Taj Mahal; Wujud Cinta Syah Jahan terhadap Mendiang Istrinya

0
511

BincangSyariah.Com – Kerajaan Islam Mogul adalah satu di antara kerajaan yang mampu bersaing dengan Utsmani. (Baca: Suku Kayi: Cikal Bakal Berdirinya Turki Utsmani). Wilayahnya cukup luas meliputi lima negara modern yakni Afghanistan, Pakistan, India, Bangladesh dan Burma. Raja yang memimpin kerajaan ini pun terbilang stabil. Dalam dua ratus tahun pertama pengalihan kekuasaan hanya terjadi enam kali saja.

Menurut sejarawan muslim dunia asal Afghanistan, Tamim Anshari enam penguasa ini memiliki kemampuan yang berbeda – beda. Ada administrator, politisi, panglima perang hingga seniman. (Baca: Kesultanan Mogul: Kerajaan Islam Pertama di India)

Syah Jahan, raja kelima Moghul adalah seorang seniman yang terjun dalam dunia arsitektur. Di bawah kepemimpinannya Mughal disulap menjadi negeri yang amat indah.

Syihabuddin Muhammad atau yang lebih tenar dengan nama Syah Jahan ini mampu memimpin Maghul selama tiga puluh tahun lamanya. Dimulai dari Februari tahun 1628 M sampai 1658 M. Sejak saat itu namanya terpampang seantero jagat India.

Sebagaimana raja baru, di awal pemerintahan banyak terobosan – terobosan baru hasil inisiatif Syah Jahan. Ia memperbaiki kebijakan terkait bidang agama dan administrasi negara yang dinilai kurang efektif.

Namun memperbaiki sistem sebuah kerajaan besar tidak semudah yang ia bayangkan. Ada banyak tantangan dan halangan yang harus ia hadapi. Termasuk membereskan para pemberontak yang kerap melakukan kerusuhan.

Belum selesai soal keamanan, Syah Jahan kembali diuji dengan krisis kelaparan yang mendera India tahun 1630 – 1632 M. Seluruh harta bendanya ia keluarkan demi menyelamatkan nyawa para penduduk.

Syah Jahan menuai banyak pujian atas prestasi dan pencapaian yang sukses ia raih. Namun, adikaryanya yang paling terkenal adalah Taj Mahal. Ketenaran bangunan ini sudah sangat mendunia. Bahkan UNESCO telah mengakuinya sebagai warisan sejarah dunia dan dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia.

Baca Juga :  Tabi'iyyat yang Paling Utama

Taj Mahal bukanlah sembarang bangunan tanpa latar belakang yang jelas. Faktanya, istana putih ini dibangun Syah Jahan pasca kepergian istri tercintanya, Mumtaz Mahal.

Mumtaz Mahal atau yang bernama resmi Arjumand Banu Begum adalah wanita yang sukses memincut hati Syah Jahan. Sosoknya yang begitu rupawan serta kepribadiannya yang luhur telah membuat Syah Jahan jatuh hati kepadanya.

Paras cantiknya diwarisi dari bibinya, Nur Jahan. Sedangkan kecerdasan serta kematangan berfikirnya diperoleh dari figur sang ayah, Asif Khan. Para sejarawan mengenal Mumtaz sebagai salah satu tokoh wanita terbaik  pada masanya.

Dilansir dari Daulah Abathirah Mughal karya Syihabuddin Syayyal, Mumtaz wanita kelahiran tahun 1594 M ini gemar menolong sesama. Setiap hari ia meluangkan waktunya untuk berbagi rezeki kepada fakir miskin, anak – anak yatim dan janda yang ia temui.

Tidak hanya dekat dengan warga kurang mampu, para penjahat yang hampir putus asa karena tidak lagi memiliki asa pun ia tolong agar gairah hidupnya kembali tumbuh. Singkatnya, ia menjadi pintu utama bagi orang – orang yang membutuhkan.

Berkat ketulusan hatinya ini, ia begitu dirindukan keluarga dan masyarakat. Tak heran jika kepergian Mumtaz Mahal menjadi pukulan telak terutama bagi si suami, Syah Jahan. Padahal ia baru saja naik tahta sebagai raja, namun di tahun yang sama istri tercintanya justru meninggalkannya untuk selama – lamanya.

Kesedihan sang raja begitu mendalam. Ia tak menyangka istrinya wafat diusia muda yakni 36 tahun. Jenazah Mumtaz dimakamkan di Agra India, 206 km dari ibu kota New Delhi.

Untuk mengenang jasa istrinya ini di komplek tempat pemakamannya, Syah Jahan sengaja membangun sebuah istana megah. Seabrek harta kekayaannya rela ia gelontorkan demi membiayai mega proyek ini.

Baca Juga :  Sejarah Ramadhan; Pertempuran Ain Jalut antara Umat Muslim dan Bangsa Tartar

Banyak ahli dan arsitek ternama diundang untuk merancang Taj Mahal. Meski begitu, Syah Jahan tetap menjadi dalang utamanya. Bagaimana tidak, selama dua puluh tahun masa pembangunan ia rutin mengecek detail – detail bangunan serta memperhatikan segala sesuatunya.

Tujuannya agar Taj Mahal benar – benar dapat berdiri seperti yang ia bayangkan. Kesibukannya sebagai raja tidak pernah menghalangi rutinitasnya untuk mengunjungi Taj Mahal.

Baginya Taj Mahal bukanlah istana megah semata. Tapi ini adalah tempat tinggal sekaligus kebanggaan untuk sang istri, simbol cinta dan ikhlas serta bukti nyata dari keindahan yang abadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here