Sudah Ada Sikat Gigi, Haruskah Tetap Memakai Kayu Siwak untuk Dapat Sunnah Nabi?

1
1130

BincangSyariah.Com – Islam adalah agama yang mencintai dan mengajarkan kebersihan dan kesehatan. Hal ini setidaknya dipahami dari ketentuan al-Qur’an dan hadis, seperti “dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih (at-Taubah (9): 108).” Rasulullah saw. bersabda: an-nadhafah min al-iman (Baca: Kebersihan adalah sebagian dari iman, hadis atau bukan?). Salah satu bentuk ajaran Islam yang secara nyata mengarah kepada kebersihan dan kesehatan adalah siwak. Ajaran siwak ini disebutkan secara nyata dalam hadis, yaitu: “seandainya tidak memberatkan umatku, maka aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak mengambil wudu.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik, Ahmad dan an-Nasa’i yang disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Bulug al-Maram min Adillah al-Ahkam, 8). Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis lain dengan redaksi sedikit berbeda, yaitu: “seandainya tidak memberatkan umatku, maka aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak melaksanakan salat” (Abu Bakr al-Hishni, Kifayah al-Akhyar fi Hall Gayah al-Ikhtishar, I: 17).

Berdasarkan hadis tersebut jumhur ulama sepakat bahwa hukum bersiwak adalah sunah. Sedangkan sebagian ulama lain menganggap hukum bersiwak adalah wajib (ash-Shan‘ani, Subul as-Salam, 1997, I: 87). Menurut Abu Bakr al-Hishni, hukum bersiwak adalah sunah berdasarkan hadis: “siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan rida Tuhan.” Ia dianjurkan dalam segala hal, terutama sekali dalam tiga hal: pertama, ketika kondisi mulut berubah, baik karena diam, makan, maupun lainnya; kedua, bangun tidur; dan ketiga, ketika hendak melaksanakan salat.

Namun, apabila sedang berpuasa dan sudah memasuki waktu siang hari (Zuhur), maka para ulama fikih berbeda pendapat. Menurut pendapat yang paling diutamakan dalam mazhab asy-Syafi‘i, Muslim yang sedang berpuasa makruh bersiwak setelah waktu Zuhur sampai Magrib. Adapun sebagian ulama lain (seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal) memperbolehkan Muslim yang berpuasa bersiwak, baik di waktu pagi, siang, sore, maupun petang. Pendapat ini diunggulkan dan diamini oleh Imam an-Nawawi (Kifayah al-Akhyar, hlm. 16-17).

Baca Juga :  Belajar dari Kuburan

Adapun siwak sendiri dalam literatur Arab diartikan sebagai: “potongan kayu yang diambil dari kayu arak dan sejenisnya yang digunakan untuk bersiwak (menggosok gigi)” (Mu‘jam al-Wasith, 2004: 465). Menurut Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, siwak (sugi) adalah suatu benda yang kesat penggosok gigi, di mana Rasulullah saw. biasa bersugi menggunakan kayu arak (Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992: 864). Sementara Ahmad Warson Munawwir menyebutnya sebagai sikat gigi (al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, 1984: 727).

Dari beberapa penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa siwak adalah sikat gigi yang digunakan untuk membersihkan mulut, baik menggunakan ranting pohon, kain, jari, maupun lain sebagainya. Adapun dalam konteks sekarang siwak bisa diterjemahkan dengan sikat gigi yang menggunakan pasta sebagaimana diketahui dan digunakan secara konvensional.

Oleh karena itu, ketentuan hadis siwak tersebut tidak harus diikuti secara legal-formal (thariqah lafzhiyyah lugawiyyah) sebagaimana yang tercantum, tetapi bisa dipahami secara substansial-kontekstual (thariqah lafzhiyyah ma‘nawiyyah). Sehingga pemahaman siwak tidak hanya berkutat kepada kayu arak yang digunakan oleh Nabi saw., tetapi (untuk konteks sekarang) bisa berupa sikat dan pasta gigi konvensional (siwak modern). Adapun waktunya tidak harus setiap kali berwudu, salat, dan lain sebagainya, tetapi sesuai dengan situasi dan kondisi yang menghendaki. Minimal dua kali dalam sehari-semalam (pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur), sebagaimana dianjurkan oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).

Dalam hal ini, Yusuf al-Qaradhawi menawarkan beberapa langkah dalam memahami hadis. Salah satu langkahnya adalah membedakan antara sarana (wasilah) yang bisa berubah dengan tujuan (maqashid) yang bersifat kekal.

Dalam konteks siwak, Yusuf al-Qaradawi lebih menjadikan siwak sebagai sarana yang bisa berubah daripada tujuan yang bersifat kekal. Hal ini karena fungsi siwak itu sendiri adalah membersihkan gigi untuk memenuhi tujuan tertentu, yaitu membersihkan mulut. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda: “siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan rida Tuhan.”

Baca Juga :  Hukum Bersiwak Tidak Satu, Ini Empat Hukum Bersiwak

Pendapat ini diperkuat dengan beberapa pendapat para ulama fikih klasik, seperti kalangan mazhab Hanbalî. Menurut mereka, alat yang bisa digunakan dalam bersiwak adalah perkara yang tidak membahayakan dan menyakiti mulut, seperti kayu arak, tandan kurma, zaitun, lain sebagainya.

Oleh karena itu, alat-alat lain yang bisa membahayakan dan menyakiti mulut makruh digunakan dalam bersiwak. Selain itu, alat yang bukan selain kayu tidak boleh digunakan untuk bersiwak. Sementara kalangan mazhab Hanafi berpendapat bahwa semua alat yang bisa menghilangkan kotoran dan bau mulut boleh digunakan untuk bersiwak, seperti kain, dan jari-jemari.

Dengan demikian, menurut Yusuf al-Qaradawi, dalam konteks sekarang ini alat yang bisa digunakan oleh Muslim dalam bersiwak adalah sikat dan pasta gigi, seperti setelah makan dan hendak tidur. Sehingga sikat dan pasta gigi tersebut sudah mewakili kayu arak pada zaman Rasulullah saw. (Kaifa Nata‘amal ma‘a as-Sunnah an-Nabawiyyah, 2002: 161-162).

Artinya, Muslim yang membersihkan giginya menggunakan sikat dan pasta gigi sudah mengikuti dan melaksankan sunah Rasul, yaitu bersiwak. Sehingga dia tidak hanya mendapatkan kebersihan dan kesehatan mulut, tetapi juga mendapatkan pahala mengikuti sunah Rasul.

Selain itu, kandungan hadis siwak tersebut sangat relevan dan sejalan dengan ketentuan al-Qur’an yang mengajarkan dan mencintai kebersihan dan kesehatan. Sehingga ia sangat penting diperhatikan dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ia memberikan efek yang sangat positif kepada umat Islam, khususnya mengenai kebersihan dan kesehatan mulut dan gigi yang tentunya akan berimplikasi kepada kesehatan tubuh secara umum.

Mengingat penulis sering menjumpai orang-orang kampung sakit gigi. Bahkan gigi mereka cepat rusak atau keropos. Diketahui mereka memang jarang atau bahkan tidak pernah membersihkan giginya, baik menggunakan siwak klasik maupun siwak modern (sikat dan pasta gigi).

Baca Juga :  Zakat sebagai Simbol Ketundukan Politik di Era Negara Madinah

Namun demikian, selain memperhatikan aspek lahir siwak klasik dan modern tersebut, juga penting memperhatikan aspek batinnya. Artinya, siwak tidak hanya berfungsi membersihkan dan menyehatkan mulut dan gigi secara lahiriah, tetapi juga berfungsi membersihkan dan menyehatkan mulut secara batin.

Salah satu bagian aspek batin di sini adalah menghindarkan mulut memakan dan meminum perkara-perkara yang diharamkan oleh syariat Islam, seperti hasil korupsi, merampok, mencuri, menipu, dan lain sebagainya; dan menghindarkan mulut dari perkataan-perkataan kotor, fitnah, janji palsu, kebohongan (hoaks), provokasi, dan ucapan-ucapan yang menyakiti dan tidak berguna lainnya.

Sebab, salah satu faktor yang bisa menghacurkan ketenangan dan kehidupan seseorang adalah adalah makanan-makanan yang dimakan (seperti hasil mencuri, menipu, merampok, dan korupsi) dan ucapan-ucapan buruk yang dilontarkan. Dalam hal ini, rusaknya mulut atau ucapan tersebut biasanya merupakan efek dari rusaknya jiwa.

Menurut Sayyidina Abu Bakar ra., kalau seseorang rusak lisan(mulut)nya, semisal suka melecehkan, menghina, memfitnah, berdusta, berkata kotor, maka menangislah jiwa manusia. Namun, apabila hati(jiwa)nya yang rusak, semisal riya, zalim, sombong, tamak, maka menangislah para malaikat (Imam Nawawi al-Jawi, Syarh Nasha’iḥ al-‘Ibad, hlm. 6).

Dengan demikian, setiap Muslim dianjurkan bersiwak secara lahir dan batin. Sehingga seorang Muslim belum dikatakan bersiwak secara sempurna apabila belum bisa menahan dan menghindarkan mulutnya dari perkara-perkara buruk meskipun secara lahir dia senantiasa bersiwak. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

1 KOMENTAR

  1. Sy sih sehari2 tdk pake siwak. Tp klo ditanya: “Mana lbh afdol siwak ato pasta gg?” Jujur ht nurani jawab “siwak”. Krn siwak alami dan mengandg zat2 yg dibutuhkn gg & mulut. Sdg past gg olahan kimiawi yg PASTI mengandg ditergen, pengawet, dan zat2 lain, yg jls miliki efek samping.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here