Sejarah Puasa Ramadhan

0
1517

BincangSyariah.Com- Allah swt berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Dari ayat di atas, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita ambil pelajaran. Pertama, puasa adalah kewajiban; kedua, sejarah puasa telah diwajibkan tidak hanya kepada umat muslim, tapi juga umat sebelumnya; ketiga, tujuan berpuasa adalah menciptkan insan yang bertakwa.

Tulisan ini menceritakan pesan kedua dari ayat di atas, yaitu sejarah puasa Ramadhan. Pada ayat ini Allah swt hanya memberikan informasi bahwa kewajiban berpuasa telah dilakukan oleh umat sebelum Nabi Muhammad, tidak disebutkan secara tegas nama puasanya. Lantas bagaimana sebenarnya sejarah puasa tersebut?

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sebelum Islam datang, umat terdahulu melakukan puasa sebanyak 3 hari pada setiap bulannya. Namun ketika zaman nabi Nuh as, puasa tersebut dihilangkan dan diganti dengan puasa Ramadhan.

Penjelasan lain datang dari kitab tafsir al-Qurthubi, beliau menjelaskan dengan mengutip pendapat al-Sya’bi dan Qatadah yang mengatakan bahwa puasa Ramadhan telah diwajibkan kepada pengikut Nabi Musa as dan nabi ‘Isa as. Namun pengikut mereka merubahnya dengan menambah sepuluh hari. Suatu ketika pemuka agama mereka sakit, mereka bernazar apabila Allah menyembuhkan sakitnya maka mereka akan menambah 10 hari lagi puasa, jadilah puasa mereka 50 hari. Dalam pelaksanaannya mereka kesulitan sehingga memindahkan waktu pelaksanannya ke musim semi.

Bahkan sampai saat ini, Yahudi maupun Nasrani masih menjalankan puasa. Orang Yahudi berpuasa 6 hari dalam satu tahun, ada juga sebagian mereka melakukan puasa selama 1 bulan dan orang Nasrani melakukan puasa selama 40 hari.

Baca Juga :  Ini Tugas Malaikat Israfil Sebelum Kiamat Datang

Cara berpuasa orang Yahudi dan Nasrani berbeda-beda. Misalnya, orang Yahudi berpuasa penuh selama 24 jam, hanya berbuka satu kali. Adapun umat Nasrani berpuasa sepanjang hari dan tidak memakan-makanan yang memiliki ruh, dan berbagai macam cara lainnya yang tidak mungkin dijelaskan secara detil dalam tulisan ini.

Dalam catatan sejarah, sebelum kedatangan agama Islam, kaum Arab saat itu sudah memiliki hubungan yang erat dengan bulan Ramadhan. Kakek Rasulullah saw, Abdul Muthallib, selama bulan Ramadhan selalu melakukan meditasi di gua Hira dan banyak bersedekah. Pada saat itu, orang-orang Arab sangat mengagung-agungkan bulan Ramadhan. Keagungan bulan Ramadhan sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial mereka, bahkan dikatakan mereka mengharamkan berperang pada bulan Ramadhan, sebagaimana haramnya melakukan peperangan pada asyhur al-hurum lainnya.

Ketika Islam datang, tepatnya ketika Nabi Muhammad saw sampai di Madinah mereka mendapati orang-orang Yahudi berpuasa selama sepuluh hari bulan Muharram. Puasa tersebut adalah bentuk rasa syukur mereka karena Allah menyelamatkan nabi Musa dari bahaya tenggelam ketika dikejar-kejar Fir’aun. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadis diriwayatkan oleh imam Bukhari

عَنْ أَبِي مُوسَى  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : ” كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَصُومُوهُ أَنْتُمْ ”  .

Artinya: Abu Musa bercerita, dahulu ketika sampai pada hari ‘Asyura, orang Yahudi menjadikannya sebagai hari raya. Rasulullah saw bersabda, “berpuasa lah kalian.”

Bahkan dalam riwayat lain dikatakan “kita lebih berhak terhadap Musa, berpuasalah kalian”. Umat Islam mempercayai bahwa Musa adalah Nabiyullah, utusan Allah. Sehingga sangat pantas menghormati beliau dengan melaksanakan puasa.

Saat itu kewajiban puasa hanya satu hari saja, sebab kondisi saat itu umat Islam masih lemah. Setahun pasca kewajiban puasa ‘Asyura, tepatnya pada tahun 2 H turunlah kewajiban puasa Ramadhan. Ketika Allah swt menurunkan surah al-Baqarah ayat 183 di atas. Kewajiban puasa ‘Asyura diganti dengan kewajiban puasa Ramadhan.

Baca Juga :  Doa Setelah Belajar Ala Pesantren

عَنْ عَائِشَةَ -رضي الله عنها- قَالَتْ “كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ. فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ، وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ”.

Artinya: Aisyah bercerita bahwa mereka (para sahabat) berpuasa di hari ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, saat itu Ka’bah masih tertutup (tidak bisa diakses oleh umat muslim). Ketika kewajiban puasa Ramadhan telah datang, Rasulullah saw bersabda, “siapa yang ingin berpuasa (‘Asyura), berpuasalah, dan siapa yang tidak ingin berpuasa, maka jangan kerjakan.” (HR. Muslim)

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here