Sekilas Kajian Hadis di Barat (2): Perspektif Gender dalam Kajian Hadis

0
54

BincangSyariah.Com – Tulisan sebelumnya tentang kajian hadis di Barat memaparkan sekilas model-model kajian yang dilakukan kalangan orientalis. Implikasi kajian tersebut cukup jauh untuk era sekarang, apalagi studi-studi Islam di Eropa atas hadis dan hukum Islam marak melalui historical critical method, yang membuka luas cakrawala seputar dinamika keislaman klasik.

Memasuki era modern, pertanyaan yang penting diajukan terhadap sumber-sumber keislaman berkisar pada dua persoalan: keaslian sumber dan juga peranannya di masyarakat. Sudah disinggung di artikel sebelumnya bagaimana Schacht meragukan keaslian hadis berdasarkan penelusurannya terhadap literatur fikih yang digunakan secara luas.

Kita akan merasakan bahwa lewat perspektif gender, konten hadis berikut nama-nama ulama klasik sangat berkesan maskulin sekali. Akan sulit kita temukan misalnya nama ulama perempuan yang sekaliber dengan imam mazhab atau ulama lain yang populer. Begitupun dalam kajian Islam modern, barangkali pada era awalnya, sumber kajian banyak berasal dari kalangan pria. Bagaimana jika hadis itu dikaji dengan sudut pandang pengalaman dan perspektif wanita?

Isu modernitas yang saat ini banyak dikaji adalah isu gender dan feminisme. Gelombang kajian maupun aktivisme bidang feminisme ini mulai dikenal luas salah satunya sejak publikasi Second Sex karya Simone de Beauvoir dari Perancis. Hal ini disusul oleh apresiasi para filsuf sezamannya, dan laiknya sebuah gelombang besar, ia berdampak pada banyak kajian ilmu lain, tak terkecuali bidang keislaman.

Salah satu tokoh feminis muslim/muslimah era awal adalah Fatima Mernissi. Dilahirkan di Fez, Maroko, pada 1940, ia memulai satu kajian kritis tentang bagaimana sumber-sumber keislaman, meliputi tafsir maupun hadis, ditengarai tidak memihak pada perempuan. Ketidakberpihakan pada perempuan ini salah satunya ia tuding terdapat contohnya dalam hadis dan mendistorsi pesan luhur Islam yang sebenarnya memuliakan dan memperbaiki posisi perempuan di masyarakat.

Baca Juga :  Konsep Kenabian Menurut Ulama Sufi

Fatima Mernissi merujuk pada peranan Aisyah radliyallahu ‘anha, yang dalam banyak riwayat “menantang” otoritas kalangan lelaki. Peranannya dalam keilmuan Islam begitu signifikan, terutama lewat periwayatan hadisnya. Kritik ini misalnya, dalam masalah hadis perihal qath’us shalat yang diriwayatkan Abu Hurairah. Redaksi hadis ini menyatakan bahwa hal yang membatalkan shalat adalah perempuan, anjing dan keledai. Aisyah membantah riwayat ini, bagaimana mungkin perempuan disamakan dengan keledai dan anjing?

Semangat Aisyah yang ‘melawan’ otoritas mapan itulah yang diupayakan oleh Fatima Mernissi. Karya-karyanya banyak bicara itu. Salah satunya buku Women and Islam: An Historical and Theological Inquiry yang menyuguhkan telaah hadis pada dua periwayat: Abu Hurairah dan Abu Bakrah Ats-Tsaqafi (bukan Abu Bakr, ayah Aisyah).

Kritik terhadap Abu Hurairah sudah disampaikan sebelumnya. Kemudian selanjutnya hadis dari riwayat Abu Bakrah, adalah hadis tentang kepemimpinan perempuan (lan yuflihu qawmun wa law amrahum imraatun). Hadis ini populer dalam mendelegitimasi peranan perempuan dalam kepemimpinan politik.

Kesimpulan Fatima Mernissi mengapa kedua hadis di atas populer dan diriwayatkan terbilang cukup berani. Ia menyatakan bahwa Abu Hurairah memiliki sentimen personal tersendiri soal perempuan, sedangkan hadis Abu Bakrah tentang pemimpin perempuan terjadi dalam konteks kepemimpinan Sayyidina Ali radliyallahu ‘anhu dan masa pasca Perang Jamal, ketika Ali dan Aisyah berada dalam posisi head to head dalam polemik politik.

Jonathan Brown memberikan catatan mengenai kritik hadis feminis Fatima Mernissi ini dalam bukunya Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World. Mernissi menarik kesimpulan bahwa hadis yang diriwayatkan perawi yang terindikasi misoginis dan memandang inferior perempuan mesti dinilai tidak shahih. Bahkan, status perawinya juga mesti dipertanyakan. Bagaimana mungkin bias itu mesti muncul dalam teks hadis yang akan menjadi sumber keislaman? Demikianlah Mernissi menyitir pendapat Imam Malik bahwa orang yang pernah berdusta atas suatu hadis, maka ia mesti ditolak periwayatannya.

Baca Juga :  Masa Iddah Bagi Wanita Menopause

Gerakan feminisme dalam Islam, memang sedang banyak dilakukan. Kita bisa merujuk ke Amina Wadud yang secara progresif menggunakan hadis Ummu Waraqah sebagai dasar kebolehan imam shalat perempuan. Kita juga bisa merujuk karya Kecia Ali yaitu Marriage and Women in Islam. Dalam buku tersebut, Kecia menelaah ulang kaul-kaul fikih tentang tema perempuan khususnya isu keluarga dan pernikahan, yang otomatis juga telaah ulang atas teks tafsir Al Quran dan hadis.

Untuk konteks Indonesia, kritik hadis dari perspektif gender ini tentu cukup kontroversial, mengingat kaidah kritik hadis dalam koridor Sunni dominan diajarkan dan diamini umumnya masyarakat muslim. Namun, sejumlah intelektual muslim Indonesia (dan banyak juga muslimah itu sendiri) sudah mulai urun rembug melakukan redefinisi, penafsiran ulang, serta mainstreaming gagasan-gagasan kesetaraan gender yang sebenarnya lebih bisa dipertanggungjawabkan dalam literatur-literatur keislaman. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here