasi Tsaqif (yang akan diba’iat oleh Rasulullah saw.) terdapat seorang laki-laki yang berpenyakit kusta. Maka Rasulullah saw. mengirim seorang utusan supaya mengatakan kepadanya: “Kami telah menerima ba’iat anda. Karena itu, anda boleh pulang. (HR. Muslim)

Berdasarkan keterangan di atas, pesan yang bisa kita ambil adalah, jika negeri kita atau dunia sedang dilanda wabah atau penyakit menular, maka tetaplah waspada dan berhati-hati, agar kita tidak ikut terjangkit wabah tersebut. Namun, jangan sampai kewaspadaan kita terhadap orang-orang yang terkena wabah, menjadikan kita acuh dan tak peduli, tetap berikan dukungan, baik dari segi materi maupun non-materi dan doakan yang terbaik bagi mereka. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here