Sejarah Pertama Kali Terjadi Pemalsuan Hadis

0
924

BincangSyariah.Com –  Ahmad Amin dalam Fajr al-Islam menyatakan bahwa hadis palsu sudah muncul sejak Nabi SAW masih hidup. Hal ini berangkat dari riwayat ancaman terhadap setiap orang yang berbohong dan melakukan pendustaan atas nama beliau SAW:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار

“Barang siapa berdusta terhadap diriku secara sengaja, maka dia pasti akan disediakan tempat kembalinya di neraka”.

Menurut Ahmad Amin, hadis ini mensinyalir pernah terjadi upaya pendustaan terhadap Nabi semasa beliau hidup. Tentunya, pendustaan demikian juga akan lebih mudah terjadi –dan pasti akan terjadi setelah Nabi SAW wafat. (Baca: Penyebab Pemalsuan Hadis Nabi)

Hasyim Ma’ruf Amin dalam al-Wadh’u wa al-Wadhdha’un (1971), lebih tegas lagi menyatakan, bahkan meyakini, bahwa peristiwa pendustaan terhadap Rasulullah sudah pernah tersebar di kalangan para sahabat Nabi dan terjadi semasa hidup beliau SAW. Selanjutnya dia mengatakan bahwa tidak mungkin Rasulullah mengeluarkan pernyataan yang bernada keprihatinan, peringatan, bahkan ancaman terhadap adanya pendustaan terhadap dirinya, kalau tidak didahului oleh adanya gerakan-gerakan yang telah dilakukan sebelumnya oleh masyarakat generasi sahabat, dengan bentuk membuat-buat riwayat dusta tentang Nabi.

Pendapat ini disanggah oleh Mustafa as-Siba’i, karena tidak mungkin pada masa Rasulullah SAW, seseorang ataupun sahabat memalsukan berita atas nama beliau, dan seandainya itu terjadi, pasti secara mutawatir para sahabat akan mengoreksi dan menuturkannya.

Ketika Abu Musa al-Asy’ari bertamu ke rumah Umar dan tidak mendapatkan respon setelah 3 kali salam, ia pulang. Umar pun menyusulnya dan bertanya kenapa dia tidak menunggu. Abu Musa menjawab dengan mengutip sabda Rasulullah tentang batas tiga kali salam bagi seorang tamu. Mendengar hadis yang belum ia dengar, Umar langsung membawa Abu Musa ke hadapan para sahabat lain dalam rangka klarifikasi. Bukan dalam konteks Umar tidak percaya kepada Abu Musa, tapi iklim ‘kehati-hatian’ dalam meriwayatkan hadis sudah begitu ketat di masa mereka.

Baca Juga :  Tidak Banyak yang Tahu, Surah An-Nashr adalah Pesan Tanda Akhir Hayat Rasulullah

Maka menurut as-Siba’i, hadis man kadzaba ‘alayya adalah pencipta iklim tersebut di masa sahabat sekaligus warning buat generasi sesudahnya.

Di sisi lain, generasi sahabat dengan segala kelebihannya merupakan generasi yang telah menuai pujian dari al-Qur’an dan hadis. Kecintaan mereka kepada Nabi SAW dan semangat mereka dalam beragama merupakan salah satu indikasi dan alasan mereka tampil menjaga orisinalitas hadis.

Menurut Abu Syuhbah dan Abu Zahu (al-hadits wal Muhadditsun), pemalsuan hadis baru muncul akibat dari peristiwa fitnah kubra yang marak sekitar tahun 40 H; kurun sahabat-sahabat junior dan tabi’in-tabi’in senior. Yaitu pasca terbunuhnya khalifah Utsman.

Umat Islam terpecah menjadi pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib, pendukung Gubernur Mu’awiyah dan yang anti terhadap keduanya (khawarij). Sebagian dari oknum-oknum kelompok yang bertikai tersebut menciptakan hadis palsu, guna melegitimasi hawa nafsu mereka, dengan faktor arus utama; politk, fanatisme golongan, menjilat penguasa dan ekonomi.

Dari sinilah diyakini tersebarnya hadis-hadis palsu secara terstruktur, sistematis dan masif. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here