Sejarah Perang Khandaq yang Terjadi di Bulan Syawal

1
78

BincangSyariah.Com – Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun ke-5 H, atau tahun ke-4 H. Penyebabnya adalah ketika Bani Nadhir diusir oleh Nabi karena mengkhianati perjanjian dan berupaya mencelakai Nabi dengan menjatuhi batu besar, dan sebagiannya tinggal di Khaibar, maka sekelompok Yahudi Bani Nadhir dan Bani Wail berangkat menuju Makkah untuk membentuk persekutuan dengan Quraisy untuk bersama-sama memerangi Rasulullah Saw. (Baca: Khalid bin al-Walid: Komandan Perang Yang Dilengserkan)

Quraisy menanggapi mereka dengan mengajukan pertanyaan, “Wahai Yahudi! Kalian semua adalah Ahli Kitab yang awal, dan kalian mengetahui sesuatu yang kami perselisihkan dengan Muhammad. Apakah agama kami lebih baik, atau agama Muhammad yang lebih baik?

Yahudi menjawab, “Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad, dan kalian lebih benar daripada Muhammad.” Allah kemudian menurunkan ayat sebagai tanggapan atas dialog kedua kaum tersebut dalam surat an-Nisa’: ayat 51-55.

Jawaban Yahudi membuat hati Quraisy senang sehingga mereka bersemangat untuk berperang. Setelah itu, Yahudi mendatangi kabilah Ghathafan untuk diajak bersama-sama memerangi Rasulullah. Mereka mengatakan bahwa akan selalu bersama Ghathafan dan memberitakan bahwa Quraisy juga telah turut bergabung.

Persekutuan Suku Quraisy dibawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb dan kabilah Ghathafan di bawah pimpinan Uyainah bin Hishn bin Huzaifah, didukung oleh Bani Murrah dipimpin Harits bin Auf al-Muri, Bani Asyja’ dipimpin Abu Mas’ud bin Rukhailah, Bani Sulaim dipimpin Sufyan bin Abdu Syams, Banu Asad dipimpin Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi, berhasil merekrut pasukan sebanyak 10.000 orang dengan komandan utama Abu Sufyan.

Pasukan tersebut kemudian meninggalkan Makkan menuju Madinah.

Ketika Rasulullah mendengar berita serangan dari Makkah, dengan segera beliau bermusyawarah dengan sahabat. Apakah akan tetap bertahan di Madinah atau keluar menghadapi pasukan musuh di luar Madinah?

Salman al-Farisi berpendapat agar membuat benteng berupa Khandaq (parit). Strategi perang dengan membuat Khandaq adalah strategi yang belum pernah dikenal bangsa Arab kala itu.

Rasulullah segera memerintahkan kaum muslimin untuk menggali Khandaq yang berlokasi di utara Madinah, memanjang mulai dari harrah (daerah berbatu) di timur sampai harrah di barat. Lokasi tersebut merupakan celah bukit yang menjadi pintu masuk ke Madinah.

Baca Juga :  Lima Binatang yang Dijadikan Nama Surah Al-Qur'an

Kaum muslimin menggali Khandaq dengan susah payah dan dalam keadaan menderita, karena sulitnya kondisi ekonomi.

Rasulullah juga turut berkerja bersama para sahabat, beliau mengangkut tanah sambil menirukan Syair Abdullah bin Rawahah:

اللّهُمَّ لَوْلَا أنت مَا اهْتَدَيْنَا * وَلَا تَصَدّقْنَا وَلَا صَلّيْنَا

فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا * وَثَبّتْ الْأَقْدَامَ إنْ لَاقَيْنَا

المشركون قد بَغَوْا عَلَيْنَا * وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا

“Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk * Tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan salat.

Maka turunkanlah ketenangan kepada kami * Serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh.

Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menindas kami * Apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya.”

Pasukan muslimin bersiaga di arah Timur, menyandarkan punggung mereka ke gunung Sala’. Jumlah mereka sebanyak 3.000 orang. Sementara pasukan Quraisy berhenti di lembah Majma’ al-Asyal, kemudian Ghathafan berhenti di dekat gunung Uhud. Antara kedua pasukan dipisahkan oleh Khandaq yang digali oleh kaum muslimin.

Kafir Quraiys tidak bisa melakukan serangan langsung, mereka hanya bisa melemparkan anak panah dari luar parit. Setelah waktu yang cukup lama, sekelompok kaum Quraisy berhasil menerobos melewati parit. Di antara mereka adalah Ikrimah bin Abi Jahal, Amr bin Wudd, dan beberapa orang yang lain. Namun mereka berhasil dikalahkan dan sebagian lagi melarikan diri.

Pertempuran dan saling lempar panah berlangsung sehari penuh, sehingga kaum muslimin tidak bisa melaksanakan salat pada hari itu, dan di qadha pada hari berikutnya.

Rasul lalu menugaskan beberapa orang untuk menjaga Khandaq pada malam hari, agar musuh tidak bisa menerjang masuk. Rasulullah sendiri juga turut berjaga dari sebuah celah pada malam yang sangat dingin.

Rasul kemudian memberikan khabar kepada para sahabat bahwa mereka akan mendapat pertolongan dan kemenangan.

Mendengar khabar dari Rasulullah, orang-orang munafik mengatakan, “…Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada Kami melainkan tipu daya”. (Q.S. al-Ahzab [33] : 12).

Baca Juga :  Lima Kriteria Ulama Pewaris Nabi Menurut Kiai Ali Musthafa Yaqub (2)

Orang-orang munafik justru meminta kepada Nabi untuk pulang ke Madinah. Allah berfirman, “…dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah Kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.” (Q.S. al-Ahzab [33] : 13).

Pengkhianatan kaum munafik menambah berat kondisi kaum musimin, selain pengepungan yang membuat ekonomi Madinah semakin sulit, ditambah lagi dengan berita yang mereka dengar bahwa Yahudi Bani Quraidhah yang tinggal di Madinah, mengambil kesempatan untuk melanggar perjanjian.

Penyebabnya adalah, Huyaiy bin Akhthab, pimpinan Bani Nadhir yang telah diusir dari Madinah, datang menemui Ka’ab bin As’ad al-Quradhi, pemimpin Bani Quraidhah. Hauyaiy terus membujuk Ka’ab agar bersedia melanggar perjanjian damai dengan penduduk Madinah.

Ketika berita tersebut didengar Rasulullah, beliau mengutus Maslamah bin Aslam bersama dua ratus orang, dan Zaid bin Harisah bersama tiga ratus orang untuk menjaga kota Madinah, melindungi para wanita dan anak-anak.

Ketika bahaya mengancam kaum musimin dari segala penjuru, dari kaum Quraisy, Yahudi, dan orang-orang munafik. Allah kemudian memberikan pertolongan dari sisi yang tidak terduga. Tiba-tiba datanglah Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Quraiys dan Yahudi Ghathafan.

Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Aku telah memeluk Islam, tanpa sepengetahuan kuamku. Perintahkan aku untuk melaksanakan tugas darimu, agar aku bisa membantumu.” Rasul bersabda, “Engkau hanya satu orang, lakukan apa saja yang bisa engkau lakukan. Sesungguhnya perang adalah tipu daya”.

Nu’aim kemudian berhasil membujuk Bani Quraidhah. Dia mengingatkan mereka atas kejadian yang dialami Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir yang diusir dari Madinah dan harta benda serta rumah mereka yang dirampas. Juga mengingatkan bahwa Quraisy bukan bagian dari mereka, sewaktu-waktu Quraisy bisa pulang ke Makkah, sementara mereka akan tetap tinggal di Madinah. Nu’aim mengatakan agar Bani Quraidhah tidak ikut dalam persekutuan perang tersebut.

Bani Quraidhah menganggap baik pendapat Nu’aim tersebut, dan mereka menerimanya.

Baca Juga :  Membincang Filosofi Ketupat

Nu’aim juga berupaya memecah persekutuan pasukan Ahzab dengan menemui para pembesar Quraisy dan Ghathafan. Nu’aim berkata kepada kedua kaum tersebut bahwa segenap kaum Yahudi telah menyesali penghianatan mereka atas Rasullah. Mereka telah mengutus para utusan untuk menemui Muhammad. Mereka berkata pada Muhammad, “Apakah engkau rela jika kami menyerahkan beberapa pembesar Quraiys dan Ghathafan untuk kami serahkan kepadamu, kemudian engkau hukum mereka? lalu kami akan bersamamu menghadapi orang yang tersisa dari Qurays dan Ghatafan sehingga bisa menghancurkan mereka semua.”

Nu’aim menambahkan, “Jika mereka datang kepada kalian untuk meminta seorang jaminan, janganlah kalian menyerahkan walaupun hanya satu orang”.

Ucapan Nua’aim tersebut dipercaya oleh Qurays dan Ghatafan. Kepercayaan mereka semakin kuat, ketika Yahudi Bani Quraidhah menolak Quraisy dan Ghatafan untuk segera menyerang Muhammad pada hari Sabat (Sabtu). Bani Quraidhah mengatakan, “Besok adalah hari Sabtu, kalian telah mengetahui apa yang menimpa kami karena melakukan pelanggaran pada hari Sabtu. Karena itu kami tidak akan berperang bersama kalian, sampai kalian memberikan kami seorang jaminan.”

Dilain tempat, Rasulullah tidak henti-hentinya bermunajat kepada Allah Saw. Beliau berdoa:

اللّهُمّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، سَرِيعَ الْحِسَابِ، اهْزِمْ الأَحْزَابَ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ، وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ.

Wahai Allah yang menurunkan al-Kitab, yang cepat menghisab, semoga Engkau mengalahkan pasukan Ahzab (koalisi), wahai Allah! kalahkanlah mereka, dan tolonglah kami atas mereka”.

Setelah satu bulan Madinah dikepung pasukan Ahzab, Allah kemudian menurunkan pertolongan berupa angin dan badai yang sangat kencang di malam yang sangat dingin, manghancurkan dan menerbangkan kemah-kemah mereka, serta membalik periuk mereka.

Pasukan sekutu Quraisy kemudian memutuskan kembali ke Makkah dengan tanpa membawa hasil apa pun. Sementara para penghianat Yahudi bani Quraidhah yang telah dewasa dijatuhi hukuman mati, jumlah mereka sekitar enam ratus atau tujuh ratus orang.

Wallahu A’lam.

Referensi: Ad-Durar fi Ikhtishari al-maghazi wa as-Siyar, Nur al-Yaqin fi Siirati Sayyidi al-Mursalin, Siirah ibnu Hisyam, Tarikh Ibnu Khaldun, Uyun al-Atsar,

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here