Serbuan Caci-Maki pada Tokoh Besar

0
730

BincangSyariah.Com – Rektor yang kerap dilawan oleh mahasiswa, kiai yang diuji lewat santrinya, atau pejabat Negara yang kerap dimusuhi segelintir masyarakat adalah contoh tiga tokoh besar yang menanggung luka dalam menjalankan tugas dan amanahnya. Sebut saja pak Jokowi, ia yang kerap menjadi ejekan hingga caci dan maki hinaan sejak menjabat Wali Kota Solo hingga kini menjadi presiden.  Atau masih ingatkah dengan kisah Gus Dur yang disumpah-serahi dan dibenci oleh sebagian orang saat menapaki jalan menuju cita-cita besarnya?

Rupanya , serbuan caci dan maki pada tokoh besar itu sudah  banyak tercatat dalam sejarah kehidupan. Tokoh besar biasanya menuai dualitas yang paradoks, dikagumi dan dicaci-maki dalam waktu yang bersamaan. KH Husein Muhammad dalam karyanya “Samudera Kezuhudan Gus Dur” menuliskan bahwa Ka’ab al Ahbarm, seorang ahli tafsir dari berbagai kitab suci berkata:

ما كان رجل حكيم في قومه قط الا بغوا عليه وحسدوه

Tidak ada tokoh  bijak di sebuah komunitas, kecuali selalu saja ada orang-orang (kelompok) yang dengki dan mencaci-makinya

Jika menengok pada hari-hari sekarang, banyak dari mereka yang menghina, membenci, membid’ahkan, mengkafirkan sosok ulama atau tokoh besar. Atau bahkan sebagian kelompok  berkinginan untuk melenyapkan tokoh besar. Kejadian-kejadian tersebut kerap menghiasi layar televisi, surat berita, dan media sosial yang viral dimana-mana.

Menurut Syekh Abdullah Sahl al Tustari, orang-orang yang gemar  mencaci-maki dan mengklaim dirinya sebagai orang yang paling benar itu sesungguhnya adalah orang-orang yang fobia dan gelisah atas ketidakberdayaan dirinya sendiri. Keterangan tersebut termaktub dalam keterangan kitab al Burhan fi Ulum al Qur’an karya Badruddin Muhammad ibn Abdullah az Zarkasyi.

Fanatisme, radikalisme atau eksterisme adalah bentuk gaya berfikir yang lari dari ketidakpastian dan kebingungan yang akut, dari kecemasan yang menghantui, dan dari rasa ketidakmampuan untuk mengatasi. Seperti itulah yang menjadikan salah satu alasan-alasan dasar mereka menyerbu tokoh besar dengan caci-maki.

Baca Juga :  Abdullah bin Bayah: Pelopor Moderasi dan Perdamaian

Tentunya serbuan cai dan maki pada tokoh besar tidak akan membuat gentar hatinya. Justru senakin mengukuhkan kebesarannya dan meneguhkan perjuangannya. Luka dan hal-hal lain yang tidak mengenakkan itu bisa menjadi vitamin sehat dalam hidupnya. Layaknya cerita para Nabi di masa lalu, yang selalu beriringan dengan luka dan lara perlawanan.  Seperti yang dikatakan Syekh Jalaluddin as Suyuthi, yang dituliskan Zaki Mubarok dalam karyaya at Tasawuf al Islami fi al Ada wa al Akhlak:

ما كان كبير في عصر قط لا كان له عدو من السفلة إذ الاشراف لم تزل تبتلى بالاطراف فكان لادم إبليس وكان لنوح حام وغيره وكان لداود جالوت واضرابه وكان لسليمان صخر وكان لعيسي بختنصر وكان لايراهيم النمرود وكان لموسى فرعون وهكذا الى محمد صلى الله عليه وسلم فكان له ابو جهل

Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman, kecuali dicaci maki oleh orang-orang bodoh, orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu, Nabi Adam dilawan oleh iblis. Nabi Nuh dilawan oleh Ham dan lainnya. Nabi Daud dimusuhi Jalut dan pasukannya. Nabi Sulaiman dilawan oleh Sakhr. Nabi Isa dilawan oleh Bukhtashir. Nabi Ibrahim dilawan oleh Namrud smpai Nabi Muhammad dilawan oleh Abu Jahal.

Pemaparan di atas semakin meneguhkan bahwa orang-orang dan tokoh besar itu harus rela menanggung luka dan caci-makian dengan sabar dan tetap tangguh. Caci dan maki bukanlah sesuatu yang bisa menggetarkan hatinya, justru itulah yang membuat orang-orang dan tokoh besar semakin kokoh dan teguh, hingga banyak simpati yang didapatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here