Siradj al-Adzkiya fi Tarjamati al-Azkiya: Kitab Tasawuf Ajengan Sanusi

0
1693

BincangSyariah.Com – K.H. Ahmad Sanusi, salah satu Ulama besar dari tatar Sunda ini  lahir di desa Cantayan, Cikembar, Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, pada 3 Muharram 1306 / 18 September 1888. Ia adalah seorang Kyai, Ajengan, sang pemikir di bidang Ahlussunah wa al-Jama’ah, dan Pendiri serta Pemimpin dalam organisasi Al-Ittihadoel Islamiyyah (AII) (sekarang berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI)). Beliau berkontribusi banyak dalam memperjuangkan dan merintis kemerdekaan.  dengan ratusan karya keagamaan berbahasa sunda.

Ia terlahir dari keluarga agamis dan memilki latar belakang keluarga pesantren yang dimiliki ayahnya, H.Abdurrahim. KH. Ahmad Sanusi banyak mendapatkan keilmuan pesantren dari ayahnya dan sejumlah pesantren yang pernah ia kunjungi. Sebagai santri yang senang berkelana, ia terhubung dengan berbagai  jaringan kyai pesantren di Priangan.

Ia belajar di sembilan pesantren yang terdapat di daerah Sukabumi, Cianjur, Garut, dan Tasikmalaya. Diantaranya, Pesantren Salajembe yang dipimpin oleh Ajengan Muhammad Anwar, Pesantren Sukamantri (Ajengan Muhammad Siddik), keduanya terletak di Kabupaten Sukabumi. Kemudian, ia belajar di Pesantren Cilaku dan Pesantren Ciajag di Kota Cianjur. Tidak lama kemudian, ia mulai belajar di Pesantren Gudang Tasikmalaya yang saat itu dipimpin oleh Ajengan Suja’i. Perjalanannya ini membuahkan hasil sebuah lembaga pendidikan Islam di daerah Cantayan, Sukabumi, yaitu Pesantren Syamsu al-‘Ulum.

Punya Ratusan Karangan, Sampai Tafsir Al-Qur’an

Kyai Ahmad Sanusi telah dikenal dan juga diteliti karena memilki ratusan karangan baik dalam bahasa Melayu, Sunda, maupun Arab. Yang paling masyhur, beliau dikenal dengan karya tafsirnya yang beragam, diantaranya adalah tafsir Raudhatul Irfan Fi Ma’rifat al-Quran, sebuah tafsir Al-Qur’an lengkap berbahasa Arab. Namun, jarang diketahui kalau beliau juga memiliki karya di bidang tasawuf yang sampai saat ini masih dikaji secara rutin di pesantren yang beliau tinggalkan, Syamsu al-‘Ulum.

Nama kitab di bidang tasawuf tersebut adalah Siradj al-Adzkiya Fi Tarjamah al-Azkiya. Kitab ini merupakan syarh/penjelasan dari kitab Hidayatul Adzkiya karya Syaikh Zainudin Malibari. Kitab ini berisi 35 lembar beraksara pegon sunda. Disamping itu, kitab ini banyak merujuk pada kitab Ihya ‘Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali, karena struktur pembahasannya hampir sama.

Kitab tasawuf ini menjelaskan beberapa langkah seorang muslim untuk menjadi kekasih yang sejati dan selalu menghadirkan Allah dalam hatinya dimanapun berada. Tepat di halaman pertama, ia menjelaskan tentang trilogi tasawuf, yaitu thariqah, hakikat, dan syariat. Perlu diketahui, bahwa thariqat yang ia bawa adalah thariqat yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali, yaitu Thariqat Akhlaqi ‘Amali. Tentunya ia menuturkan sembilan suluk (jalan) untuk menempuh ridha-Nya. Diantaranya yaitu al-Taubah (taubat), al-Qana’ah (merasa cukup), Ta’allum ‘Ilm (menuntut ilmu), Hifzh al-Waqt (tepat waktu), Muhafazhatu ‘ala al-Sunan (menjaga sunnah), al-Ikhlash (ikhlas), Zuhd (zuhud), al-Istiqamah, dan al-Tawakkal (berserah diri). Sembilan suluk ini akan melatih dan membantu jiwa kita menjadi insan yang baik. Salah satu kutipan penjelasan Ahmad Sanusi dalam kitabnya diungkapkan dalam bahasa sunda,

Jeung wajib ka jalma anu bermaksud kabagjaan dunia akhirat kudu ngaji elmu anu manfaat karna Allah karna ngaji jeung ngajarkeunna eta pang alus-alusna ibadah jeung meunang fakat khilafatullah jeung warisan ti Nabi. Ulah nyalahkeun cariosan Ulama mun aya wajah benerna,wajib ngagungkeun ulama, meunang nanyakeun ka ulama tapi ulah mujadalah ulah ngaheulakeun faham urang jeung mandeurikeun faham ulama kajaba lamun yakin salahna.”

Nasihat diatas menerangkan kepada kita bahwa hendaknya jika ingin menjadi manusia yang berkualitas di dunia dan akhirat, wajib padanya mencari ilmu yang diniatkan karena Allah. salah satu cara agar ilmu yang ia dapat bermanfaat adalah dengan cara mengamalkannya. Selain itu, wajib baginya untuk menghormati para ulama, tanpa harus bermujadalah (berdebat) keilmuan dengannya, yang mana itu menyebabkan merasa kehilangan sifat rendah hatinya. Disini kita harus sangat berhati-hati dan mencegah dari sikap tersebut. Hidup akan lebih menjadi berkualitas jika spiritual yang kita lakukan berjalan dengan istiqamah dan selalu diimbangi dengan suluk yang dipaparkan dalam kitab ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here