Sejarah Sahabat Nabi: Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Sahabat Nabi Kepercayaan Umat

2
2778

BincangSyariah.Com – Di masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW tidak banyak yang mau mendengarkan ajaran Islam. Meskipun Nabi memiliki gelar al-Amin (Orang terpercaya) dari kalangan Quraisy, tetapi ketika Ia mengungkapkan hal yang asing di tengah-tengah masyarakat pagan yaitu tauhid, maka apa pun yang dikatakan Nabi Muhammad saw. dianggap nyeleneh, mengada-ada, bahkan Nabi sendiri dikatakan sebagai orang gila, penyihir dan lain lain.

Satu di antara orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah SAW adalah ‘Amir bin Abdullah bin al-Jarrah atau dikenal dengan nama Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Menurut catatan Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat al-Kubra, Abu Ubaidah bersama lima sahabat lain (Ibnu Madz’un, Ubaidah bin Harits, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah bin Abdul Asad dan Abu Ubaidah) berangkat menemui Nabi untuk menyatakan keimanan mereka. Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan as-Sabiqun al-Awwalun (orang-orang pertama yang masuk Islam).

Punya Predikat Amin al-Ummah (Kepercayaan Umat)

Ada beberapa cerita tentang kedudukan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di sisi Rasulullah Saw.. Anas bin Malik meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sungguh bagi setiap umat terdapat orang kepercayaan dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah (Inna likulli ummatin amiinan wa amiinu hadzihi al-ummah Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah).”

Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala dikutip riwayat dari Abdullah bin Umar yang bertanya kepada ‘Aisyah Ummul Mukminin, “Siapkah di antara para sahabat yang paling dicintai Rasulullah saw?” Jawab ‘Aisyah: “Abu Bakar, kemudian Umar, lalu kemudian Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

Tidak hanya keutamaan yang bersumber dari Nabi, para sahabat pun mengakui keunggulan Abu Ubaidah. Dikisahkan ketika Nabi Muhammad saw. telah wafat para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk menentukan figur yang tepat untuk memimpin umat Islam. Abu Bakar berkata, “Aku telah ridha yang memimpin kalian di antara dua laki-laki ini.” Kemudian Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab dan Abu ‘Ubaidah Ibnu al-Jarrah.

Baca Juga :  18 Desember Hari Bahasa Arab Sedunia, Inilah Enam Keistimewaan Bahasa Arab Menurut Ulama

Terlibat dalam Pengumpulan Mushaf al-Qur’an

Abu Ubaidah bin al-Jarrah adalah sahabat yang secara intelektual cukup menonjol. Ia termasuk dari panitia pengumpulan mushaf al-Quran di masa Abu Bakar. Kemudian Abu Ubaidah juga memiliki beberapa riwayat yang tercatat dalam Sahih Muslim, Jami’ karya Abu ‘Isa, dan musnad-musnad lain. Adapun para tabi’in yang memiliki sanad dari Abu Ubaidah di antaranya adalah al-‘Irbadh bin Sariyah, Jabir bin Abdullah, Abu Umamah al-Bahili, Samurah bin Jundab, Aslam, dan Abdurrahman bin Ghanam. Secara nasab, Abu Ubaidah adalah dari kalangan Quraisy, masih memiliki garis keturunan yang sama dengan Rasulullah saw.

Cekatan di Medan Perang namun Tetap Rendah Hati

Selain dari aspek intelektual dan nasab, Abu Ubaidah termasuk sahabat yang lincah dan cekatan di medan perang dan juga dikenal sebagai orang yang tawadhu. Informasi ini tergambar dalam kitab al-Maghazi karya Musa bin ‘Uqbah sebagaimana dikutip oleh Syamsuddin al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala.

Disebutkan bahwa tatkala perang Dzat al-Salasil yang dipimpin ‘Amr bin ‘Ash, pasukan muslim cukup kesulitan dan butuh bala bantuan. Kemudian Rasulullah mengirim pasukan tambahan dengan pimpinan Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah. Setibanya pasukan tambahan tadi, ‘Amr bin ‘Ash kemudian berkata kepada rombongan itu, “Aku pemimpin kalian (Ana Amiirukum).” Rombongan itu mengelak dan berkata, “Anda pemimpin pasukanmu sendiri, pemimpin kami Abu Ubaidah.” Melihat hal ini, Abu Ubaidah tidak tinggal diam. Karena ketawadhuan dan kebaikan akhlaknya, Ia langsung menyerahkan panji kepada ‘Amr bin ‘Ash (fasallama al-imarah li ‘Amr).

Pada masa kepemimpinan Abu Bakar al-Shiddiq, pasca berjibaku dengan para pemberontak dari kelompok orang-orang murtad dan para pendukung Nabi palsu, Abu Ubaidah termasuk panglima perang yang diutus untuk membebaskan Syam dari pendudukan Byzantium. Bersama sama dengan pasukan Yazid bin Abu Sufyan, ‘Amr bin ‘Ash, dan Syurahbil bin Hasanah.

Baca Juga :  Usia Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Dikhitan?

Pada saat yang bersamaan dengan pasukan ke Syam, Abu Bakar juga mengutus pasukan Khalid bin Walid menuju Irak. Terjadilah peperangan demi peperangan melawan cengkeraman Byzantium (Romawi Timur) di Jazirah Arab. Setelah pasukan Khalid berhasil menaklukkan Irak, Abu Bakar memerintahkan pasukan Khalid untuk membantu pasukan yang berada di Syam. Khalid memotong jalan melewati padang pasir untuk menuju Damaskus, bagian dari wilayah Syam yang saat itu sedang terjadi pertempuran dengan pasukan Byzantium.

Di tengah terjadinya perang, Abu Bakar sebagai khalifah sekaligus panglima tertinggi wafat di Madinah pada tahun 13 H. Estafet kepemimpinan digantikan Umar bin Khattab. Kebijakan Umar untuk pasukan yang berada di Damaskus adalah dengan menunjuk Abu Ubaidah Ibnuu al-Jarrah untuk menggantikan posisi panglima perang Khalid bin Walid. Namun ketika perintah itu datang kepada Abu Ubaidah, ia tidak langsung mengumumkannya kepada pasukan karena sifat rendah hati (tawadhu) dan khawatir dapat memecah konsentrasi pasukan.

Baru setelah Damaskus sudah berhasil dikuasai dan pasukan muslim sudah cukup tenang, Abu Ubaidah mengumumkan bahwa dirinya ditunjuk sebagai pimpinan pasukan. Abu Ubaidah memutuskan untuk melakukan perjanjian damai dan berjanji melindungi rumah dan tempat ibadah mereka.

Setelah melewati berbagai peperangan, pada akhirnya Abu Ubaidah bin al-Jarrah, seorang sahabat yang santun, tawadhu, sekaligus cekatan di medan perang, wafat pada tahun 18 H di usia 58 tahun pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Ibnu al-Jarrah berjasa besar bagi perkembangan Islam di masa awal hingga menyebar ke berbagai penjuru jazirah Arab.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here