Semarak Santri Milenial dan Pentingnya Narasi Akhlak Islam di Media Sosial

1
597

BincangSyariah.Com – Salah satu pelajaran yang penulis dapatkan ketika belajar dasar-dasar agama Islam di Madrasah Diniyah Nurul Jadid, Bakong, Batukerbuy, Pasean, Madura, adalah durûs al-akhlâq (pelajaran akhlak). Meskipun penulis sadar betul masih jauh dari sifat dan perilaku-perilaku (akhlak) luhur, tetapi tidak ada salahnya berbagi pengetahuan tentang keagungan akhlak dalam Islam.

Setidaknya orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut. Hal ini disebutkan dalam hadis yang pernah penulis dapatkan di Madrasah Nurul Jadid, yaitu: man dalla ‘alâ khairin fa lahû miśl ajri fâ‘ilihî (HR. Muslim). Barangkali perbuatan semacam ini termasuk bagian dari kaidah: ‘amalun yasîr wa ajrun kaśîr (perbuatannya mudah dan pahalanya berlimpah).

Penulis sadar betul bahwa keluhuran akhlak yang sangat ditekankan dalam Islam penting diviralkan secara “terstruktur, sistematis, dan masif” dalam kehidupan masyarakat Muslim milenial yang banyak berselancar bebas di dunia maya (media sosial). Mengingat belakangan tidak sedikit Muslim yang suka menebarkan kebohongan (hoaks), fitnah, suka mencaci-maki, memprovokasi anak bangsa yang secara nyata mengancam persatuan Indonesia, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya.

Bahkan beberapa waktu yang lalu sempat viral doa sebagian kelompok Muslim agar Allah melaknat pemerintah Indonesia tujuh turunan apabila mereka berbuat zalim, mengkhianati rakyat dan menyebabkan mereka sengsara. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo dan jajarannya serta para polisi. Apakah berdoa agar Allah melaknat pemerintah tujuh turunan ini mencerminkan akhlak baik yang diajarkan dalam Islam?

Baiklah, Syekh Maḥmûd Syaltût dalam Ilâ al-Qur’ân al-Karîm (1983: 5-6) menjelaskan bahwa al-Qur’an secara garis besar memiliki tiga aspek tujuan, yaitu: akidah, akhlak, dan hukum. Akidah di sini dimaksudkan untuk membebaskan jiwa manusia dari benih-benih kesyirikan dan paganisme (penyembahan berhala) dan menghubungkannya (jiwa manusia) dengan ajaran rohaniah yang bersih.

Adapun akhlak berfungsi mendidik dan membersihkan jiwa manusia, mengangkat derajat individu dan kelompok, dan mengokohkan persaudaraan dan saling menolong di antara sesama manusia. Sedangkan hukum adalah aturan-aturan dan dasar-dasar aturan yang telah dijelaskan Allah dalam al-Qur’an yang harus diikuti, baik berkaitan dengan ḥabb min allâh (hubungan dengan Allah) maupun berkaitan dengan ḥabb min an-nâs (hubungan dengan sesama manusia).

Kenyataan ini sesuai dengan tujuan umum diutusnya para rasul ke muka bumi, yaitu: mendidik, membimbing, dan membersihkan jiwa manusia, sebagaimana banyak disebutkan dalam al-Qur’an (Aḥmad ar-Raisûnî, al-Fikr al-Maqâṣidî, 1999: 19). Salah satunya adalah: “Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (al-Baqarah (2): 129).”

‘Abdullah at-Turkî menyebutkan bahwa menyempurnakan akhlak ini merupakan cita-cita paling agung dan tujuan paling penting risalah Islam. Hal ini ditegaskan dalam hadis: innî bu‘iśtu li utammima makârim al-akhlâq, yaitu Rasulullah saw. diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak (Mawsû‘ah Nadrah an-Na‘îm, 1998).

Menurut ‘Umar Barajâ’, akhlak penting diperhatikan karena berkaitan erat dengan kebahagiaan dan kesengsaraan hidup seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Akhlak yang baik akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan. Sebab, Allah akan meridainya dan memberikan tambahan iman kepadanya, memasukkannya ke dalam surga, melapangkan rezekinya, memberkati umurnya.

Baca Juga :  Adab Menghormati Guru Menurut Pengarang Ta'lim Muta'allim

Selain itu, dia akan disukai oleh keluarga dan kerabatnya serta masyarakat pada umumnya. Sehingga dia akan hidup dalam suasana cinta dan mulia di antara mereka. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an dan hadis. Dalam al-Qur’an disebutkan secara jelas bahwa “sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (asy-Syams (91): 9-10)”.

Adapun beberapa hadis menyebutkan: “perkara yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”; “mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; seorang mukmin bisa mencapai derajat orang yang selalu berpuasa dan salat malam karena akhlak baiknya” (al-Akhlâq li al-Banât, II: 4).

Sebaliknya, akhlak yang buruk akan mengantarkan seseorang kepada kesengsaraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab, imannya akan berkurang, Allah akan membencinya, memasukkannya ke dalam neraka, dan keberkahan umur dan perbuatannya akan hilang.

Di sisi lain, keluarga, kerabat, dan masyarakat pada umumnya akan membencinya. Dalam hadis disebutkan: “akhlak yang buruk adalah kesialan”. Imam Hakim berkata: “orang yang buruk akhlaknya akan sempit rezekinya dan menyiksa dirinya sendiri” (al-Akhlâq li al-Banât, hlm. 4-5).

Oleh karena itu, tidak heran apabila Syekh az-Zarnûjî menyebutkan sebuah ungkapan: “afḍal al-‘ilm ilm al-ḥâl wa afḍal al-‘amal ḥifẓ al-ḥâl (pengetahuan yang paling utama adalah pengetahuan tentang akhlak/tatakrama dan perbuatan yang paling utama adalah menjaga akhlak/tatakrama)”. Sehingga setiap Muslim wajib mempelajari ilmu akhlak (tatakarama), baik berkaitan dengan ibadah maupun berkaitan dengan muamalah (Ta‘lîm al-Muta‘alim Ṭarîq at-Ta‘allum, hlm. 4).

Dalam hal ini, menurut ‘Abdurrahman bin Mallûḥ, salah satu bagian cinta kepada Allah dan Rasulullah saw. adalah cinta kepada sesama makhluk dan bergaul secara baik (iḥsân) dengan mereka dan budi perkerti yang baik (Mawsû‘ah Nadrah an-Na‘îm). Kenyataan ini mengajak setiap Muslim harus menjalin hubungan baik terhadap Allah (ḥablun min allâh), sesama manusia (ḥablun min an-nâs), dan alam sekitar (ḥablun min al-‘âlam).

Baca Juga :  Peringati Hari Santri, Saatnya Mengumandangkan Jihad bil Qolam

Adapun beberapan contoh akhlak baik yang sangat ditekankan dalam Islam adalah: menuntut dan menyebarkan (mengajar) ilmu pengetahuan; taat kepada Allah, Rasulullah saw., pemerintah yang menyuruh terhadap ketaataan kepada Allah dan Rasulullah saw., kedua orang tua, para ulama dan pemimpin spiritual (mursyid) yang secara tulus mendidik jiwa dan pikiran manusia; berkasih-sayang kepada manusia dan binatang; berbudi luhur; menepati janji; jujur; bergaul dengan sesama manusia secara baik; mencintai kedua orang tua; amanah; memelihara diri dari perkara-perkara yang diharamkan; tawadu; istikamah (Ḥafiẓ al-Mas‘ûdî, Durûs al-Akhlâq, I).

Contoh akhlak baik lainnya adalah menjaga kehormatan; sabar (ḥilm); rukun; mengukuhkan persaudaraan; memiliki cita-cita yang kuat; sederhana; cinta tanah air; cinta kepada tetangga; menjaga kehormatan jiwa (harga diri); tawakal; malu (Ḥafiẓ al-Mas‘ûdî, Durûs al-Akhlâq, II); dermawan; dan penyayang (Ilâ al-Qur’ân al-Karîm, hlm. 6).

Beberapa akhlak terpuji tersebut telah dipraktikan secara nyata dan sempurna oleh Rasulullah saw. Sehingga tidak heran kalau Allah memuji keagungan akhlak beliau: wa innaka la‘alâ khuluqin ‘aẓîm (dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur), sebagaimana diabadikan dalam al-Qalam (68): 4.

Bahkan, menurut Siti ‘Âisyah ra., akhlak Rasulullah saw. adalah al-Qur’an itu sendiri (Mawsû‘ah Nadrah an-Na‘îm). Dengan kata lain, Rasulullah saw. telah mewujudkan ajaran-ajaran akhlak yang berada dalam al-Qur’an. Beliau adalah al-Qur’an berjalan yang sejati. Oleh karena itu, setiap Muslim yang berakhlak dengan (mencontoh) akhlak Rasulullah saw., maka dia telah berakhlak dengan akhlak yang diajarkan dalam al-Qur’an.

Dalam hal kasih-sayang kepada sesama ini, Imam Muslim meriwayatkan beberapa hadis yang sangat penting dijadikan contoh dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Hadis ini berkaitan dengan sikap Rasulullah saw. yang menolak permintaan seorang sahabat untuk mendoakan kejelekan kepada orang-orang musyrik. Beliau menjawab secara tegas: innî lam ub‘aś la‘ânan wa innamâ bu‘iśtu raḥmatan (aku diutus bukan untuk melaknat, tetapi aku diutus untuk memberikan rahmat/kasih-sayang).

Baca Juga :  Bahagia dengan Kelahiran Nabi, Abu Lahab Diringankan Siksanya

Bahkan Rasulullah saw. melarang umat Islam melaknat. Hal ini ditegaskan dalam hadis: lâ yanbagî li ṣiddîqin an yakûna la‘ânan (tidak patut bagi orang yang jujur itu suka melaknat) dan lâ yakûnu al-la‘ânûna syufa‘â’ wa lâ syuhadâ’ yawm al-qiyâmah (sesungguhnya para pelaknat itu tidak akan dapat memberi syafaat dan menjadi saksi pada hari kiamat kelak). Ketiga hadis tersebut disebutkan dalam Ṣaḥîḥ Muslim (II: 434-435) “bab larangan melaknat binatang melata dan lainnya (an-nahy ‘an la‘n ad-dawâbb wa gairihâ).

Imam an-Nawawî menyebutkan bahwa dua hadis terakhir ini berisi larangan untuk melaknat. Oleh karena itu, siapapun yang berakhlak dengan perbuatan tersebut (suka melaknat) berarti jauh dari sifat-sifat terpuji. Sebab, mendoakan sesuatu atau seseorang dengan laknat agar ia jauh dari rahmat (kasih-sayang) Allah, maka doa semacam itu bukan merupakan akhlak orang-orang mukmin.

Mengingat Allah telah menaburkan kasih-sayang ke dalam jiwa mereka. Sehingga mereka berkasih-sayang satu sama lain dan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah telah menciptakan mereka seperti bangunan yang saling mengokohkan satu sama lain dan seperti jiwa (tubuh) yang satu.

Dengan demikian, kasih-sayang seorang mukmin kepada mukmin lainnya adalah seperti kasih-sayangnya kepada dirinya sendiri. Sehingga ketika ada seorang Muslim mendoakan Muslim lain dengan kutukan (laknat), maka hal itu sama saja menjauhkan saudaranya dari rahmat Allah.

Perbuatan ini juga menunjukkan pemutusan hubungan persaudaraan dan permusuhan sesama Muslim. Padahal perbuatan ini sejatinya harus dilakukan kepada orang-orang kafir yang memang memusuhi dan memerangi Muslim, bukan kepada sesama Muslim (Ṣaḥîḥ Muslim bi Syarḥ an-Nawawî, 1930, XVI: 148).

Dari beberapa penjelasan tersebut diketahui secara jelas bahwa mencaci-maki, menebarkan kebohongan (hoaks), fitnah, memecah belah anak bangsa, dan melaknat pemerintah sampai tujuh turunan seperti yang dilakukan sebagian kelompok Muslim beberapa waktu yang lalu bukan bagian dari akhlak terpuji dalam Islam.

Beberapa perbuatan tersebut merupakan perilaku (akhlak) buruk yang sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Sehingga harus ditinggalkan dan dijauhi sejauh-jauhnya. Begitu pula dengan doa sebagian Muslim yang melaknat pemerintah tujuh turunan tersebut.

Ia adalah perbuatan bid‘ah sayyiah (buruk) yang tidak pernah dilakukan Rasulullah saw. Bahkan, meminjam istilah Imam an-Nawawî, perbuatan itu bukan merupakan akhlak orang-orang mukmin yang memang tertanam dalam jiwanya rasa cinta dan kasih-sayang kepada sesama. Wa Allâh A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here