Singkawang, Salah Satu Kota Paling Toleran di Indonesia

1
35

BincangSyariah.Com – Singkawang dikenal sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia sebab komponen masyarakatnya yang terdiri dari banyak kelompok suku bangsa dan agama. Banyak orang yang mengakui bahwa masyarakat Singkawang mampu mempertahankan harmoni antaragama.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Azyumardi Azra dalam Agama dalam Keagaman Etnik di Indonesia (1998) menuliskan bahwa Singkawang hampir tak pernah diterpa kabar buruk tentang isu-isu kristenisasi atau islamisasi. Khusunya kabar buruk tentang upaya agresif untuk menambah jumlah penganut.

Memang ada persaingan dalam syiar agama, tapi tidak muncul dalam bentuk yang negatif. Persaingan di Singkawang justru muncul dalam bentuk budaya tanding di mana etnik dan agama lain tampil dalam sebuah aktivitas budaya yang sama besar.

Persaingan tersebut berhasil meningkatkan keragaman budaya dan menambah akivitas budaya masyarakat Singkawang sehingga makin menarik minat wisatawan. Dalam batas tertentu, agama memang telah menjadi spesifik bagi kelompok etnis atau komunitas tertentu, tetapi sangat jarang terjadi di Singkawang.

Letak Geografis

Kota Singkawang terletak di Provinsi Kalimantan Barat dan termasuk dalam golongan kota kecil sebab hanya memiliki luas sebesar 50.400 ha. Singkawang dibagi menjadi lima wilayah kecamatan dengan 26 kelurahan.

Nama Singkawang menurut versi Melayu diambil dari nama tanaman ‘Tengkawang’ yang terdapat di wilayah hutan tropis. Tapi, yang paling diyakini adalah versi bahasa Cina, bahwa Singkawang berasal dari kosa kata ‘San Keuw Jong’ yang secara harfiah berarti Gunung Mulut Lautan. Artinya adalah suatu tempat yang terletak di kaki gunung yang menghadap ke laut.

Pada 1981, Singkawang berkedudukan menjadi Kota Administratif Singkawang dan menjadi Daerah Otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor: 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang.

Baca Juga :  Sebaiknya Umat Muslim Tak Perlu Debat Soal Mengucapkan Selamat Natal

Kehidupan masyarakat Kota Singkawang adalah multietnis sebab terdiri dari tiga etnis terbesar. Tiga etnis tersebut adalah Tionghoa (Cina), Melayu dan Dayak. Selain tiga etnis tersebut, suku-suku lainnya pun hidup secara berdampingan dan harmonis. (Baca: Tiga Tips dalam Islam untuk Menyikapi Perbedaan)

Meski ada pendatang dari berbagai daerah lain seperti Madura, Sumatera, Sulawesi, Ambon dan sebagainya, Singkawang tidak rentan konflik. Keragaman sangat terasa sebab dalam suatu wilayah kelurahan di Singkawang, hampir semua etnis dan agama ada di dalamnya.

Lantaran keberagaman tersebut, tak mengherankan apabila Singkawang dinobatkan sebagai salah satu kita paling toleran di Indonesia.

Bentuk-bentuk Toleransi

Di Singkawang, hubungan antaranggota warga atau tetangga yang didasari oleh persamaan atau perbedaan agama tidak terlalu menonjol jika dibandingkan faktor budaya etnis. Latar belakang etnis yang beragam sangat berpengaruh dalam mendasari budaya atau perilaku umum warga Singkawang yang rukun bertetangga.

Toleransi di Singkawang terlihat dari perayaan-perayaan keagamaan dan adat yang begitu beragam berlangsung di Kota Singkawang. Warga Tionghoa di Singkawang baik yang beragama Buddha atau Khonghucu bisa melaksanakan tradisi Imlek dan Cap Go Meh, serta tradisi lainnya secara terbuka. Perayaan tersebut bahkan berhasil menjadi daya tarik wisatawan.

Selain itu, kegiatan umat Islam seperti pengajian, maulidan, dan peringatan hari besar Islam lain bisa dijalankan dengan lancar di Singkawang. Sementara itu, untuk umat Nasrani, baik yang Katolik atau yang Kristen juga bisa melaksanakan kegiatan Natal dan peringatan keagamaan lainnya dengan baik.

Tidak berlebihan apabila Singkawang dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia. Sebab, Singkawang adalah saksi dari pembauran antara agama dengan tradisi budaya. Hal tersebut terjadi dalam upacara keagamaan katolik dan beberapa tarian adat Dayak yang menjadi bagian dari upacara keagamaan.

Baca Juga :  Membongkar "Mitos Pluralisme di NU": Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [2]

Di Singkawang, dalam agama Budha dan Khonghucu, hampir tidak lagi dikenali antara aktivitas tradisi budaya etnis Tionghoa dengan aktivitas keagamaan Budha atau Khonghucu. Hal ini disebabkan karena adanya asimilasi yang sangat kuat antara agama dan budaya yang menyebabkan Singkawang menjadi kota paling toleran di Indonesia.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here