Selain Tuhan, Adakah yang Pantas Disebut Penguasa? Ini Jawaban Aristoteles!

2
20

BincangSyariah.Com – Aristoteles adalah filsuf dari Yunani, murid dari Plato, sang guru Alexander Agung Makedonia. Ia merupakan filsuf terkenal baik di barat maupun di dunia Islam. Lahir pada tahun 384 SM di Stagera, sebuah kota di Yunani Utara dan meninggal di Khalkis, Yunani, pada tahun 322 SM di usia 80 tahun.

Ia memulai rihlah keilmuannya pergi ke Athena di sebuah sekolah bernama Akademia yang didirikan oleh plato dan menjadi murid di sana. Ide-ide pemikirannya banyak memberikan pengaruh terhadap teori-teori filsafat. (Baca: Mengapa Belajar Filsafat Penting)

Ajaran filsafat Aristoteles dapat dirumuskan dalam dua kategori: filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis meliputi riyadhiyat (aritmetika), manthiqiyat (logika), thabi’iyat (sains atau fisika), ilahiyat (metafisika). Sedangkan Filsafat praktis meliputi siyasiyat (politik) dan khuluqiyat (Filsafat Etika).

Pemikiran-pemikiran filsafat Aristoteles kemudian dikembangkan dan dinukil oleh Al-Farabi (w. 950 M) dan Ibnu Sina (w.1037 M) untuk mewarnai dunia keilmuan Islam. Perlu diketahui di sini bahwa ilmu filsafat di zaman itu berbeda dengan filsafat yang dikenal sekarang. Yang dimaksud ilmu filsafat pada zaman itu adalah ajaran-ajaran yang datangnya dari Yunani atau dari luar Islam. Ajaran-ajaran ini kemudian menarik minat banyak kalangan intelektual Muslim untuk berkecimpung dalam ilmu Filsafat meskipun tidak luput juga dari pengkritiknya.

Sebut saja (semisal) al-Ghazali. Pemikiran al-Ghazali cenderung mengkritik filsafat meskipun hanya sebagian ajaran filsafat yang dikritiknya, yaitu dalam ajaran ilahiyat (metafisika). Sisanya ia terima dengan lapang dada. Al-Ghazali mempunyai kitab khusus yang mengkritik ajaran Aristoteles di bidang ilahiyat (metafisika) berjudul Tahafut al-Falasifah (kerancuan pemikiran para filsuf).

Uniknya, meskipun al-Ghazali mengkritik sebagian ajaran filsafat Aristoteles, ia tidak segan mengutip pendapat Aristoteles. Boleh saja ia mengkritik ajaran Aristoteles di satu bidang tertentu, tapi bukan berarti ia harus menolak seluruh pendapatnya. Ini menandakan betapa tingginya objektivitas ilmiah al-Ghazali.

Dalam bidang ilmu siyasiyat (politik) semisal, Bolehkah manusia disebut sebagai penguasa? Pantaskah ia menyandang gelar itu? Bukankah berkuasa adalah sifat Tuhan? Menjawab pertanyaan ini, al-Ghazali tidak segan mengutip pendapat Aristoteles.

Al-Ghazali menulis dalam kitab at-Tibr al-Masbuk fi Nasihah al-Muluk (sebuah kitab yang ditulis al-Ghazali dengan bahasa Persia yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh salah seorang muridnya), halaman 60:

سئل أرسطاطاليس: هل يجوز أن يدعى أحد ملكا غير الله تعالي؟ فقال: من وجدت فيه هذه الخصال وان كانت عارية: العلم والعدل والسخاء والحلم والرقة وما ناسبها لأن الملوك انما كانوا ملوكا بالظل الالهي وضياء الحس و طهارة النفس وتزايد العقل والعلم وقدم الدولة وشرف الأصل والدولة التى كانت في محتدهم وأصولهم فبذلك كانوا ملوكا وسلاطين.

“Aristoteles pernah ditanya: selain Tuhan Yang Maha Kuasa, Apakah dibolehkan bagi seseorang disebut Malik (penguasa)? Dia berkata: Siapa pun yang memiliki sifat-sifat berikut ini: pengetahuan, keadilan, kedermawanan, kesabaran, lemah lembut, dan hal-hal yang semakna dengannya, maka ia pantas menyandang gelar raja dan penguasa. Karena sesungguhnya para penguasa adalah berada di bawah naungan ilahi, kecerahan indera, kesucian jiwa, peningkatan kecerdasan dan pengetahuan, kemajuan negara dan kemuliaan asal-usulnya. Eksistensi sebuah negara berada di bawah penderitaan (kekuasaan) dan asal-usul mereka”.

Meskipun pada hakikatnya sifat berkuasa itu adalah sifat Tuhan, akan tetapi manusia juga bisa menyandang gelar penguasa asalkan memenuhi kriteria-kriteria di atas. Jawaban Aristoteles ini sebenarnya merupakan singgungan keras kepada para penguasa. Karena itu, Sudah seyogyanya bagi penguasa memiliki sifat adil, dermawan, kasih kasang kepada rakyatnya, dan tentu harus memiliki pengetahuan dan srategi di dalam mengatur sebuah negara, sehingga bisa membawa kemaslahatan untuk negara dan rakyat yang dipimpinnya. Sebab ketika ia tidak memiliki sifat-sifat itu maka sejatinya ia tidak pantas disebut sebagai penguasa.

Saat ini, tidak sedikit orang sangat berambisi menjadi penguasa tanpa melihat keadaan dirinya terlebih dahulu. Padahal menjadi seorang penguasa adalah tidak mudah. Ia memiliki tanggung jawab yang besar dan berat. Kebijakan-kebijakannya haruslah didasarkan kepada kemaslahatan rakyatnya (tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyah manuutun bil maslahah).

Teruntuk orang-orang yang tergila-gila dengan kekuasaan, sudahkah Anda memiliki sifat-sifat yang telah disebutkan Aristoteles di atas? Semoga…

Wallahu a’lam.

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here