Sejarah Ringkas Masa Pengasuhan Nabi Muhammad Saat Masih Kecil

0
1349

BincangSyariah.Com – Nabi Muhammad saw dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan suci dan mulia dalam keadaan yatim. Ayahnya meniggal pada saat beliau masih dalam kandungan. Tepatnya pada umur dua bulan dari masa kehamilan ibundanya. (Fiqih Sirah, Ramadhan Said al-Buty, hal. 47)

Ia diasuh dan disusui langsung oleh ibunya (sayyidah Aminah). Akan tetapi tidak berlangsung lama. Ia hanya diasuh dan disusui oleh ibundanya berlangsung selama dua sampai tiga hari.

Selanjutnya, setelah ia dibawa ke sebuah perkampungan tepatnya di kediaman Bani Sa’ad agar diasuh dan disusui oleh seorang perempuan yang bernama Tsuwaibah atauh Halimah. Pada saat itu ia sedang mengasuh empat orang anak dari perkawinannya dengan seorang laki-laki yang bernama Harits bin Abdi al-Izza.

Kebiasaan para pembesar kala itu memang demikian. Tujuannya agar marwah dan keistimewaan orang-orang Arab sebagai orang-orang yang pakar sastra dan kecintaannya terhadap keistimewaannya bisa tetap terjaga. Sedang kabilah Hawazan dan Bani Sa’ad pada saat itu sedang naik rating tentang kesusatraan

Setelah lima atau enam tahun beliau dikembalikan lagi pada ibundanya. Namun tidak berselang beberapa lama ibundanya wafat. Akhirnya Nabi Muhammad saw diasuh oleh kakeknya, sayyidina Abdul Muthallib selam kurang lebih tiga tahun.

Dia sekalipun termasuk pembesar kaumnya dan sibuk dengan urusan kemasyrakatan serta lain sebagainya tetap tidak melupakan pengasuhan Nabi Muhammad saw. Dia sangat mencintai beliau. Mengistimewakan beliau dari sepuluh anak-anaknya sendiri. Karena beliau sudah mengetahui tanda-tanda keagungan yang melekat pada diri Muhammad saw kecil.

Buah kecintaannya terhadap Nabi Muhammad kecil, dia selalu saja mengajaknya kemanapun pergi. Tidak meninggalkannya dalam keadaan sendirian agar pengawasan dan perhatiannya selalu saja hadir buat baginda Nabi Muhammad saw kecil.

Baca Juga :  Nama Lain Malam Nisfu Sya'ban

Pada umur kedelapan tahun, Nabi Muhammad saw ditinggal wafat oleh kakeknya selama-lamanya. Kala itu kakeknya sudah berumur delapan puluh dua tahun. Akan tetapi, sebelum kematiannya dia sudah sudah meminta anaknya, Abu Thalib (saudara kandung bapak Nabi Muhammad saw) untuk mengurus, mengasuh dan memperhatikan Nabi Muhammad saw dengan janji prasetia.

Pasca wafatnya kakek Nabi Muhammad saw pengasuhan diambil alih langsung oleh pamannya, Abu Thalib. Karena sudah melakukan janji prasetia dengan ayahnya semenjak masih hidup untuk merawat, memerhatikan dan mengasuh Nabi Muhammad saw.

Tidak jauh berbeda, bentuk pengasuhan pamannya tidak jauh berbeda dengan pengasuhan kakeknya. Karena ia memang juga sudah pada tahu bahwa Nabi Muhammad saw betul-betul orang yang istimewa dengan keajaiban-keajiban yang ia miliki.

Terbukti ia sangat mencintai Nabi Muhammad saw melebihi anak-anaknya. Nabi Muhammad saw dikedepankan olehnya dalam segala hal daripada anak-anaknya. Ia tidak pernah tidur sebelum nabi Muhammad saw tidur. Ia pun juga selalu mengajak beliau kemanapun ia pergi.

Suatu ketika Abu Thalib ingin pergi ke negeri Syam untuk berdagang dan dia tidak ingin ditemani nabi Muhammad kecil pada umur dua belas tahun dengan alasan sulitnya perjalanan, akan tetapi nabi Muhammad saw berkat kecintaanya terhadap pemannya ia tetap mau ikut dan tidak ingin ditinggal. Akhirnya Abu Thalib tetap mengajaknya dengan penuh kasih sayang dan tidak memarahinya.

Selanjutnya, sebagai kebiasaan anak-anak para pembesar dan tokoh lainnya kala itu, Nabi Muhammad saw pada saat umur sepuluh atau dua belas tahun sudah terbiasa mengembala kambing. Karena memang pekerjaan ini merupakan pekerjan yang mulia. Di samping itu juga merupakan pembelajaran bagaimana menjaga dan melindungi alam. Bukan diartikan sebagai bentuk pengurangan dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw dalam hal mengasuh. (Baca: Empat Pelajaran Penting dari Kisah Kelahiran dan Pengasuhan Nabi Muhammad)

Baca Juga :  Hukum Mewarnai Rambut

Intinya, penulis ingin menyampaikan pesan bahwa dengan sejarah ringkas masa kecil beliau ini bahwa bentuk dan pola pengasuhan Nabi Muhammad saw mulai dari ibunya, sayyidah Halimah, Kakek hingga pamannya berlangsung dengan penuh cinta dan kasih sayang. (lihat: Daairatu Ma’arif Fi Sirat Al-Nabi, karya syaikh Syibli Al-Nu’mani disempurnakan oleh syaikh Sulaiman al-Nadwi, hal. 148-153)

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here