Sejarah Singkat Kajian Hadis di Kalangan Syiah

0
144

BincangSyariah.Com – Barangkali bagi kaum muslim Indonesia yang mayoritas berafiliasi Sunni, mengenali aliran Islam lain adalah hal yang terbatas, baik terbatas akses atau terbatas sentimen. NU dan Muhammadiyah hanya sedikit beda cara berislam di negeri ini. Masih banyak aliran Islam yang belum kita kenali. Terlebih dalam beda ajaran yang signifikan dalam akidah, seperti kasus Ahmadiyah atau Syiah. Nama aliran yang disebut terakhir ini kerap identik dengan kesesatan bagi kebanyakan muslim Sunni di Indonesia. Banyak kasus persekusi atas komunitas penganut Syiah.

Perlu diakui Syiah adalah salah satu aliran Islam yang turut menentukan wajah Islam di era sekarang. Sejarah Syiah sangat panjang, dan bisa ditandai sejak konflik tahkim antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Bermula dari gerakan politik, mereka selanjutnya berkembang menjadi sistem fikih dan akidah tersendiri. Salah satu yang mereka kembangkan juga adalah tradisi keilmuan hadis.

Perlu ditandai bahwa Syiah memiliki banyak sekali aliran sempalan/firqah. Tradisi kajian hadis di kalangan Syiah berikut ini merujuk kepada Syiah Imamiyah, atau Itsna Asyariah/dua belas Imam. Aliran Syiah ini konon paling banyak dianut di dunia. Penjelasan ini merujuk pada buku Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World karya Jonathan A.C Brown dengan beberapa tambahan dari sumber lainnya.

Otoritas Nabi dan Keturunannya versi Syiah

Salah satu doktrin yang membedakan Sunni dan Syiah adalah dalam soal otoritas keturunan Nabi Muhammad SAW, yang didaulat menjadi imam. Konsepsi ini dikenal sebagai imamat. Dalam tradisi Syiah Imamiyah-Itsna Asyariah, ada 12 imam berawal dari Ali bin Abi Thalib sampai yang terakhir Al-Mahdi al-Muntazhar.

Ajaran akidah Sunni meyakini bahwa pribadi Nabi Muhammad adalah ma’shum, tersucikan dari dosa. Sedangkan dalam doktrin Syiah Imamiyah, status ma’shum atau ‘ishmah dari Nabi ini terejawentahkan pula dalam pribadi dua belas Imam yang juga masih keturunan Nabi. Doktrin ini yang akan berkonsekuensi dalam keilmuan hadis kaum Syiah.

Rujukan otoritas hadis dalam tradisi Sunni adalah Rasulullah SAW, sehingga secara umum definisi hadis dalam Sunni adalah “perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat tertentu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.” Sementara dalam tradisi hadis Syiah, otoritas riwayat hadis ini diperluas tidak hanya pada Nabi, namun juga pada para Imam. Dengan kata lain, para Imam ini selain meriwayatkan hadis, mereka juga menjadi sumber rujukan dan sandaran periwayatan hadis.

Baca Juga :  Faidah Mengetahui Nama Asli Nabi Khidir

Sumber Periwayatan Hadis

Setidaknya ada tiga model bagaimana hadis diriwayatkan dalam tradisi Syiah Imamiyah: pertama, hadis disandarkan pada Nabi, dan diriwayatkan oleh para imam. Kedua, hadis adalah perkataan yang disampaikan seorang Imam, dan diriwayatkan oleh Imam setelahnya. Ketiga, perkataan seorang Imam yang diriwayatkan oleh para pengikutnya.

Imam didaulat memiliki sifat ‘ishmah (keterjagaan dari dosa, infallibility). Diri mereka sendiri adalah rujukan hukum Islam kalangan Syiah. Jika mengaku meriwayatkan dari Nabi, keterangan mereka tak dipersoalkan ketersambungan sanadnya, mengingat sifat-sifat kenabian ada pada mandat dan pribadi para Imam. Hal ini tentu berbeda dengan periwayatan hadis Sunni, di mana ketersambungan sanad sampai ke Nabi menjadi syarat kesahihan. Di sisi lain, kalangan Syiah ini dalam banyak aspek juga mengikuti cara periwayatan hadis seperti Sunni, yakni meriwayatkan dari sahabat atau generasi setelahnya.

Momen-Momen Perkembangan Keilmuan Hadis di Kalangan Syiah

Ada beberapa momen yang dipandang menentukan perkembangan keilmuan hadis dalam komunitas Syiah. Pada mulanya adalah persoalan peran Sayyidina Ali dan keturunan beliau dalam hak politik dan rujukan keagamaan. Kita sedikitnya tahu bahwa masyarakat Syiah menaruh respek hormat dan kepercayaan tersendiri kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Perbedaan memandang sejarah Sayyidina Ali dan keturunannya menentukan bagaimana hadis diterima luas dalam tradisi Syiah.

Selain itu, adalah persoalan pasca wafatnya imam kesebelas, Hasan Al-Askari. Ketika tradisi Imam berakhir dengan “imam yang tersembunyi” yaitu Al-Mahdi al-Muntazhar yang sosoknya diperdebatkan, maka timbul pertanyaan: bagaimana ajaran Syiah dapat diajarkan dan dianut generasi selanjutnya? Karena itu periwayatan dan pencatatan hadis sebagai cara merawat ajaran Syiah diperlukan.

Salah satu usaha yang dilakukan adalah mulai melakukan pencatatan-pencatatan keterangan para Imam. Salah satu yang banyak dicatat adalah dari Ja’far Al-Sadiq. Dari sini dikenal salah satu mazhab fikih dalam Syiah, yaitu mazhab Ja’fari, merujuk pada keterangan-keterangan dari Imam keenam ini. Imam-imam lain juga dicatat pendapatnya dalam berbagai kompendium atau kitab-kitab.

Baca Juga :  Jenis-jenis Kurma

Kitab-kitab berisi riwayat para imam ini disebut sebagai ashl, atau ushul. Kitab-kitab ushul ini menjadi basis doktrin, fatwa, isu-isu seputar ahlul bait, hingga visi politik. Selain kitab ushul, dari para Imam ini juga diriwayatkan kitab-kitab fadhail (keutamaan)atau khasais (anugerah dan karamah) para imam.

Namun hal itu belum cukup menjawab banyak hal terkait doktrin Syiah, karena sifatnya yang terpisah-pisah berdasarkan Imam. Ada inisiatif menjadikannya sebagai kitab kanon/jami’ atau , seperti pada kitab-kitab hadis Sunan di kalangan Sunni. Salah satu tokoh yang populer menulis koleksi hadis para Imam Syiah ini adalah Muhammad Al-Qummi (w. 903) dalam kitab Bashair ad-Darajat. Selain itu, ulama yang dapat ditandai terkait tradisi koleksi dan kanonisasi hadis ini adalah Ibnu Babawayh dan Ibrahim bin Muhammad Ats-Tsaqafi.

Saat ini yang paling banyak dirujuk adalah:

Al-Kafi fi ‘ilmi ad-din karya Muhammad Al-Kulaini (w. 939 M);

Man la Yahdluruhu al-faqih karya Ibnu Babawayh (W. 991 M);

Tahdzibul Ahkam dan Al-Istibshar fi ma Ukhtulifa fihi al-Akhbar karya Abu Jafar Muhammad at-Thusi.

Kitab-kitab riwayat di atas banyak dirujuk oleh masyarakat Syiah Imamiyah sebagai dasar hukum, sebagaimana kaum Sunni merujuk kitab hadis utamanya kutubus-sittah.

Keseluruhan konteks asal-usul tradisi hadis Syiah ini terjadi pada masa abad ke-8 sampai ke-11 Masehi, di mana Syiah terlindungi oleh otoritas Dinasti Abbasiyah, serta dalam perkembangannya, masyarakat Syiah mengembangkan Dinasti Fatimiyah di Mesir, Dinasti Buwaihiyah, serta Dinasti Safawiyah di Iran yang sistem keislamannya berhaluan Syiah. Demikianlah perkembangan intelektual kalangan Syiah mendapat perlindungan.

Periwayatan hadis dalam tradisi Syiah juga mengenal kritik hadis, seperti kritik sanad dan kritik matan. Untuk keperluan kritik perawi dan sanad, ditulis kitab tarajum/biografi perawi hadis-hadis Syiah. Tercatat kitab seperti Rijal at-Thusi karya Muhammad bin Hasan al Thusi (w. 1067 M), kemudian karya Ahmad bin Muhammad Al-Jauhari (w. 1010 M) yaitu Kitab al Isytimal ‘ala ma’rifati rijal.

Selain kritik sanad, mereka juga mengadopsi kritik matan. Disebutkan bahwa tren kritik hadis ini merujuk model Muqaddimah karya Imam Ibnu Shalah, dengan beberapa adopsi sesuai doktrin Syiah. Melalui kritik ini, mereka membuat garis demarkasi dengan kalangan Syiah yang ekstrem atau ghuluw, utamanya dalam masalah imamat. Rasionalitas Syiah dalam membaca teks keagamaan termasuk hadis dipengaruhi kuat oleh tradisi rasionalis Mutazilah, ketika Abbasiyah berkuasa. Salah satu kaidah yang dipakai adalah hadis dipandang sahih jika “tidak bertentangan dengan akal”.

Baca Juga :  Kisah Haji Pura-Pura ke Singapura di Zaman Hindia Belanda

Dalam periwayatan hadis Syiah maupun Sunni, ada relasi-relasi antar aliran ini yang menarik. Di antaranya adalah pencantuman hadis-hadis pro-Sayyidina Ali dalam kitab hadis Sunni, serta periwayatan hadis Ghadir Khum (…man kuntu mawlahu fa ‘Aliyyu mawlahu…) yang nantinya dipahami berbeda oleh Syiah dan Sunni. Selain itu ada juga perawi-perawi yang diklaim sebagai pengikut Syiah dalam periwayatan Sunni.

Di era selanjutnya kalangan Syiah dalam penggunaan sumber hukum Islam, terbagi menjadi dua kelompok besar: kalangan yang ushuli – lebih rasionalis, serta akhbari – lebih berpedoman pada riwayat-riwayat. Keterangan lebih lanjut dari Shi’i Islam: A Beginner Guide karya Moojam Momen seputar dualisme penggunaan riwayat dalam ajaran Syiah tersebut. Tokoh Syiah modern seperti Ayatollah Khomeini atau  Ali Syariati, berasal dari kalangan ushuli.

Potret ini tentu sangat sederhana, dan banyak sekali dinamika yang tidak terpotret mengenai tradisi periwayatan hadis kaum Syiah. Belum lagi Syiah pun memiliki banyak sempalan dengan karakteristiknya masing-masing, mulai Zaidiyah, Ismailiyah, dan lainnya. Namun menarik kita telusuri bahwa kontestasi ajaran dalam Syiah pun juga memengaruhi bagaimana ajaran ini tetap eksis serta membentuk wajah dunia Islam hari ini. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here