Semua Berebut Syafaat Muhammad: Dari Dunia hingga Akhirat

0
32

BincangSyariah.Com – Imam al-Bushiri dalam kasidah Burdah menyebut syafaat Muhammad Rasulullah saw. sebagai kekasih itu senantiasa diharap dalam setiap kegalauan, kesedihan, kesusahan, dan malapetaka yang mencekam. Hal ini diungkapkan secara indah, yaitu: huwa al-habibu al-ladzi turja syafa‘atuhu # li kulli hawlin min al-ahwali muqtahami. Dalam hal ini, Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki menyebutkan bahwa salah satu laku spiritual yang paling ampuh untuk mendapatkan ketenangan adalah memperbanyak baca shalawat kepada Rasulullah saw. (Abwab al-Faraj, 2007: 226).

Bahkan Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki menegaskan dalam salah satu ceramahnya bahwa tidak ada sesuatu yang lebih ampuh melebihi salawat untuk menghilangkan kegalauan, kesedihan, kesusahan, dan bencana, melapangkan hati, menolak bala dan kejahatan, dan mendatangkan rezeki.

Oleh karena itu, beliau mengajak masyarakat Muslim agar memperbanyak baca salawat dan salam. Dalam hal ini, seseorang tidak perlu guru, ijazah, dan tata cara tertentu dalam membaca salawat. Sebab, Allah telah memberikan ijazah secara umum kepada seluruh manusia untuk membaca salawat-salam kepada Rasulullah saw., sebagaimana diabadikan dalam al-Ahzab (33): 56.

Ketika Rasulullah saw. masih hidup, maka banyak orang yang meminta pertolongan kepadanya. Menurut KH. Said Aqil Siroj dalam salah satu ceramahnya, beberapa perwakilan suku Mudhar pernah mengunjungi Rasulullah saw. di Madinah untuk meminta pertolongan karena mengalami kemarau panjang dan paceklik. Oleh karena itu, Rasulullah saw. berdoa agar Allah menurunkan hujan untuk suku Mudhar. Akhirnya, sebelum mereka pulang dari Madinah, Allah sudah menurunkan hujan lebat di kampung mereka.

Dalam kesempatan lain, sela-sela jari-jari Rasulullah saw. mengeluarkan air ketika para sahabat sedang kebingungan mencari air wudu. Akhirnya, mereka berwudu menggunakan air yang mengalir dari sela-sela jari-jari Rasulullah saw. tersebut (Imam Muslim, Shahih Muslim, II: 311, penerbit al-Hidayah Surabaya). (Baca: Air Keluar dari Sela-Sela Jari Nabi)

Oleh karena itu, Imam al-Jazuli dalam Dala’il al-Khairat membuat redaksi salawat: allahumma shalli ‘ala man tafajjara min baini ashabi‘ihi al-ma’u an-namir. Menurut para ulama asy-Syafi‘iyyah, beberapa air yang paling utama adalah: air yang mengalir dari sela-sela jari-jari Rasulullah saw., air zamzam, air telaga Kautsar di surga, air sungai Nil Mesir, dan air sungai lainnya (KH. Thoifur ‘Ali Wafa, al-Jawahir as-Saniyyah, hlm. 23).

Baca Juga :  Kesultanan Cirebon: Kesultanan Islam Pangeran Pajajaran

Selain manusia, para binatang juga banyak yang meminta syafaat (pertolongan) Rasulullah saw. Dalam hal ini, seeokor unta pernah mencium kedua kaki Rasulullah saw. sembari mengadukan kesedihannya karena disiksa oleh tuannya. Kemudian, biawak padang pasir (adh-dhabb) meminta perlindungan kepada Rasulullah saw. ketika diburu oleh orang-orang. Di sisi lain, sebatang pohon kurma (yang pernah dijadikan tempat khotbah oleh Rasulullah saw.) menangis tersedu-sedu karena merindukan Rasulullah saw. (Mawlid ad-Diba‘i, hlm. 9 dalam Majmu‘ah al-Mawalid wa Ad‘iyyah, penerbit al-‘Aidrus Jakarta).

Macam-Macam Syafaat Muhammad Rasulullah saw. di Akhirat

Semua orang (baik umat Rasulullah saw. sendiri maupun para nabi terdahulu dan umat-umatnya) kelak di akhirat akan sama-sama memohon syafaat Rasulullah saw. yang agung dan istimewa. Sebab, tidak ada satupun orang beriman bisa memasuki indahnya surga dan menikmati segala kenikmatannya tanpa syafaat Rasulullah saw. yang mulia (Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki, Muhammad saw. al-Insan al-Kamil, 2007: 163).

Rasulullah saw. akan memberikan syafaat kepada seluruh manusia, dan merupakan orang pertama yang memberikan syafaat di akhirat mendahului para nabi dan utusan dan para malaikat yang dekat dengan Allah. Selain itu, beliau adalah orang pertama yang diterima syafaatnya oleh Allah di akhirat. Dalam hal ini, seluruh manusia akan menunggu putusan Allah di alam mahsyar sekitar empat puluh tahun lamanya menurut ukuran tahun kehidupan dunia (Syekh Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulub fi Mu‘amalah ‘Allam al-Guyub, hlm. 76-77).

Waktu itu matahari hanya berjarak sekitar satu mil dari kepala manusia dan panasnya bertambah tujuh puluh kali lipat. Mereka diam seribu bahasa sembari menatap langit dan sama-sama sibuk memikirkan keadaan dan nasib masing-masing. Oleh karena itu, mereka diliputi oleh kesusahan dan kesedihan yang luar biasa selama masa penantian tersebut (hlm. 77).

Baca Juga :  Kebijakan yang Diambil Umar bin Abd al-Aziz Usai Dilantik Sebagai Amir Al-Mu'minin

Dalam kondisi penantian yang sangat panjang dan mencekam itu, akhirnya mereka sama-sama mencari orang yang bisa memberikan syafaat agar mereka bisa beristirahat dari penantian panjang, kesusahan, dan kesedihan tersebut. Oleh karena itu, sebagian mereka menghampiri beberapa nabi, seperti Nabi Adam as., Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., dan  Nabi Isa as. untuk meminta syafaat. Namun, para nabi tersebut tidak bisa memberikan syafaat pada waktu itu (hlm. 77-78).

Akhirnya, sesuai saran Nabi Isa as., sebagian manusia tersebut menghampiri Nabi Muhammad saw. untuk meminta syafaat. Oleh karena itu, Rasulullah saw. kemudian meminta kepada Allah agar mengakhiri penantian panjang tersebut dan segera menghisab seluruh manusia. Sebab, mereka sedang merasakan kesusahan dan kesedihan yang sangat besar. Permintaan Rasulullah saw. ini langsung dipenuhi oleh Allah, di mana hal ini merupakan syafaat yang pertama di akhirat yang membebaskan manusia dari kesusahan dan kesedihan karena penantian panjang di alam mahsyar (hlm. 78).

Syafaat pertama yang diberikan Rasulullah saw. kepada seluruh manusia ini merupakan kedudukan (maqam) yang terpuji, yang dengannya beliau dipuji oleh segenap manusia dari generasi awal hingga generasi akhir. Di sisi lain, Allah sengaja tidak mengilhami para manusia agar langsung meminta syafaat kepada Rasulullah saw. sebelum beberapa nabi tersebut karena untuk menunjukkan keagungan dan kemuliaan Rasulullah saw. Dalam hal ini, mula-mula sebagian manusia tersebut menghampiri Nabi Adam as. untuk meminta syafaat, tetapi disuruh minta tolong kepada Nabi Nuh as. (hlm. 77-78).

Ketika sampai di hadapan Nabi Nuh as., mereka disuruh minta tolong kepada Nabi Ibrahim as. Namun, Nabi Ibrahim as. menyuruh mereka meminta tolong kepada Nabi Musa as. Ketika bertemu dengan Nabi Musa as., maka mereka disuruh minta tolong kepada Nabi Isa as. Namun, Nabi Isa as. menyuruh mereka meminta tolong kepada Nabi Muhammad saw. yang merupakan kekasih Allah. Akhirnya, Rasulullah saw. memberikan syafaat (pertolongan) kepada seluruh manusia yang sedang kebingungan dan kesusahan tersebut (hlm. 77-78).

Baca Juga :  Jejak Islam di Andalusia

Cerita perjuangan umat manusia mencari syafaat dari satu nabi ke nabi lain dan akhirnya mendapatkan syafaat Muhammad Rasulullah saw. di alam mahsyar ini berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim (Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani, Majmu‘ Arba‘inat fi Fadha’il Rasulillah, 2009: 41-42). Menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi, hadis tentang syafaat Muhammad Rasulullah saw. di akhirat kelak adalah mutawatir secara makna (hlm. 76).

Adapun beberapa macam syafaat Muhammad di akhirat adalah: pertama, syafaat untuk umat manusia mengenai putusan hukum di akhirat dan istirahat dari penantian panjang di alam mahsyar. Kedua hal ini merupakan syafaat yang paling besar. Kedua, syafaat untuk memasukkan sekelompok orang ke dalam surga tanpa hisab. Ketiga, syafaat untuk meringankan siksa seseorang yang kekal di dalam neraka. Ketiga syafaat ini hanya dimiliki oleh Rasulullah saw. (Tanwir al-Qulub fi Mu‘amalah ‘Allam al-Guyub, hlm. 78-79).

Keempat, syafaat untuk menggagalkan seseorang (yang telah divonis menjadi ahli neraka) masuk ke dalam neraka. Kelima, syafaat untuk mengeluarkan orang-orang beriman (mengesakan Allah) dari dalam neraka. Syafaat jenis ini dimiliki oleh para nabi, malaikat, dan orang-orang mukmin. Artinya, mereka bisa memberikan syafaat untuk mengeluarkan orang beriman dari neraka. Keenam, syafaat untuk menaikkan derajat seseorang di dalam surga (hlm. 79). Wa Allah wa A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here