Sejarah Singkat Terjemahan Alquran di Barat

0
56

BincangSyariah.Com – Setiap muslim pasti tahu bahwa Bahasa Arab adalah bahasa valid yang digunakan Allah dalam mewahyukan Alquran kepada Nabi Muhammad. Hal ini tidak mengherankan karena Alquran diturunkan kepada bangsa Arab. Coba bayangkan kalau Bahasa Arab tidak dijadikan medium dalam Alquran? Bisa dipastikan bunyi ayat “Hudan lil muttaqin” tidak akan berarti.

Sejarah mengisahkan bahwa Kekhalifahan empat dan dua dinasti besar umat Islam: Umayyah dan Abbasiyah telah berjasa menyebarkan syi’ar Islam ke berbagai penjuru dunia. Setelah dua dinasti ini runtuh, berbagai kerajaan dan kesultanan pun masih muncul, dan dunia Islam masih membentang luas di kala itu. Di sisi lain, penyebaran Islam ke berbagai penjuru otomatis menjadikan umat Islam tidak lagi “dimonopoli” orang Arab.

Karena ajaran utama umat Islam bersumber dari Alquran, dan bahasa Arab bukanlah bahasa asli mereka, terjadilah musykil (persoalan) bagi masyarakat non-Arab ini untuk memahami Alquran. Sebuah pertanyaan penting muncul, bagaimana hukumnya menerjemahkan Alquran dengan bahasa ‘Ajami/non-Arab? Perbedaan pendapat pun muncul, ada yang awalnya melarang, namun tidak sedikit yang membolehkan dengan dasar bahwa Alquran tidak hanya untuk dibaca, namun untuk dipahami.

Mereka yang membolehkan penerjemahan Alquran juga berlandaskan pada ucapan Sayyidina Ali “al-Qur’an tidak dapat bicara kecuali kalian ajak bicara”. Kira-kira seperti itulah pesan Sayyidina Ali kala itu. Oleh karenanya, di era modern ketika umat Islam sudah berada di berbagai penjuru dunia, para ulama’ pun memikirkan bagaimana supaya Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa mereka masing-masing.

Dalam konteks Indonesia sendiri, meski penerjemahan Alquran—bahkan bisa dikategorikan tafsir—telah dirintis oleh ulama Aceh, Abdul Rauf Fansuri di abad ke 17, namun pada era selanjutnya penerjamahan Alquran sesuai bahasa daerah terkadang masih menjadi polemik, alasannya untuk menjaga kesakralan Alquran. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata argumen di atas dipatahkan oleh para ulama’ lain. alasannya, umat ini tidak akan memahami Alquran kalau tidak menggunakan bahasa yang tidak dipahami mereka.

Baca Juga :  Olahraga Lari ala Rasulullah

Maka dari itu, muncullah beberapa karya terjemahan Alquran berbahasa daerah masing-masing. Ada yang menggunakan bahasa Jawa, Sunda, Padang, Sulawesi, dll.

Akan tetapi, sepertinya masih banyak dari kita yang kurang “ngeh” tentang sejarah penulisan terjemahan Alquran berbasa Inggris. Karena itulah penulis ingin mengutarakannya, meski secara singkat.

Setidaknya mengacu pada Mufakhkhar Hussain Khan, Du Ryer adalah orang pertama dari Prancis yang menerjemahkan Alquran dengan menggunakan bahasa Prancis pada tahun 1647. Penerjemahan ini menjadi sangat penting karena para orientalis menjadikan bahasa Prancis sebagai sumber rujukan utama dalam kajian mereka terhadap agama Islam. Terlebih, Prancis ketika itu juga telah berekspansi ke wilayah Ustmani dan Moghul.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1649 terbitlah terjemahan Alquran berbahasa Inggris yang lengkap sampai 30 juz dengan judul The Alcoran of Mahomet, terbit di London. Masih menurut Hussain Khan, karya ini awalnya tidak diketahui siapa pengarangnya (anonimous), akan tetapi karena Alexander Ross memberikan kritikan/catatan terhadapnya, maka kemudian karya ini disandarkan padanya.

Terjemahan ini pun menjadi satu-satu terjemahan Alquran berbahasa Inggris selama satu abad lamanya. Karya ini tidak diterjemahkan melalui bahasa Arab, akan tetapi diterjemahkan dari karya Du Ryer sebelumnya. Hasilnya? karya ini mempunyai banyak sekali kekurangan. Di antaranya adalah adanya sikap anti Islam baik dalam pendahuluan, isi dan appendix-nya. Selain itu, masih banyak terjadi kesalahan dari sudut pandang bahasa.

Selanjutnya, dunia Barat juga mengenal George Sale. Dari tangannya lah The Koran: Commonly called the Alkoran of Mohammed terbit di London, 1734. Bahkan begitu larisnya di pasaran, karya ini telah dicetak ulang sebanyak 140 kali sampai tahun 1984. Terjemahan ini dinilai lebih akurat daripada terjemahan yang ditulis Ross. Di dalamnya juga terdapat beberapa catatan kaki untuk penjelasan ayat. Karena itulah terjemahaman ini cukup popular di kalangan non-muslim.

Baca Juga :  Para Ulama yang Belum Pernah Berhaji

Namun, terjemahan ini ternyata juga mengandung beberapa kelemahan seperti penggunaan bahasa yang sulit dibaca dan dipahami, beberapa ayat yang hilang, dan juga beberapa contoh yang salah diterjemahkan. Misalnya, pengulangan ayat Alquran yang berbunyi “Yaa ayyuhan naas” diterjemahkan dengan “Wahai penduduk Makkah”. Selain itu, beberapa ayat Alquran pun luput diterjemahkan. Seperti surat Ali Imran 3:98.

Selanjutnya, JM Rodwell menulis The Koran, terbit di London thaun 1861, karya ini dicetak ulang sebanyak 26 kali sampai tahun 1978. Terjemahannya ini pun dinilai sebagai karya ilmiah dengan penggunaan bahasa yang bagus. Ia membagi urutan surat berdasarkan kronologi turunnya wahyu. Sayangnya, pandangan negatifnya terhadap Islam dalam pendahuluan maupun dalam beberapa penjelasan ayat masih ditemukan.

Sebagai contoh, Rodwell mengatakan bahwa Muhammad adalah pembuat Alquran, ia juga menuduh bahwa Alquran sengaja mengambil sumber dari Kristen, Yahudi dan Zoroaster. Ditambah lagi, Rodwell juga melakukan beberapa kesalahan penerjemahan dan penjelasan ayat Alquran.

Selain Rodwell, E.H. Palmer adalah penerjemah kesekian dari Barat. Karyanya The Koran Translated dicetak di London, 1880. Lalu dicetak ulang tahun 1889 oleh Oxford University Press. Akan tetapi, kualitas penerjemahannya sangat masih kurang bagus. Satu ulasan mengatakan bahwa terdapat 65 contoh penerjemahan dan penghilangan ayat di dalamnya. Bahkan Hafidz Ghulam Sarwar menyebut karya ini sebagai terjemahan yang buruk, ceroboh, dan cenderung menyerang Islam.

Itulah sekilas dari beberapa terjemahan Alquran berbahasa Inggris dari pertama kali muncul sampai dengan abad modern. Beberapa contoh yang penulis utarakan hanyalah beberapa dari sekian banyak karya yang ditulis oleh sarjana Barat. Memang dari penjelasan di atas kita bisa tahu bagaimana para sarjana Barat di masa lalu melihat Alquran bukan hanya sebagai objek penelitian, akan tetapi sebagai sasaran kritik.

Baca Juga :  Hikmah Alquran Diturunkan Secara Berangsur kepada Nabi Muhammad

Tentu pada era selanjutnya, masih ada banyak sekali sarjana Barat yang tidak hanya menerjemahkan Alquran, tetapi juga menafsirakannya. Pertanyaannya, apakah terjemahan dan penafsiran yang dilakukan sarjana Barat di era modern-kontemporer menggunakan paradigma yang sama seperti para Orientalis di masa silam?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here