Sejarah Bulan Ramadhan: Ali bin Abi Thalib Mengislamkan Yaman

2
1128

BincangSyariah.Com – Rasulullah mengutus menantunya, Ali bin Abi Thalib ke Yaman pada bulan Ramadan Tahun Ke-10 H.

Beliau memerintahkan Ali untuk membentuk pasukan di Quba’, perintah tersebut dilaksanakan sampai semuanya lengkap.

Pada saat itu, Rasulullah sendiri yang mengikatkan tali bendera dan memasangkan imamah (serban) pada Ali bin Abi Thalib. Rasulullah berpesan, “Berangkatlah dan jangan berpaling.

Ali kemudian bertanya, “Wahai Rasululah! Apa yang harus saya lakukan di sana?

Beliau bersabda, “Ketika engkau telah memasuki wilayah mereka, ajaklah mereka untuk mengucapkan syahadat ‘Tiada Tuhan selain Alllah’. Jika mereka mengatakan ‘baiklah’, maka perintahkanlah mereka melaksanakan salat, dan janganlah engkau menginginkan yang lain. Sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang lantaran engkau, itu lebih baik bagimu dari pada segala sesuatu yang tampak oleh matahari. Janganlah engkau memerangi mereka, sebelum mereka memerangi kalian.”

Ali bin Abu Thalib beserta detasemennya yang berjumlah tiga ratus pasukan berkuda kemudian mulai berangkat. Mereka merupakan pasukan muslim yang pertama masuk ke wilayah Yaman. (Baca: Dzul Khalasah, Ka’bah Tandingan di Yaman)

Setelah sampai di daerah terluar Yaman yang dihuni oleh Bani Madhij al-Qahthaniyah, Ali memerintahkan pasukannya untuk berpencar. Setelah itu, mereka kembali lagi dengan membawa harta rampasan, jarahan, wanita, anak-anak, hewan ternak, domba dan lain sebagainya. Ali kemudian mengangkat Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami untuk mengurus harta jarahan. Harta-karta yang telah mereka dapat kemudian dikumpulkan pada Buraidah.

Setelah bertemu dengan kabilah Madhij, Ali bin Abi Thalib mengajak mereka untuk memeluk Islam, mereka menolak dan malah menghujani dengan anak panah dan batu. Ali kemudian menertibkan pasukannya, dan memberikan bendera kepada Mas’ud bin Sinan as-Sulami yang kemudian maju di barisan depan.

Salah seorang Madhij menantang duel satu lawan satu. Tantangan tersebut dilayani oleh Aswad bin Khuza’i as-Salami. Mereka berdua adalah prajurit berkuda, sehingga saling berbalas serang, sampai pada akhirnya Aswad bisa membunuhnya dan berhak mendapatkan salab (harta rampasan) nya.

Ali dan pasukannya kemudian memulai menyerang, dan berjatuhanlah korban dari pihak Bani Madhij; dua puluh orang meninggal dunia, lainnya melarikan diri dan meninggalkan bendera mereka yang masih dalam posisi tegak. Mereka yang melarikan diri sengaja tidak dikejar oleh Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib kemudian mengajak mereka untuk memeluk agama Islam, dan dengan segera mereka menerima ajakan tersebut. Sekelompok pemimpin mereka maju menghadap dan berbai’at Islam kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka mengatakan, “Kami adalah pemimpin dari kaum yang berada di belakang kami, ini adalah sedekah kami, ambillah dengan hak Allah”.

Ali kemudian mengumpulkan semua ghaniman (harta rampasan) kemudian dibagi menjadi lima bagian. Setelah itu di undi, yang salah satu undiannya terdapat tulisan “untuk Allah”, dan undian tersebutlah yang pertama keluar, yaitu bagian khumus. Ali membagi bagian ghanimah sesuai dengan bagian masing-masing.

Sesuai dengan surat al-Anfal ayat 41, seperlima dari ghanimah adalah hak Allah dan Rasul-Nya, para kerabat Rasul (bani Hasyim dan Muthallib), anak-anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Sedangkan empat perlimanya diperuntukkan bagi pasukan yang turut dalam perang.

Diriwayatkan pula, Ali juga mengajak kabilah Hamdan di Yaman untuk memeluk Islam, dan dalam waktu sehari, seluruh kabilah Hamdan telah memeluk Islam. Ali kemudian mengirimkan surat kepada Rasulullah memberitakan kejadian tersebut.

Setelah menerima khabar tersebut, Rasullah langsung melakukan sujud syukur, kemudian duduk dan mengucapkan salam, “Keselamatan atas kabilah hamdan”. Setelah itu penduduk Yaman berturut-turut memeluk Islam.

Setelah misi ke Yaman selesai, Ali bin Abi Thalib pulang menghadap Rasulullah dan mendatangi beliau di makkah pada saat haji Wada’.

Kesuksesan Ali bin Abi Thalib tersebut dilanjutkan dengan misi Rasulullah berikutnya, yaitu dengan mengirimkan dua orang Amir ke Yaman untuk mengurus pengadilan, penarikan zakat, imam shalat dan dan mengembangkan Islam. Mereka adalah Mu’ad bin Jabal yang di tempatkan di distrik atas Yaman mulai dari ‘Adan, dan Abu Musa di distrik bawah.

Rasulullah berpesan kepada mereka berdua, “Buatlah mudah, jangan mempersulit. Berilah khabar gembira, jangan buat mereka lari”.

Rasul juga berpesan kepada Muad bin jabal, “Engkau akan mendatangi kaum penganut Ahlul kitab. Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. jika mereka telah patuh, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah patuh, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka membayar zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka telah patuh, takutlah untuk mengambil harta-harta mereka yang berharga. Takutkan terhadap doa orang-orang yang teraniaya, karena diantara doa tersebut dan Allah tidak ada hijab yang menghalangi” .

Wallahu A’lam []

Sember bacaan: Muhammad Khadari, Nur al-Yaqin fi Siirati Sayyidil Mursalin. Muhammad bin umar al-Waqidi, Kitab al-Maghaazi li al-Waqidi. Ibnu Sayyidi an-Naas, Uyun al-Atsar. Ibnu Sa’ad, Ghazawatur Rasul wa Sarayaahu.

2 KOMENTAR

  1. Waalaikumsalam Wr.Wb.

    Imam Bukhari meriwayatkan sabda Baginda Nabi:
    … مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
    “Siapa saja melakukan salat pada malam Lailatul Qadar dengan beriman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu..”

    Terimakasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here