Sejarah Tahun Gajah dan Pelajaran Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama

0
891

BincangSyariah.com-  Dalam Sejarah Bangsa Arab, khususnya sejarah Islam, salah satu peristiwa penting dalam ingatan kaum Muslim ialah tahun gajah (‘am al-fil). Sebagaimana diketahui, ini merupakan momentum yang mengiringi kelahiran pemimpin umat Islam, Nabi Muhammad SAW. Momen ini secara kultural dilestarikan melalui lagu puji-pujian kelahiran Nabi SAW menjelang salat di masjid-masjid desa. Bahkan, Al-Quran merekam peristiwa ini dengan baik dalam sebuah suratnya. (Baca: Tafsir Surat Al-Fil: Kisah Abrahah Menyerang Mekah dan Ka’bah)

Akan tetapi, pemahaman terhadap peristiwa ini hanya sekedar menjadi penanda kelahiran Nabi Muhammad. Padahal, di balik peristiwa ini, banyak hikmah yang bisa dipetik oleh umat beragama selain hanya terjaganya baitullah (Ka’bah) dari penghancuran pasukan gajah raja Abrahah. Apalagi dalam kaitannya dengan kerukunan dalam kehidupan antar umat beragama, terdapat pelajaran penting tentang kerukunan antar umat beragama yang dapat dipetik dari memahami peristiwa ini.

Pemimpin pasukan ber-gajah, Abrahah, seperti dituturkan Philip K.Hitti dalam History of The Arabs, merupakan pemimpin perang di bawah komando Aryat utusan raja Negus (Najasyi) untuk menyerang Yaman. Penyerangan ini atas permintaan Justin I dari kerajaan Bizantium karena penindasan atas orang-orang Nasrani lokal yang diasosiasikan dengan musuh mereka, penguasa Abissinia yang beragama Nasrani.

Kemenangan pasukan raja Negus menjadikan tanah Yaman dipimpin oleh komandan Aryat. Akan tetapi menurut Philip K. Hitti, Abrahah berhasil mengkudeta Aryat dan menjadi gubernur koloni. Ia mendirikan sebuah gereja katedral terbesar pada zamannya di kota Shan’a. Motif pendirian gereja ini sesungguhnya untuk menyaingi aktivitas keagamaan dan ekonomi Mekkah dengan bangunan Ka’bahnya. Dari sinilah, permulaan konflik berbasis agama dipicu.

Tahun gajah adalah titik penanda puncak konflik dua kutub kekuatan antara masyarakat Arab Utara (Mekkah) dan Arab Selatan (Yaman). Kiai Sholeh Darat dalam Hadza Kitab Fasholatan memiliki narasi berbeda tentang kronologi terjadinya penyerbuan pasukan gajah raja Abrahah. Menurutnya, pendirian gereja oleh Abrahah atas restu Raja Najasyi untuk menandingi keagungan Ka’bah yang dikunjungi tiap tahunnya. Selain itu, ia juga melarang seluruh rakyatnya untuk tidak pergi ke Ka’bah dan beribadah di gereja yang ia dirikan.

Baca Juga :  Pudarnya Ketulusan Beragama

Kebijakan ini kemudian didengar oleh masyarakat Mekkah, termasuk elit Mekkah, Malik bin Kinanah. Malik merupakan tetua kaum Quraisy yang menjadi pelayan dan memenuhi kebutuhan para peziarah Ka’bah. Mendengar hal tersebut, ia mendatangi Yaman untuk menghancurkan gereja yang menyaingi Ka’bah. Menurut kiai Sholeh Darat, ia menyamar dan menerobos masuk ke Yaman untuk merusak gereja tersebut pada tengah malam.

Bahkan lebih dari itu, ia membuang kotoran dan menempelkannya pada dinding gereja kebanggan pemimpin Yaman tersebut. Di pagi harinya, masyarakat melaporkan kejadian ini kepada Abrahah. Atas kejadian ini, ia murka dan berjanji akan mendatangi Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah. Sebagaimana dipaparkan kiai Sholeh Darat:

moko nuli sumpah raja Abrahah, Wallahi yekti budal ingsun marang Mekkah arah ngrusak Ka’bah Mekkah kerono ora ono ingkang gawe rusuh Ka’bahku anging wong Mekkah

Artinya:

“maka kemudian raja Abrahah bersumpah, demi Tuhan, sungguh aku (akan) menuju Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah Mekkah, karena tidak ada yang membuat kerusuhan kecuali orang Mekkah.

Dijelaskan dalam Hadza Kitab Fasholatan karya kiai Sholeh Darat saat menjelaskan makna surat Al-Fil, gajah (al-fil) dalam surat ini merujuk pada Gajah Mahmud milik raja Abrahah, penguasa dari Yaman. Gajah Mahmud ini ialah gajah putih pemberian raja Najasyi saat mengizinkan Abrahah dan pasukannya menyerang Mekkah. Dengan demikian peristiwa tahun gajah ini menjadi titik puncak konflik antar umat beragama.

Al-Quran merekam peristiwa ini dalam sebuah surat bernama Al-Fil (gajah). Dari sini kita dapat memetik pelajaran bahwa pertama, pertentangan dan konflik antar umat beragama sarat motif dan faktor di luar aspek keagamaan. Dalam konteks peristiwa tahun gajah ini, motif ekonomi-politik sangat nampak dalam pendirian gereja Yaman dan penyerangan gereja Yaman oleh Malik bin Kinanah. Mereka sama-sama hendak mempertahankan sumber daya ekonomi dan politik kedua belah pihak. Hal yang demikian juga sangat mungkin terjadi di negara ini.

Baca Juga :  Makna di Balik Rahasia Surah Al-Fatihah Menurut Kiai Sholeh Darat

Kedua, konflik antar umat beragama terjadi karena kegagalan dari masing-masing pihak untuk menahan diri. Terlepas dari kegagalan pasukan Abrahah menyerang Ka’bah, Malik bin Kinanah menjadi provokator dan pemicu konflik serius yang terjadi. Tanpa adanya kesadaran untuk menahan emosinya masing-masing, konflik antar umat beragama mudah tersulut, terlebih dalam konteks wilayah yang sangat beragam seperti Indonesia.

Tahun gajah dengan demikian tidak hanya menjadi penanda kelahiran Nabi Muhammad, melainkan juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan yang damai dan rukun lebih diidam-idamkan daripada perseteruan yang didasarkan atas kepentingan agama. Apalagi dibalut dengan kepentingan politk dan ekonomi. Wallahu A’lam bi al-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here