Semarak Ramadan dan Idul Fitri di Gumi Korea Selatan

0
113

BincangSyariah.Com – Layaknya di Tanah air, Muslim Indonesia di Korea Selatan pun merasakan hal yang sama seperti mereka berada di Tanah Air. Pasalnya, masjid-masjid di Korea Selatan biasanya menyediakan takjil untuk Muslim-muslim di sana. Terlebih lagi, yang saya lihat, pengurus masjid di negeri Ginseng itu berasal dari Indonesia. Namun, mereka yang datang biasanya bukan hanya orang Indonesia, pemeluk Muslim dari negara lain, seperti Yaman, Kazakstan, India, Bangladesh, Pakistan, Malaysia, Maroko ikut menghadiri buka bersama, baik dari kalangan tenaga kerja maupun mahasiswa.

Para pengurus masjid di Koresel itu berinisiatif mengundang dai-dai dari Indonesia untuk mengisi dan memeriahkan kegiatan masjid selama bulan Ramadan. Para dai-dai tersebut didatangkan melalui organisasi yang sudah dilegalkan oleh pemerintah Korea Selatan seperti  PCINU Korea Selatan, PKPU, dan Dompet Dhuafa. Pada tahun ini, PCINU Korea Selatan mengirimkan tujuh ustaz untuk disebar ke masjid-masjid yang ada di Korea Selatan selama bulan Ramadan.

Melalui penugasan dari PCINU Korsel, perjalanan dakwah saya kali ini ditemani tujuh dai muda dari pesantren NU. Ketujuh dai tersebut adalah Kiai Mahmudi, alumni Pesantren At-Taqwa; Kiai Masdain, alumni Pesantren Darussalam; Rifqi Sururi, alumni Pesantren Al-Hikam Depok.

Kemudian ada juga Ali Fitriana, alumni Pesantren Daruttauhid Malang; Moh Azmi Alify, alumni Pesantren Lirboyo Kediri; dan Ustaz Moh. Fathurrozi dari Pesantren Al-Khoziny Buduran Sidoarjo.

Gumi dan Daegu merupakan salah satu kota yang ada di Provinsi Kyeongsangbuk-Do. Di sekitar kota Daegu terdapat 14 masjid dan musala. Ada yang sudah permanen seperti masjid Al Huda Gumi, masjid Agung Daegu dan ada juga yang masih belum permanen. Setiap bulannya, Pengurus dan jamaah masjid yang ada di sekitar Daegu melaksanakan kegiatan bulanan secara bergilir. Agendanya diisi dengan yasinan, tahlilan dan tausiyah umum, sedangkan tempatnya disesuaikan dengan masjid yang mendapatkan giliran. Mereka tergabung dalam suatu wadah organisasi yang disebut FKMID (Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia Daegu).

Baca Juga :  Relawan Medis Wanita pada Peperangan di Masa Rasulullah (1)

Iklim Korea Selatan dipengaruhi oleh iklim dari daratan Asia dan mempunyai empat musim, Ramaḍan kali ini berbarengan dengan musim semi yang secara resmi dimulai pada 6 Mei  dan berakhir pada 5 Juni. Menjalani puasa di Korea Selatan terasa berbeda dengan di Indonesia, terutama durasi puasa, Jika di Indonesia umat Islam biasa berpuasa kurang lebih 13 jam, di Korea Selatan durasi puasa Ramaḍan sekitar 15-16 jam. Lamanya durasi puasa juga mau tidak mau membuat kami mengatur pola makan agar ibadah puasa tidak mengganggu rutinitas sehari-hari. Ini terlebih lagi dirasakan tenaga kerja Indonesia yang beragama Islam, mereka harus benar-benar bisa membagi waktu dengan baik karena lama kerja mereka di Korea itu rata-rata memakan waktu 12 jam setiap hari.

Muslim Indonesia di Korea Selatan memanfaatkan rentang waktu  berbuka sekitar 6 hingga 7 jam ini dengan sebaik-baiknya. Hal ini pun dimanfaatkan Muslim Indonesia di masjid Al Huda Gumi, Al Ikhlash, Al Mujahidin Inchoen dan masjid masjid lainnya. Mereka melaksanakan ṣalat sunah Tarawih, salat Witir dan berakhir sampai tengah malam sekitar pukul 23.00 hingga 24.00. Selarut malam itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk mendengarkan kajian dan diskusi setelah usai ritual qiyam Ramadan dari ustaz yang ditugasi.

Menariknya lagi, di antara peserta kajian pun ada yang mendapatkan jadwal piket memasak. Otomatis istirahat mereka hanya sebentar, karena sibuk memasak dan menyediakan hidangan sahur, dan disantap bersama-sama. Panitia lebih sibuk ketika akhir Ramadan tiba, karena mereka harus menyiapkan kebutuhan salat Idulfitri berjamaah, seperti tikar, snack, izin tempat parkir, dan keamanan. Terkait keamanan, panitia tetap berkomunikasi dengan pihak kepolisian setempat secara intens agar salat Idulfitri berjalan dengan lancar.

Baca Juga :  Orang yang Sibuk Bekerja, Dapatkah Meraih Kemuliaan Ramadan?

Tidak seperti di Indonesia, di Korea Selatan IdulfFtri tidak masuk dalam kalender libur nasional. Oleh karena itu, pekerja dan mahasiswa meminta izin ke institusi, kantor, dan lembanganya masing-masing untuk bisa melaksanakan salat Idul Fitri. Alhamdulillah jamaah dari berbagai daerah yang ada di Gumi, Gaemchon dan sekitarnya, baik warga negara Indonesia atau warga negara asing lainnya bisa hadir memenuhi masjid berlantai lima ini. Acara salat id berjamaah pun berjalan dengan lancar, penuh khidmah dan kekeluargaan.

Selamat hari raya Idulfitri 1 Syawal 1440 H, mohon maaf lahir dan batin



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here