Semangat Keterbukaan

0
118

BincangSyariah.Com – Alkisah ada seorang anak muda yang menjelajahi sudut-sudut negeri Persia dan menyauk hikmah Persia yang ditinggalkan orang. Dia menelusuri pelosok-pelosok Anatolia dan Syria, dan berguru kepada orang-orang Sufi yang arif. Dia pun mendatangi kota-kota besar wilayah Islam waktu itu; berbincang dengan para filosof pecinta hikmah Yunani.

Akhirnya anak muda ini “terdampar” di istana Malik Zhahir, putra Shalahudin al-Ayyubi. Dia dicintai Malik karena kecerdasannya, kearifannya dan terutama sekali karena keterbukaannya. Dia menyuruh orang untuk belajar filsafat, dan pada saat yang sama mendorong orang untuk menyucikan dirinya lewat tasawuf. Dia mengajak orang Islam untuk memperkaya dirinya dengan berbagai hikmah yang datang dari mana pun – Yunani, India, atau Persia.

Anak-anak muda menyukainya, tetapi tidak para ulama. Mereka menuduh pemuda ini meresahkan masyarakat, merusak akidah dan menyesatkan umat. Mereka mendesak Malik Zhahir untuk menangkapnya. Sang pangeran yang sudah tercerahkan tidak ingin menangkap sahabatnya. Para ulama pergi “ke atas”, Shalahuddin al-Ayubi, yang tengah memerlukan ulama, didesak untuk menghukum pemuda itu. Pada tahun 587 Hijriah, anak muda ini mati di penjara karena dicekik atau karena kelaparan.

Genius besar ini mati dalam usia muda. Dosanya sama dengan Socrates. Dia menganjurkan keterbukaan. Dia mengajak orang melepaskan diri dari sekat-sekat mazhab yang sempit. Dia berwawasan non-sektarian. Suhrawardi mati dan boleh jadi ratusan pemikir non-sektarian mati atau dimatikan. Namun keterbukaan selalu akan dirindukan orang.

Islam adalah agama yang mengajarkan keterbukaan, terutama sekali dalam mengambil hikmah. Ada salah seorang anak muda yang tumbuh besar bersama wahyu yang bernama Ali bin Abi Thalib. Sejak kecil, Ali diasuh bersama Rasulullah SAW. Kepada muridnya, Nabi berkata, “Hikmah itu barang berharga yang hilang dari seorang mukmin. Karena itu, di manapun orang mukmin menemukan hikmah, maka akan memungutnya. Ambillah hikmah itu, walaupun dari orang munafik!”. Selain itu, Nabi juga bersabda, “sikap keberagamaan yang paling aku cintai ialah alhanifiyyah assamhah.”

Baca Juga :  Kemanusiaan Sebelum Beragama

Cak Nur dengan sangat menarik menerjemahkan “alhanifiyyah assamhah” sebagai semangat mencari kebenaran yang lapang, toleran, tanpa kefanatikan dan tidak membelenggu jiwa. Menurut beliau, sikap alhanifiyyah assamhah” ini merupakan bentuk pengejawantahan dari ciri-ciri orang yang beriman seperti yang tertera dalam surat Az-Zumar ayat 8, Allah SWT berfirman, “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. Simpulnya, Islam mengajarkan keterbukaan.

Anjuran inilah yang menyebabkan umat Islam terdahulu tidak ragu-ragu menghirup ilmu dari Yunani, Persia dan India. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” kata Rasulullah SAW dan dalam riwayat lain juga beliau bersabda, “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan.” Maka ketika orang-orang Eropa mengejar-ngejar nenek tua sebagai sumber wabah penyakit, laboratorium-laboratorium kedokteran di Cordoba Islam sibuk mencari penyebab penyakit dengan percobaan-percobaan mereka. Ketika Abad Pertengahan menafikan filsafat Yunani, orang-orang Islam menggalinya dengan sikap kritis.

Ilustrasi di atas menunjukkan betapa sikap keterbukaan ini dipraktikkan oleh generasi Islam terdahulu. Keterbukaan mereka terhadap peradaban asing telah mengantarkan mereka menjadi pelopor ilmu pengetahuan di masanya. Dengan semangat keterbukaan yang dianjurkan Alquran ini, peradaban Islam mampu memimpin peradaban dunia selama delapan abad lamanya. Semangat keterbukaan dalam konteks kekinian dapat juga terejawantahkan pada sikap siap mendengarkan pendapat yang berbeda dari orang lain.

Namun kemunduran umat Islam sekarang ini lantaran masing-masing kelompok memandang hanya kelompoknya saja yang memegang kebenaran. Umat Islam terperosok dalam kotak-kotak mazhab yang sempit. Pikiran kritis dibungkam. Paham baru dianggap bid’ah. Perbedaan paham dianggap tabu. Yang pahamnya tidak sama dianggap sesat. Orang Islam tidak lagi belajar dari pelosok bumi. Mereka bahkan tidak mau belajar dari saudara-saudara mereka sendiri yang bermazhab lain. yang benar adalah mazhab saya. Semua masuk neraka, kecuali mazhab saya. Maka tirai ketertutupan jatuh menutup jendela dunia umat. Posisi mereka pun makin lama makin terkucilkan. Di bagian dunia yang lain, setelah Renaissance, orang Barat membuka mata mereka dan sebagian belajar dari hikmah yang ditinggalkan kaum Muslim.

Baca Juga :  Panduan Memberi Nama Anak dalam Islam

Ini jelas bertentangan dengan sunnah itu sendiri. Ketika berselisih pendapat dengan Usman bin Affan dalam penjamakan salat, Ibnu Mas’ud masih tetap berjamaah di belakang beliau. Ketika ditanya perihal perilakunya bermakmum di belakang Usman bin Affan, beliau hanya menjawab, “aku tidak ingin bertengkar.” Jelaslah meski berbeda paham, Ibn Mas’ud tetap memilih persatuan, memilih sikap legowo dan toleran terhadap perbedaan.

Namun demikian, semangat keterbukaan tersebut harus diringi dengan sikap kritis dan bijak dalam memilah-milah mana yang terbaik sehingga ilmu dan hikmah yang diperoleh dapat bermanfaat bagi diri kita dan umat manusia. Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here