Sekelumit Sains dalam Tafsir Kabir

0
121

BincangSyariah.Com – Seperti sudah diyakini oleh seorang muslim, Alquran adalah mukjizat. Sebagai mukjizat tentu ia mengandung banyak keajaiban. Para ulama menekankan bahwa salah satu segi i’jaz (kemukjizatan) Alquran yang paling menonjol adalah kefasihan dan keindahan bahasa. Sebagai kalam Tuhan Alquran tentu terjaga dari kesalahan dalam bentuk apapun. Sebuah anekdot sering disampaikan oleh para mufassir, “Jika sebuah kejadian sesuai dengan Alquran, maka memang seharusnya. Namun jika tidak sesuai dengan Alquran, maka akal kita keliru mencerna.”

Salah satu tafsir Alquran yang cukup ternama adalah tafsir yang dikarang oleh Fakhr al-Din al-Razi, seorang pakar multidisiplin dari Tanah Persia. Tafsirnya disebut-sebut sebagai ensiklopedi dari tafsir-tafsir dan aliran pemikiran yang berkembang sebelum dan saat beliau hidup. Agar tafsirnya komperhensif, diriwayatkan beliau mengarangnya selama puluhan tahun.

Tafsir ini dianggap ensiklopedik karena beliau menyebutkan berbagai macam metode tafsir dalam sebuah ayat: tafsir atsar (penjelasan dari Nabi Saw., para Sahabat, atau generasi awal lainnya), tafsir ra’yi (akal; mencakup penjelasan derivasi kata, ilmu logika pasti, atau percikan pemikiran yang berkaitan dengan sebuah ayat), tafsir ‘ilmi (tafsir saintifik sesuai kadar pemahaman beliau akan sebuah fenomena yang tentunya pemahaman ini tidak bisa dilepaskan dari jaman beliau hidup, yakni abad 11 Masehi). Bagi mereka yang pernah membacanya pasti akan seringkali menemukan beberapa makna ayat yang kadang tidak disadari oleh sebagian orang. Oleh karena itu banyak orang merujuk kitab ini pertama kali ketika mereka harus bersinggungan dengan maksud Alquran.

Di dalam tafsir ini banyak sekali dipaparkan penjelasan saintifik yang berkaitan dengan sebuah ayat. Menurut beliau tafsir saintifik ini legal dan absah. Beliau bertendensi, tentu saja, pada ayat-ayat Alquran terutama yang menganjurkan penggunaan akal dalam memahami alam. Pada jilid empat belas halaman 104 beliau mengatakan bahwa nalar sains pada Alquran secara utuh justru bisa mengantarkan pada pengetahuan bahwa ada Sang Pencipta di balik ini semua.

Baca Juga :  Sembilan Penyebab Menyimpangnya Akhlak Anak

Hal ini salah satunya beliau terapkan ketika menjelaskan kilat. Allah Swt. berfirman:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ

“Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat.”

Menurut beliau petir adalah partikel api yang kuat dan menyambar apa saja serta memiliki kecepatan yang tinggi. Dalam tempat lain beliau menjelaskan:

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya petir merupakan ciptaan menakjubkan yang mengindikasikan bahwa Allah Maha Kuasa. Penjelasannya adalah sebagai berikut: awan adalah benda yang tersusun dari partikel api air di satu sisi, dan partikel udara serta api di sisi lain.”

Lalu beliau menjelaskan bahwa kedua hal yang bertentangan ini akhirnya menyatu dan membentuk petir. Menyatunya dua hal yang bertentangan secara mutlak ini menurut beliau adalah tanda-tanda adanya Pencipta.

Beliau juga menerapkan tafsir pengetahuan seperti ketika beliau menjelaskan manfaat dari khamr. Di dalam Alquran dijelaskan bahwa khamr, di samping memiliki bahaya, ia juga mengandung manfaat. Di antara manfaat yang disebutkan al-Razi adalah menguatkan orang lemah, melancarkan pencernaan, serta mengurangi risiko stres. Meskipun manfaat ini tidak bisa mengalahkan mudaratnya, namun beberapa manfaat yang disebutkan al-Razi ini sesuai dengan beberapa fakta sains modern bahwa anggur bisa memperkuat mineral yang ada di tulang tubuh.

Dalam hal ini al-Razi tidak terkalahkan. Seperti sudah jamak diketahui beliau adalah seorang dokter yang terkenal di masanya. Dokter dan mufassir, sebuah kombinasi yang jarang.

Beliau juga dikenal sebagai mufassir yang seringkali mengutip pendapat realistis ketika menghadapi ayat-ayat yang cukup sulit dipaham. Salah satunya ayat berikut:

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat.”

Baca Juga :  Muhammad Asad dan Tafsir "The Message of The Qur’an"

Ayat di atas secara sekilas menetapkan bahwa langit memiliki tiang namun tidak bisa dilihat. Tapi al-Razi mengutip sebuah pendapat realistis—meskipun pendapat ini tidak beliau dukung secara pribadi dan beliau lebih suka mengarahkannya kepada ilmu kalam tentang qudrah—yakni maknanya adalah Allah adalah zat yang mengangkat langit dengan tanpa tiang sebagaimana kamu lihat. Jadi kata “tarawnaha” tidak menjadi sifat akan tetapi menjadi masdar atau hal dari kalimat sebelumnya.

Sikap realistis ini juga beliau tunjukkan ketika membahas ayat yang menjelaskan bahwa bumi datar. Beliau boleh jadi menerima bahwa bumi datar, akan tetapi jika pada faktanya bumi bulat maka makna ayat-ayat tentang bumi datar akan berubah. Beliau berkata:

الكرة إذا عظمت جدا كانت القطعة منها كالسطح في إمكان الاستقرار عليها

“Jika memang diameter bumi sangat besar, maka lempengannya akan terasa seperti dataran dari sisi bisa ditempatinya.”

Dari sini tampak beliau sangatlah realistis dalam memahami tema-tema Alquran yang sedikit “berat” untuk dipahami. Selain di atas, banyak tema-tema sains lain yang beliau ulas. Sebagai seorang ahli fikih tentu membincangkan tema sains yang beliau usung sangatlah menarik meskipun beberapa teori yang beliau ajukan sudah dibuktikan sebaliknya oleh sains modern. Karena ahli fikih dikenal jarang ada yang mau terjun ke “pergaulan bebas” seperti yang beliau lakukan. Kredibilitas beliau sebagai ahli fikih terbukti dalam ilmu usul fikil bahwa ketika diucapkan nama “Imam” maka ia adalah al-Razi.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.