Sekali Lagi, Soal Islam Nusantara: Wilayah Barus Sebagai Titik Nol Islam Nusantara

0
2258

BincangSyariah.Com – Setengah hari ini, saya disuguhi paparan menarik tentang Islam Nusantara yang disajikan Kiai Ahmad Baso, seorang ilmuwan yang secara tekun melakukan riset tentang Islam Nusantara. Paparan tentang Islam Nusantara yang disajikan Kiai Ahmad Baso kali ini, mengambil studi kasus penetapan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara.

Paparan tentang Islam Nusantara yang disampaikan Kiai Ahmad Baso, saya pandang penting untuk mengklarifikasi arah sebenarnya dari tema Islam Nusantara. Dipandang penting, karena dipilihnya topik Barus itu menggugurkan kecurigaan sementara kalangan akan misi jawanisasi atau sinkretisasi Islam dan Budaya Jawa, di balik isu Islam Nusantara.

Pemilihan Barus sebagai topik Islam Nusantara sesungguhnya menegaskan matarantai penyampaian Islam dari tanah asalnya Arab ke tanah penyemaiannya yang bernama Nusantara. Kiai Ahmad Baso menyajikan secara menarik peta besar dari Islam Nusantara yang mencakup gagasan, manhaj dan sebaran.

Kiai Ahmad Baso menegaskan bahwa tanpa pemahaman terhadap peta besar yang membingkainya, ide Islam Nusantara akan selalu dilihat dengan perspektif kecurigaan. Ide Islam Nusantara, sebagaimana dijelaskan Kiai Baso sesungguhnya mengafirmasi nilai universalitas yang dikandung di dalam ajaran Islam. Nilai universalitas yang dimaksud itu bukan terletak pada produk budaya dalam maknanya sebagai bentuk. Tapi, universalitas itu dapat dilihat dari proses negosiasi antarnilai, dan konkordansi di antara nilai Islam dengan nilai-nilai lokalitas.

Di dalam kasus Barus, Kiai Ahmad Baso menjelaskan bahwa proses Islamisasi yang terjadi di Barus tidak berlangsung secara cepat. Dalam kaitan itu, Kiai Ahmad Baso menegaskan bahwa para penyebar Islam di Barus menggunakan pendekatan tasawuf dalam menyampaikan ajaran Islam kepada pemuka dan masyarakat Barus. Yang menarik dari proses itu, kata Kiai Ahmad Baso, para penyebar Islam di Barus terlebih dahulu menawarkan solusi atas problematika bisnis kapur Barus yang dihadapi para petani. Itu dilakukan sebelum menjelaskan agama Islam yang para penyebar itu bawa.

Baca Juga :  Lima Alasan Pentingnya Mengkaji Sirah Nabawiyah

Model pendekatan ala “business to business” yang dilakukan di Barus ini, ternyata dijadikan sebagai pakem para penyebar Islam di seluruh Nusantara. Inilah yang menurut Kiai Ahmad Baso, menyebabkan Islam dipandang sebagai agama yang menarik bagi kalangan pribumi.

Tasawuf: Kunci Dakwah Islam Nusantara

Kiai Ahmad Baso menambahkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan tasawuf yang digunakan para penyebar Islam itu adalah bahwa mereka tidak memaksa kalangan pribumi yang didakwahi itu harus menerima ajakan yang disampaikan. Seandainya kaum pribumi menolak ajakan yang disampaikan, para penyebar Islam itu meyakini bahwa ada dari keturunan mereka yang akan menerima ajaran Islam yang disampaikan.

Dalam konteks jaringan penyebaran Islam secara global, Islam Nusantara sesungguhnya berbicara tentang konsepsi kemaritiman dalam perspektif Islam yang mempertemukan setiap perbedaan. Dalam pandangan para penyebar Islam di Nusantara, laut bukanlah alasan untuk memisahkan perbedaan tiap-tiap pulau. Namun, laut justru mempertemukan perbedaan-perbedaan tersebut. Sehingga dari konsepsi laut sebagai lebensraum itu, Islam Nusantara merupakan ikhtiar untuk membangun umat Muslim sebagai masyarakat yang kosmopolitan.

Tesis yang dikemukakan oleh Kiai Ahmad Baso itu berpijak kepada fakta masyarakat Muslim pesisir pada masa lalu, yang terbukti mampu menerima perbedaan dan berinteraksi di dalam nuansa perbedaan itu sendiri.

Tesis laut sebagai titik pertemuan (meeting point) ini dikuatkan dengan bukti adanya relasi di antara Madinah, Barus dan Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Poros Madinah yang terjalin di antara Pemerintahan Sayyidina Usman bin Affan dengan Penguasa Dinasti Tang, di bawah pimpinan Kao Tse Sung itu, dalam kenyataannya melibatkan peran Barus sebagai meeting point. Kiai Ahmad Baso juga menegaskan adanya relasi keislaman yang sangat kuat di antara Barus, Gresik, Madura, dan Makassar.

Baca Juga :  Sambut Hari Santri Nasional, Ini Perubahan Orientasi Keilmuan Pesantren pada Abad 19

Fakta-fakta historis itu menurut Kiai Ahmad Baso merupakan legacy yang tidak bisa dikesampingkan untuk menguatkan kembali ikatan keindonesiaan yang belakangan rapuh oleh isu perselisihan politik, dan agama.

Dari penjelasan mengenai kasus Barus di dalam tema Islam Nusantara itu, dapat kita pahami bahwa tidak benar jika dikatakan Islam itu cenderung jawa-sentris dan mengesampingkan heritage yang dimiliki wilayah-wilayah lain di Indonesia. Penjelasan yang disampaikan oleh Kiai Ahmad Baso, bahkan memberi penegasan bahwa Islamisasi di pulau Jawa merupakan mata rantai yang tidak bisa dipisahkan dari Islamisasi yang dilakukan di pulau-pulau lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here