Seniman-Seniman di Masa Rasulullah

1
911

BincangSyariah.Com – Pernahkah kita terbersit, ada seniman-seniman di masa Rasulullah ? Mungkin, sebagian kita ada yang meyakini bahwa di masa Rasulullah kegiatan yang bernuansa seni Rasulullah Saw. hentikan karena bertentangan dengan ajaran agama. Boleh jadi, hal tersebut didasari pandangan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ والحريرَ، والخَمْرَ والمَعَازِفَ

Sungguh akan ada dari umatku nanti sejumlah kaum yang berusaha menghalalkan sutra, khamr (jenis minuman keras), dan ma’azif (alat yang mengeluarkan bunyi dan nada). (H.R. al-Bukhari)

Betul, hadisnya memang shahih diriwayatkan oleh al-Bukhari. Namun, yang perlu kita pahami adalah, Rasulullah Saw. dalam persoalan ma’azif tersebut bermaksud untuk membicarakan musik-musik yang mengarahkan pendengarnya kepada sikap lalai dari perintah Allah Swt.

Selain itu, di masa Rasulullah Saw. beliau tidak menghapus semua bentuk kesenian, jika ia tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, ada seniman-seniman di masa Rasulullah yang senantiasa mendengdangkan syair yang berisi pujian kepada ajaran Islam atau memuji perilaku-perilaku baik di masa Rasulullah Saw. maupun kebaikan di masa itu. Justru, Rasulullah Saw. di banyak kesempatan banyak mengapresiasi para seniman yang menyampaikan kebaikan, diantaranya adalah penyair.

Sejumlah seniman di masa Rasulullah Saw. yang menjadi penyair adalah diantaranya, Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Malik. Seperti dikatakan oleh Ibn Sirin, Ka’ab bin Malik dan Hasan bin Tsabit misalnya banyak membuat syair yang isinya menentang perilaku kaum kafir pada masa itu.

Hasan bin Tsabit

Nama lengkapnya Hasan bin al-Mundzir bin Haram al-Anshari al-Khazraji (berasal dari kabilah Khazraj) ini masih terhitung sebaik paman Nabi Saw. ini. Beliau dilahirkan di kota Madinah, delapan tahun sebelum kelahiran Rasulullah Saw. Saat masuk Islam, usianya sudah menginjak 60 tahun.

Sebelum masuk Islam, ia disebut sebagai penyair kabilah Khazraj (Sya’iru al-Khazraj). Dalam struktur masyarakat Arab waktu itu, para suku ada momen dimana memang saling menghadirkan penyair terbaiknya untuk saling bersyair yang berisi ejekan terhadap lawannya,. Apalagi suku Khazraj sendiri memang berkonflik tajam dengan suku Aus, keduanya merupakan suku terbesar di Madinah.

Setelah masuk Islam, ia bahkan menjadi apa yang disebut sebagai Penyairnya Nabi (Syaa’ir an-Nabi). Ciri khas syairnya terletak pada kekuatan kata-katanya dalam memuji, namun setelah masuk Islam isi syairnya diarahkan untuk memuji-memuji kebaikan Nabi Saw.

Abdullah bin Rawahah

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin Imru’u al-Qays al-Anshari. Sebelum masuk Islam pun, Abdullah bin Rawahah yang memang penduduk Madinah ini memang sudah seorang yang cerdas dan salih. Di masanya, ia adalah diantara sedikit yang mengetahui soal tulis menulis dan bisa bersyair. Di saat Nabi Saw. dan sejumlah muslim muhajirin berpindah ke Madinah, Abdullah bin Rawahah bergabung untuk masuk Islam dan sering mengikuti jihad yang dilakukan bersama Nabi Saw. Puncaknya di saat Perang Mu’tah, beliau ditunjuk oleh Nabi Saw. sebagai diantara pemimpin pengganti jika pemimpin utamanya, Zaid bin Haritsah, wafat. Nahas, Zaid dan para pemimpin pengganti, termasuk bin Rawahah, juga tewas.

Salah satu syair Abdullah bin Rawahah adalah, 

ولا تصدَّقنا ولا صلَّينا

يا رب لولا أنت ما اهتدينا

وثبِّت الأقدام إن لاقينا

فأنزلن سكينة علينا

وإن أرادوا فتنة أبينا

إن الكفار قد بغوا علينا

 

Duhai Tuhan, tanpa-Mu kami tidak bisa mendapatkan hidayah *** tidak bisa bersedakah lagi beribadah

Maka berikanlah kami ketenangan *** Kuatkanlah tekad kami saat menghadapi musuh

Sesungguhnya orang-orang kafir ingin menyerang kami *** Meski mereka menghendaki kekacauan, kami tidak akan mundur

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here