Sejarah Penaklukan Tunisia di Masa Sahabat Nabi; Membutuhkan Waktu Lebih dari 30 Tahun

0
313

BincangSyariah.Com – Tunisia merupakan salah satu wilayah paling strategis nan subur di Afrika Utara. Letaknya berbatasan dengan Laut Mediterania yang saat itu menjadi jalur utama perdagangan Internasional. Sehingga, sejak zaman dahulu wilayah tersebut sudah diperebutkan oleh banyak kekuatan besar dunia.

Tak heran, wilayah yang dihuni oleh suku Barbar ini sudah terbiasa dengan hal – hal baru yang datang dari luar. Walupun saat itu kondisi sosial politik serta ekonomi masyarakat Barbar cukup lemah, hal itu  tidak lantas memudahkan pasukan Muslim untuk menguasai daerah tersebut. Tercatat sejarah bahwa penaklukan Tunisia membutuhkan waktu lebih dari tiga puluh tahun. (Baca: Abdul Aziz Ast-Tsa‘alabi; Sosok Ulama yang menjadi Pahlawan Kemerdekaan Tunisia)

Hal itu akibat  adanya perlawanan sengit dari suku Barbar yang bekerjasama dengan orang-orang Romawi. Ketika bangsa Arab datang, wilayah pesisir pantai Afrika Utara dikuasai oleh Byzantium. Sedangkan wilayah lainnya dikuasai oleh beberapa kelompok suku Barbar yang terbagi berdasarkan ras dan keturunan.

Hasan Husni Abdul Wahab dalam kitabnya Khulasat Tarikh Tunis menjelaskan cukup rinci kejadian-kejadian saat umat Muslim menaklukan Tunisia. Berikut ulasannya. Perjalanan pasukan Muslim ke Tunisia dimulai pada tahun 27 H, saat Khalifah Usman bin Affan memerintahkan Abdullah bin Abi Sarh untuk pergi ke Tunisia dengan membawa 20.000 pasukan.

Setelah melewati Burqah (pesisir Libya) dan Tripoli, pasukan Muslim berhasil masuk ke Sebeitla (Tunisia bagian tengah) yang merupakan kota penting bagi Byzantium. Pasukan Muslim memenangkan pertempuran melawan penguasa Sebeitla, Gregori yang membawa 100.000 pasukan. Gregori berhasil dibunuh oleh Abdullah bin Zubair.

Perang ini kemudian dikenal dengan nama perang “Ibadillah as Sab’ah” (Tujuh Hamba Allah) karena terdapat 7 sahabat  yang bernama Abdullah yaitu Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh, Abdullah bin Zubair bin Awwam, Abdullah bin Abbas bin Abdul Mutholib, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Umar bin ‘Ash. Pertempuran ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan kekuatan pasukan musuh.

Pada tahun 29 H pasukan Muslim kembali ke Mesir. Tahun 45 H, Muawiyah bin Hudaij Al Kindi bersama 10.000 orang pasukannya pergi menuju Tunisia. Mereka berhasil mengalahkan musuh di sekitar Al Jamm (suatu daerah yang terletak di kota Mahdia, Tunisia). Lalu Muawiyah bin Hudaij mengutus Abdullah bin Zubair untuk pergi ke kota Sousse serta Abdul Malik bin Marwan ke Jallula dan Binzert.

Hasilnya, mereka berhasil menaklukan wilayah – wilayah tersebut. Kemudian mereka kembali ke Mesir yang sebelumnya sudah ditaklukan oleh ‘Amr bin ‘Ash. Tahun 50 H Uqbah bin Nafi’ Al Fihri tiba di Tunisia. Fokus pertamanya adalah membangun kota di Kairouan sebagai markas pusat pasukan Muslim. Ia membuat benteng-benteng sederhana, dan menempatkan masjid Uqbah bin Nafi’ di tengahnya. Lalu mendirikan sebuah pusat pemerintahan.

Setelah kondisi stabil, Muawiyah bin Sofyan meminta Uqbah bin Nafi’ untuk kembali ke Damaskus, posisinya digantikan oleh Abu Muhajir Dinar pada tahun 55 H. Namun, Abu Muhajir Dinar tidak menempati Kairouan malah merubuhkannya. Kemudian membuat sebuah markas di Ayat Karouan yang terletak dua mil dari Kairouan.

Mengetahui hal tersebut, tahun 62 H Yazid bin Muawiyah memeritahkan Uqbah untuk kembali ke Kairouan dan memintanya agar dapat membereskan hal-hal yang telah terjadi sebelumnya. Setelah mengembalikan Kairouan seperti semula, Uqbah menunjuk Zuhair bin Qais al Balawi untuk mewakilinya di Kairouan. Sedangkan Uqbah dan pasukan nya melakukan perluasan ke Barat dan berhasil menaklukan seluruh wilayah Afrika Utara sampai ke Samudra Atlantik.

Tahun 64 H, ketika Uqbah dalam perjalan pulang, tepatnya di wilayah Zab, ia hanya bersama sedikit pasukannya dan ada diantarnya Kusaila pimipinan pasukan Barbar yang menjadi tawanan. Melihat adanya celah, Kusaila memberitahukan pasukannya untuk melakukan pemberontakan dan berhasil membunuh Uqbah beserta pasukannya. Selanjutnya Kusaila berhasil menguasai Kairouan.

Zuhair bin Qais sebagai wakil Uqbah di Kairouan kemudian pergi menuju Burqah dan menetap di sana. Tahun 69 H, Abdul Malik bin Marwan memerintahkan Zuhair bin Qais Al Balawi untuk kembali ke Kairouan. Sesampainya di sana, pasukan Zuhair dapat mengalahkan pasukan Kusaila. Kemudian mereka pergi ke arah Barat. Sayangnya, ketika sampai di Burqah, mereka terbunuh oleh orang-orang Romawi.

Mengetahui kabar tersebut, Abdul Malik berniat untuk melakukan pertempuran besar – besaran. Ia menugaskan seorang pimpinan terkenal, Hasan bin Nu’man Al Ghassani. Maka pada tahun 77 H, pasukan Muslim berjumlah 40.000 orang tiba di Kairouan. Ini merupakan pasukan terbesar yang dikirim ke Tunusia. Pasukan Hasan berhasil memenangkan pertempuran dan kembali menguasai Kairouan.

Ia berniat menumpas pasukan musuh hingga ke akarnya agar tidak lagi mengganggu. Lalu mereka pergi ke markas suku Barbar di Jabal Arus yang kala itu dipimpin oleh seorang perempuan bernama Kahinah. Perang pun terjadi, pasukan Hasan dikalahkan. Akibatnya, banyak pasukan yang gugur dan ia pun kembali ke Tripoli bersama pasukan yang tersisa.

Selanjutnya Kahinah berhasil menguasai wilayah Kairouan, dan terus mengejar pergerakan Hasan bin Nu’man sampai ke Tripoli.  Kahinah mengancamnya dengan menghancurkan banyak kota dan desa serta membakar hutan.

Perbuatan tersebut tidak menurunkan niat Hasan untuk kembali ke Kairouan. Tahun 84 H, pertempuran kembali terjadi antara kedua belah pihak di wilayah Al Jamm yang dimenangkan oleh pasukan Hasan.

Dengan kekalahan tersebut, suku Barbar menyerah dan tidak pernah lagi menyerang pasukan Muslim. Sehingga seluruh Ifriqiya berhasil dikuasai oleh pasukan Muslim. Tahun 85 H Musa bin Nusair menggantikan Hasan bin Nu’man sebagai pemimpin Ifriqiya.

Pada masanya, kondisi wilayah kekuasaannya sudah sangat stabil, orang – orang Barbar sudah taat dan benar – benar masuk Islam, tidak lagi seperti diawal dimana mereka masih sering beralih – alih kepercayaan.

Setelah dikuasai penuh oleh pasukan Muslim, perlahan – lahan Tunisia khususnya wilayah Kairouan berubah menjadi peradaban maju di Afrika Utara. Alhasil, Kairouan mampu melahirkan tokoh – tokoh besar seperti Imam Sahnun, Imam Asad bin Furat, Fatimah Al Fihriyyah dan lain – lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here