Sikap Umar bin al-Khattab Saat Menghadapi Wabah

0
1986

BincangSyariah.com- Sebagai khalifah ke-2, Umar bin al-Khattab dikenal dengan pribadi yang tegas, berprinsip, sekaligus memiliki perasaan yang kuat. Disebutkan dalam sebuah riwayat atsar sahabat Nabi, bahwa pada masa kepemimpinannya, Umar memiliki tugas untuk melakukan kunjungan kerja ke Syam.  Kisah ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari. Diceritakan dari Abdullah bin Abbas, bahwa suatu ketika Umar bin Khattab hendak bepergian ke Syam (Syira, sekarang). Ketika berada di daerah Sargh, suatu desa yang berbatasan dengan lembah tabuk dekat Syam,

Tatkal akan sampai di daerah Syam, Umar justru bertemu dengan beberapa orang pimpinan panglima (umara’ al-Ajnad). Yaitu Abu Ubaidah ibn al-Jarrah dan teman-temannya seperti Khalid bin al-Walid, Surahbil bin Hasanah, Amru bin Ash. Lalu mereka mengatakan sedang ada wabah penyakit saat itu.

Timbul perbedaan pendapat di kalangan sahabat kala it. Generasi kaum Muhajirin pertama berpendapat bahwa sebaiknya berdoa semoga wabah tersebut hilang dan Umar tetap melanjutkan urusannya di Syam. Oleh karenanya tidak patut untuk membatalkan perjalanan tersebut.

Khalifah Umar tidak sendirian. Ia meminta pendapat sahabat yang lain sebaiknya menetap, kembali atau tetap melanjutkan perjalanan. Ia bertanya kepada Kaum Anshar Madinah. Beberapa sahabat mengatakan bahwa Umar sebaiknya menghentikan niat perjalanan tersebut. Ada salah seorang berkata kepada Umar “Memang Khalifah punya urusan ke Syam, namun kami berpendapat agar tidak mendatanginya.” Jelas sejumlah pemimpin Qurays saat itu.

Setelah mendengar saran dan masukan tersebut. Lalu Umar memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Namun di tengah perjalanan, ada salah seorang Sahabat Abu Ubaidah, -karena kedatangannya yang terlambar saat musywarah-, bertanya kepada Umar.

“Apakah engkau ingin lari dari ketentuan Allah? Tanya Abu Ubaidah ibn Jarrah kepada Khalifah Umar.

Baca Juga :  Dari Mana Asal-Usul Doa Li Khomsatun Penolak Wabah? Ini Sejarahnya

Khalifah Umar dengan enteng menjawab bahwa rombongnnya memang melarikan diri dari ketentuan Allah. “Kami lari dari ketentuan Allah menuju ketentuan Allah yang lain.” tampaknya sahabat Abu Ubaidah tidak menerima pernyataan tersebut. Umar memberikan penjelasan tentang keputusannya. Aku bertanya kepadamu, “Apakah jika kamu punya unta (hewan ternak) kamu memilih untuk menggembala di dekat yang dataran hijau atau memilih yang tandus”? demikianlah ketentuannya.

Dari keputusan Umar ini, beberapa sahabat kembali ke Madinah dan menghentikan niat untuk melakukan aktivitas di Syam. Lalu Umar pun mengucapkan Hamdalah atas ijtihad (keputusan) yang disetujui oleh para sahabatnya.

Dalam syarah atsar di atas, Badrudin ‘Aini mengatakan bahwa dari kasus wabah di atas bisa diambil pembelajaran. Adanya penyakit wabah harus dihindari dan diperlukan berbagai usaha untuk melindungi diri. Karena akibatnya jika tidak, dikhawatirkan wabah akan menyebar dan berdampak kepada orang lain. dan sikap Umar bin Khattab menunjukkan kepekaannya terhadap kondisi masyarakat yang khawatir akan virus dan melakukan langkah yang tepat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here