Semaan Al-Qur’an MANTAB: Menghidupkan Tradisi Rasulullah

0
2364

BincangSyariah.Com – Sabtu, 19 Januari 2019 kemarin acara semaan Al-Qur’an MANTAB dan dzikrul ghafilin rutinan untuk wilayah Jakarta kembali digelar. Acara tersebut kali ini diselenggarakan di area padepokan Gus Khudlori, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Semaan Al-Qur’an MANTAB sudah dirintis sejak pertengahan bulan Juni 1986, bertempat di rumah seorang pegawai Bank BRI Kediri yang bernama Bapak Muhadi daerah Kediri. Di sana diselenggarakan suatu acara khataman Al-Qur’an dengan dihadiri oleh beberapa orang.

Kegiatan itu dimulai dengan salat Subuh berjamaah, dan dilanjutkan dengan menyimak bacaan Al-Qur’an secara bersama-sama yang dibaca oleh para penghafal Al-Qur’an. Kegiatan “menyimak” itu berlangsung selama sehari penuh hingga paripurna 30 juz yang dijeda dengan pelaksanaan salat fardu yang dikerjakan bersama-sama.

Pada awalnya, kegiatan semaan Al-Qur’an ini dijadwalkan rutin setiap Ahad Pon dan Jum’at Pon, dan dilaksanakan bergilir dari rumah ke rumah para jamaah di daerah Kediri dan sekitarnya. Perkembangan berikutnya, kegiatan itu semakin luas diterima dan berkembang luar biasa pesat. Dari yang semula hanya diikuti oleh beberapa orang saja, dalam kurun waktu yang singkat, tidak sampai lima tahun sejak dirintis, telah diikuti oleh ribuan jamaah.

Bahkan sekarang ini, sudah menjadi jamaahnya sudah menjadi puluhan ribu jamaah. Lingkup kegiatannya pun meluas. Tidak hanya di Jawa Timur yang merupakan basisnya, tetapi juga merambah ke Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan bahkan ke luar Jawa. Kegiatan ini pun diselenggarakan secara rutin setiap tahun oleh Keraton Yogyakarta sebagai puncak peringatan “Hadeging Nagari Dalem Ngayogyakarta Hadiningrat.”

Adapun pencetus acara semaan MANTAB adalah Kiai Hamim Jazuli atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Miek, putra dari KH. Jazuli Utsman, pengasuh PP Al-Falah Ploso. Beliau lah tokoh yang menghidupkan kembali tradisi lama dari zaman Rasulullah saw. Sebagaimana terdapat dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim bahwasanya Rasulullah saw. gemar menyimak bacaan Al-Qur’an dari para sahabat beliau. Salah satunya adalah Ibnu Mas’ud, yang beliau perintah untuk membaca, sedangkan beliau menyimak bacaannya.

Dengan dukungan dari tokoh-tokoh seperti KH. Ahmad Shiddiq, KH. Hamid Pasuruan, KH. Mundzir Bandar Kidul Kediri, KH. Abdul Hamid Kajoran Magelang, dan Syaikhul Masyayikh KH. Dalhar Nahrowi Watucongol Magelang, beliau mengenalkan semaan Al-Qur’an ini kepada khalayak. Mengajak dengan cara halus dan contoh kritik untuk kembali mementingkan salat lima waktu berjamaah dan Al-Qur’an, sekaligus memopulerkan akhlak Rasulullah saw.

Dalam menjalankan kegiatan ini, beliau menggandeng dan mengkader orang-orang yang beliau percaya semisal KH. Farid Wajdi dalam menyambung lidah atau menyampaikan dan melaksanakan konsep-konsep beliau untuk acara semaan Al-Qur’an ini.

Selain itu, beliau juga mengkader KH. Moh. Syauqi Jember, KH. Hasyim Shalih Ponorogo, dan KH. Moh. Dardiri Yogyakarta. Tidak hanya tokoh-tokoh dari kalangan pesantren, beliau juga melibatkan tokoh-tokoh di luar pesantren seperti Irjen Pol. Purn Dr. Untung S. Rajab, dan GBPH H. Joyokusumo. “Semaan ini bila yang berkiprah menyajikan dan melaksanakannya hanya orang-orang dari kalangan pesantren, jadinya kurang luwes,” demikian yang Gus Miek sampaikan. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Disarikan dari artikel dalam aplikasi kumpulan amalan zikir Gus Miek)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here