Sepatu Butut Abu Qasim

2
2474

BincangSyariah.Com- Di kota Baghdad terdapat seorang laki-laki bernama Abu Qasim. Ia memiliki satu sepatu yang dipakainya selama tujuh tahun. Ketika sepatunya robek, ia akan menambalnya, begitu seterusnya hingga sepatu itu menjadi sangat berat karena banyaknya tambalan–tambalan di berbagai sisi.

Suatu hari Abu Qasim pergi ke tempat pemandian umum. Dan salah satu dari teman-temannya menyindir Abu Qasim; ”Semoga engkau segera terbebas dari sepatumu ini, bukankah kamu memiliki banyak harta, apa susahnya membeli sepatu yang baru”. Mendengar perkataan temannya itu, Abu Qasim malu, “Kamu benar kawan, aku akan membeli sepatu baru dengan izin Allah.”

Ketika Abu Qasim akan keluar dari pemandian umum tersebut, ia melihat ada sepatu yang baru didekat sepatu lamanya. Ia mengira, seseorang dengan kedermawanannya telah rela membelikan sepatu baru untuknya. Ia pun memakai sepatu baru itu lalu pulang ke rumahnya.

Ternyata sepatu baru itu adalah milik seorang hakim, yang juga sedang mandi di tempat pemandian umum itu. Ketika sang hakim selesai mandi, ia mencari sepatu miliknya. Nihil. Tidak ada sepatunya.

“Pasti orang yang memakai sepatuku adalah orang yang telah meninggalkan sepatunya.” Ia terus mencari, namun tidak juga ia temukan, kecuali sepatu miliki Abu Qasim yang telah masyhur di seluruh antero kota Baghdad.

Sang hakim pun menyuruh ajudan-ajudannya pergi ke rumah Abu Qasim. Dan mereka mendapatkan sepatu tuannya disana. Dengan sigap merekapun menangkap Abu Qasim dan menggelandangnya ke hadapan sang Hakim.

Sang Hakim yang murka memukul Abu Qasim. Bahkan kasus ini dibawanya ke ranah hukum. Abu Qasim pun harus rela masuk penjara dan membayar sejumlah uang sebagai ganti rugi.

Dengan dipenjaranya Abu Qasim membuat ia sangat murka kepada sepatu bututnya. Setelah bebas, ia pun berniat untuk melempar jauh sepatunya yang membuatnya apes itu ke dasar sungai. Lega. Itulah yang dirasakan Abu Qasim saat ini.

Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang ingin memancing di sungai itu. Setelah jala dilemparnya, bukan ikan yang ia dapatkan, tetapi sepatu butut yang telah ia kenali. Sepatu Abu Qasim.

Orang itu pun pergi ke rumah Abu Qasim. Tapi tak ada seorang pun di dalamnya. Sepi. Ia pun memandang sekeliling rumah Abu Qasim, dan melihat jendelanya terbuka, tanpa pikir panjang ia melemparkan sepatu butut Abu Qasim ke dalam rumahnya. Dan lemparan itu mengenai kaca lemari Abu Qasim dan pecah.

Ketika Abu Qasim datang ke rumahnya, sontak ia dikagetkan dengan kembalinya sepatu bututnya. Tidak hanya itu lantai rumahnya pun dipenuhi pecahan kaca. Abu Qasim yang sudah tidak tahan lagi menerima kesialan sepatu bututnya pun menangis. Bahkan menampari pipinya sendiri sembari mengucap sumpah serapah untuk sepatu bututnya. Abu Qasim Stres.

Malam ini Abu Qasim berpikir keras untuk menjauhkan dirinya dengan sepatu butut miliknya. Abu Qasim pun bangkit dan menuju samping rumahnya untuk menggali lubang. Ia ingin mengubur sepatut bututnya yang selalu membawa sial.

Namun suara galian Abu Qasim terlalu kencang, hingga terdengar oleh tetangganya yang mengira ada seseorang yang akan merobohkan rumahnya.

Tidak terima dengan perlakuan Abu Qasim, tetangganya pun segera membawa kasus ini ke pengadilan. “Kenapa kamu berusaha untuk merobohkan tembok tetanggamu?,” sidang sang Hakim kepada Abu Qasim. Dan kasus ini berakhir dengan masuknya Abu Qasim ke dalam jeruji penjara, namun ia dapat terbebas setelah membayar denda.

Agar sepatu bututnya jauh dari pandangan manusia, Abu Qasim pun menaiki atap rumahnya dan meletakkan sepatu bututnya disana. Tak disangka gerak gerik Abu Qasim dilihat oleh seekor anjing yang kemudian membawa sepatu itu dan menyebrangi atap rumah-rumah yang lainnya.

“Brukk” sepatu itu jatuh dari gigitan anjing dan mengenai kepala seorang laki-laki hingga terjadi luka yang sangat parah. Orang-orang yang melihat tragedi ini pun mencari pemilik sepatu butut tersebut. Dan tanpa disangsikan lagi, mereka sudah tahu sepatu butut itu adalah milik Abu Qasim.

Kasus ini berujung ke meja pengadilan. Sang hakim memutuskan hukuman bagi Abu Qasim. Yaitu membayar biaya pengobatan korban dan memenuhi segala kebutuhan korban selama sakit. Setelah itu harta Abu Qasim pun habis tak bersisa.

Frustasi dengan nasib yang ia alami. Abu Qasim pun pergi ke seorang hakim. “Aku ingin tuan Hakim menulis kebebasan secara hukum antara aku dan sepatuku ini. Sepatu itu bukan milikku lagi, dan aku tidak memiliki sepatu itu. Dan sungguh masing-masing dari kita (aku dan sepatuku) terbebas antara satu dengan yang lainnya. Apa yang sepatuku lakukan, maka aku tidak boleh dituntut lagi karena hal itu.” Mendengar curahan hati Abu Qasim, sang Hakim pun tertawa dan melakukan apa yang Abu Qasim inginkan.

 

*Diterjemahkan dari kitab al-Arabiyyah lil Nasyiin juz 5 yang digubah dari kitab Qashash al-Arab juz 4 dengan berbagai perubahan.

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here