Sejarah Kasidah Burdah; Ditulis untuk Obati Lumpuh

1
1831

BincangSyariah.Com – Salah satu kasidah yang berisi pujian kepada Rasulullah saw. dan amat terkenal di kalangan masyarakat Muslim Sunni adalah al-Kawakib ad-Durriyah fî Madḥ Khair al-Bariyah yang lebih masyhur dengan sebutan Burdah. (Kasidah Burdah: Syair Cinta untuk Sang Rasul)

Kitab ini ditulis oleh penyair, ulama, dan sufi ternama, Imam al-Busiri ra. yang memiliki nama lengkap Syarafuddin Abu ‘Abdillah Muḥammad bin Sa‘id bin Ḥammad bin Muḥsin bin ‘Abdillah as-Ṣanhaji ad-Dalaṣi al-Busiri al-Misri (lihat Ibn Maqlasy al-Wahrani, Syarḥ al-Burdah al-Buṣiriyyah asy-Syarḥ al-Mutawassiṭ, 2009: 5).

Menurut Aḥmad ‘Ali Ḥasan ketika memberikan pengantar dalam kitab al-Burdah yang disyarahi oleh Syekh Ibrahim al-Bajuri (penerbit Maktabah aṣ-Ṣafa, Kairo), Imam al-Busiri ra. dilahirkan di Behsim tahun 609 H. dan wafat di Alexandria tahun 696 H.

Kasidah Burdah memiliki sejarah yang sangat mengesankan dan mengagumkan secara spiritual. Sehingga tidak heran kalau ia sangat terkenal dan namanya senantiasa harum merebak melintasi masa dan benua. Ia tidak hanya menjadi kasidah favorit yang senantiasa disenandungkan oleh beberapa Muslim, tetapi juga menjadi kajian dan penelitian yang terus dikuak nilai seni dan kandungannya yang sungguh luar biasa itu.

Adapun sejarah singkat digubahnya kasidah Burdah adalah sebagai berikut: Diceritakan dari Syekh ‘Abdurraḥman bin Muḥammad (dikenal dengan sebutan Ibn Maqlasy al-Wahrani) dari Syekh Abu ‘Ali al-Ḥasan al-Qusamṭini dari bapaknya, Abi al-Qasim bin Badis, dari al-Faqih al-Ḥafiẓ Abi Muḥammad ‘Abd al-Wahhab dari Imam al-Busiri ra.:

“Adapun alasanku (Imam al-Busiri) menggubah kasidah ini (Burdah) adalah karena aku terkena penyakit lumpuh (stroke) dan tiada satupun tukang obat yang bisa mengobatinya. Ia menyebabkan separuh tubuhku lumpuh dan membebani pikiranku. Maka aku berpikir untuk menggubah sebuah kasidah, yang dengannya aku bisa memuji dan menyanjung Nabi Muhammad saw. dan dengannya pula aku bisa bertawasul kepada Tuhanku agar menyembuhkan penyakitku.”

Baca Juga :  Punya Hajat dan Kebutuhan, Bacalah Penggalan Bait Qasidah Ini Agar Dikabulkan

“Akupun mulai menggubahnya bait demi bait. Setelah selesai menggubah kasidah tersebut, aku bermimpi Baginda Nabi Muhammad saw. ketika tidur di malam hari. Aku langsung bersimpuh di bawah kedua kakinya yang suci dan merendahkan diri di hadapannya seraya mengadukan penyakitku. Beliau kemudian mendekatiku dan mengusapkan kedua tangannya yang diberkahi kepada tubuhku. Maka aku langsung terbangun dan seketika itu aku sembuh. Al-ḥamdu lillâh (segala puji hanya bagi Allah).”

“Keesokan harinya aku keluar rumah dan kemudian ada seorang fakir menemuiku. Dia mengucapkan salam kepadaku dan meminta sebuah kasidah kepadaku. Padahal aku belum pernah menceritakan kepada siapapun kasidah (Burdah) tersebut. Aku berkata kepadanya: “Kasidah yang mana? Sebab, aku memuji-muji dan menyanjung Rasulullah saw. dengan beberapa kasidah yang bermacam-macam.”

Dia menjawab: “Kasidah yang awalanya amin tażakkuri jiranin bi żi salami (bait pertama kasidah Burdah). Demi Allah, kasidah tersebut bersenandung indah di hadapan Rasulullah saw. kemarin. Beliau mengayun seperti tangkai yang berayun.” Beliau (Imam al-Busiri) berkata: “Maka akupun memberikan kasidah (Burdah) itu kepada orang fakir tersebut dan menceritakan sejarah diciptakannya kasidah itu.”

“Setelah itu, kabar kasidah (Burdah) tersebar dan sampai kepada Bahâ’uddîn bin Ḥinnâ (perdana menteri raja aẓ-Ẓâhir). Dia akhirnya menyalin kasidah (Burdah) itu ke dalam koleksi puisi(diwan)nya dan menaruh perhatian yang sangat mendalam kepadanya.

Sehingga dia bernazar tidak akan mendengarkan kasidah tersebut kecuali dalam keadaan berdiri dan tanpa penutup kepala serta telanjang kaki (berdiri tanpa memakai kopiah dan sandal ini dilakukan dalam rangka ta‘ẓîman wa ikrâman atau mengagungkan dan menghormati kasidah tersebut).”

“Kemudian, anak laki-laki Baha’uddîn bin Ḥinna menderita penyakit mata dan belum menemukan obat yang bisa menyembuhkan kedua matanya. Ketika malam tiba, dikatakan kepadanya (anak laki-laki): “Berobatlah engkau dengan kasidah yang diberi nama Burdah. Kasidah itu ada di ayahmu.”

Baca Juga :  Kasidah Burdah: Syair Cinta Untuk Sang Rasul

Ketika pagi menjelang, maka dia langsung meminta kasidah tersebut kepada ayahnya. Sang ayah berkata: “Aku tidak memiliki kasidah Burdah itu. Aku hanya memiliki kasidah yang diberkahi yang digubah oleh Syekh al-Busiri.” Akhirnya, dia memberikan kasidah (Burdah) itu kepada anaknya.

Sang anak kemudian membaca kasidah (Burdah) tersebut bait demi bait sembari mengusapkan tangannya kepada kedua matanya. Lalu, Allah menyembuhkan pernyakit yang menimpa kedua matanya (Syarḥ al-Burdah al-Bûṣîriyyah asy-Syarḥ al-Mutawassiṭ, hlm. 5-6).” Wa Allâh A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam…

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Menurut Syed Mohiuddin Qadri, kasidah Burdah (karya Imam al-Buṣiri ra.) banyak disyarahi oleh beberapa ulama ternama, seperti Ibn Abi Hajala al-Tilimsani, Ibn Marzuq al-Tilimsani, Badruddin al-Zarkasyi, Jalaluddin al-Maḥalli, Jalaluddin as-Suyuṭi, Syihabuddin al-Qastallani, Zakariya al-Anṣari, Ibn Ḥajar al-Ḥaytami, ‘Abdul Qadir bin al-‘Aydarus, Nuruddin al-Ḥalabi, Ibrahim al-Bajuri al-Azhari (Qasidat al-Burda, 2008: 8). Selain itu, Syekh Ibn Maqlasy al-Wahrani dan Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani juga tidak ketinggalan mensyarahi kasidah Burdah. (Baca: Sejarah Kasidah Burdah; Ditulis untuk Obati Lumpuh). […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here