Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Sang Penyair dan Pejuang di Medan Laga

1
911

BincangSyariah.Com – Perempuan di Zaman Rasulullah Saw sama sekali tidak dikerdilkan perannya di ruang publik. Bila ada pandangan bahwa dalam islam perempuan diposisikan untuk membantu tugas laki-laki dan duduk diam di rumah, maka pandangan ini perlu diluruskan. Kita bisa membaca catatan sejarah tentang Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah Saw yang ikut mengangkat senjata ketika tenaganya dibutuhkan. Kedudukan Shafiyyah sebagai prajurit setara dan sederajat dengan peran para sahabat laki-laki saat itu.

Selain itu, para sejarawan juga mencatat beberapa syair milik Shafiyyah yang menandakan kemampuan intelektualnya tidak diragukan pada masanya. Seperti apa kisahnya? Artikel ini akan mengulas sedikit banyak tentang sosok Shafiyyah bin Abdul Muthalib, yang duduk di samping Rasulullah ketika sakaratul maut dan mendapatkan pesan dari Baginda Nabi Saw.

Latar Belakang Keluarga

Shafiyyah adalah anak perempuan dari pasangan Abdul Muthalib dan Halah binti Wahib. Menurut Ibnu al-Atsir dalam Usdul Ghabah fi Ma’rifat al-Shahabah Shafiyyah lahir pada tahun ke-53 sebelum hijrah, artinya 10 tahun lebih tua dibandingkan Nabi Muhammad Saw. Lahir dan tumbuh dari keluarga terpandang membentuk kepribadianya sebagai perempuan yang mandiri, pemberani dan berkarakter.

Setelah cukup dewasa Shafiyyah dewasa menikah dengan al-Harits bin Harb. Dari pernikahan ini Shafiyyah dikaruniai anak perempuan bernama Shabqa. Tidak ada keterangan terkait bagaimana pernikahan Shafiyyah dengan al-Harits ini berakhir, apakah karena cerai atau ditinggal mati. Setelah dengan al-Harits, Shafiyyah menikah dengan al-‘Awwam bin Khuwailid dan dikaruniai tiga orang putra: Zubair, Saib, dan Abdul Ka’bah. Al-‘Awwam bin Khuwailid menjadi korban pada perang fujjar atau fijar, perang yang juga diikuti Nabi Muhammad Saw ketika usianya sektar dua puluh tahun (Perang Fujjar).

Muslimah di Masa Awal

Menurut beberapa catatan para sejarawan semisal Syamsuddin al-Dzahabi, ibnu al-Atsir, dan Ibnu Sa’ad, Shafiyyah merupakan satu-satunya bibi Nabi Saw yang masuk Islam. Ia masuk Islam setelah saudaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, sebelum Nabi Saw dan umat muslim awal sering berkumpul di rumah Arqam bin Abi al-Arqam.

Ketika umat Islam terdesak karena persekusi dan diskriminasi semakin menjadi-jadi, Shafiyyah termasuk dalam satu di antara perempuan yang ikut hijrah ke Habasyah untuk mencari suaka. Demi membela agamanya, Ia rela meninggalkan kampung halaman meskipun tidak lagi berusia muda.

Setelah Nabi Saw memutuskan untuk hijrah ke Yatsrib, Shafiyyah pun ikut bergabung menyusul Nabi. Bersama putranya Zubair, Shafiyyah menempuh jarak ribuan kilometer dari Habasyah ke Madinah al-Munawwarah. Sungguh perjuangan yang sulit bagi perempuan seusia Shafiyyah.

Ikut Berjuang di Garda Depan  

Al-Waqidi dalam bukunya al-Maghazi menuliskan bahwa Shafiyyah binti Abdul Muthalib ikut serta dalam berbagai peperangan sebagai tim pembantu. Dalam Perang Uhud  yang mengakibatkan kekalahan pasukan muslim, Shafiyyah bergegas meraih tombak untuk menghalau musuh yang hendak menghampiri Nabi Saw seraya mencela sebagian pasukan muslim yang lari meninggalkan Nabi. Inilah keberanian yang ditunjukkan Shafiyyah.

Dalam catatan Ibnu Sa’ad melalui bukunya al-Thabaqat al-Kubra, pasca perang Uhud yang mengakibatkan jasad Hamzah bin Abdul Muthalib tercabik-cabik, Shafiyyah berupaya menghampiri mayat Hamzah sambil membawa kain dengan tekad mengkafaninya. Nabi Saw memerintahkan Zubair bin Awwam, sang anak, untuk membujuk Shafiyyah untuk kembali ke Madinah agar tidak melihat jenazah Hamzah.

“Mengapa aku diminta kembali? Aku mendapat kabar jenazah Hamzah disayat-sayat, ini di jalan Allah, aku sabar dan ridha,” ujar Shafiyyah kepada anaknya. Mengetahui bahwa Shafiyyah tetap tabah, Rasulullah meminta Zubair agar membiarkan ibunya.

Menurut catatan Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah Shafiyyah juga turut membantu pasukan muslim dalam perang Khandaq dengan memantau benteng pertahanan Madinah. Shafiyyah pun ikut dalam perang di Bani Quraizah dan perang Khaibar.

Sang Penyair

Selain berkontribusi dalam berbagai urusan publik masyarakat muslim pada waktu itu, Shafiyyah juga dikenal sebagai penyair yang handal. Hal ini membuktikan bahwa ia merupakan sosok perempuan intelektual yang mampu setara dengan laki-laki. Tercata dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala bahwa ketika Rasulullah Saw wafat Shafiyyah menuliskan syair atas kesedihannya yang mendalam:

عَيْنُ  جُوْدِي بِدَمْعَةٍ وَسُهُوْدِ … وَانْدُبِي خَيْرَ هَالِكٍ مَفْقُودِ

Deras air mataku mengalir. Kesedihanku menghancurkan, ditiadakan.

وَانْدُبِي المُصْطَفَى بِحُزْنٍ شَدِيْدٍ … خَالَطَ القَلْبَ فَهُوَ كَالمَعْمُوْدِ

Wafatnya al-musthafa adalah puncak kehilangan. Hati campuraduk, tak menentu.

كِدْتُ أَقْضِي الحَيَاةَ لَمَّا أَتَاهُ … قَدَرٌ خُطَّ فِي كِتَابٍ مَجِيْدِ

Takdir yang telah ditentukan ini, hampir saja membunuhku.

فَلَقَدْ كَانَ بِالعِبَادِ رَؤُوْفاً … وَلَهُمْ رَحْمَةً وَخَيْرَ رَشِيْدِ

Telah nyata kasih bagi hamba-hamba-Nya dengan rahmat dan petunjuk.

 رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حَيّاً وَمَيْتاً … وَجَزَاهُ الجِنَانَ يَوْمَ الخُلُوْدِ

 Allah meridhainya. Balasan surga di kehidupan kekal.

Wafat di Masa Kekhalifahan Umar bin Khattab

Menurut catatan Ibnu Sa’ad dan juga Syamsuddin al-Dzahabi Shafiyyah binti Abdul Muthalib wafat pada tahun 20 H di masa Umar bin Khattab sebagai khalifah di Madinah. Jenazahnya dimakamkan di Baqi’.

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here