Sejarah Penaklukan Makkah; Terjadi pada 20 Ramadhan Tahun Ke-8 H

0
885

BincangSyariah.Com – Sebelum peristiwa penaklukan Makkah, Rasulullah dan Quraisy Makkah telah menyepakati penjanjian Hudaibiyah. Salah satu klausul perjanjian tersebut menyebutkan, siapa saja yang ingin menjadi sekutu Quraisy diperbolehkan, dan siapa saja yang ingin menjadi sekutu Rasulullah juga diperbolehkan.

Bani Bakar kemudian bersekutu dengan Quraisy, sementara Khuza’ah bersekutu dengan Rasulullah.

Sejak lama, antara kedua suku tersebut telah berselisih yang berujung permusuhan dan peperangan.

Tujuh belas atau delapan belas bulan dari Perjanjian Hudaibiyah, salah seorang dari Bani Bakar yang bernama Naufal bin Muawiyah ad-Diliy bersama kelompoknya melanggar perjanjian. Suatu malam mereka tiba-tiba menyergap Khuza’ah yang sedang berada di sumber mata air mereka yang bernama al-Watiir yang berada di sisi barat Makkah.

Penyergapan tersebut didukung dan difasilitasi pihak Qurasiy dengan menyediakan kendaraan dan pedang. Secara rahasia, beberapa orang Quraisy juga terlibat, mereka adalah Shafwan bin Umayyah, Huwaithib bin Abdul uzza dan Mikraz bin Hafsh.

Kelompok Khuza’ah kemudian lari menuju Tanah Haram, masuk ke perkampungan Makkah dan berlindung dalam rumah keluarga Budail bin Warqa’ al-Khuza’i dan rumah budak mereka yang bernama Rafi’.

Amr bin Salim al-Khuza’i dan Budail, Warqa’ al-Khuza’i beserta 40 orang Khuza’ah lainnya kemudian berangkat ke Madinah untuk mengadukan masalah tersebut kepada Rasulullah. Rasul pun bersabda, “Engkau akan ditolong wahai Amr bin Salim”.

Pihak Quraisy menyesali insiden tersebut dan mereka ingin agar Abu Sufyan bin Harb berangkat ke Madinah untuk mengokohkan dan memperpanjang perjanjian mereka.

Setibanya di Madinah, Abu Sufyan menemui putrinya, Habibah istri Rasulullah. Di dalam Rumah Habibah Abu Sufyan akan duduk di firasy (alas duduk) Rasulullah. Namun Habibah tidak suka, jika ayahnya yang belum muslim itu duduk di firasy Rasulullah, maka dengan segera firasy tersebut dia lipat.

Kemudian Abu Sufyan mendatangi Rasulullah yang sedang berada dalam masjid, namun Rasul tidak memberikan jawaban apa-apa. Lalu Abu Sufyan meminta kepada Abu Bakar, Umar, Ali, Fathimah bahkan Hasan kecil agar mereka semua mau membujuk Rasulullah, namun mereka semua tidak bersedia.

Ali pun menyarankan Abu Sufyan, “Engkau adalah pemimpin Bani Kinanah. Berdirilah! Mohonlah perlindungan pada banyak orang yang ada di sini, kemudian pulanglah ke negerimu”.

Abu Sufyan menertawakan Ali dan berkata, “Apa engkau mengira itu akan bermanfaat dan mencukupiku?” Ali menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi tidak ada yang bisa engkau lakukan selain itu”.

Abu Sufyan kemudian berdiri di dalam masjid dan berkata, “Wahai kalian semua! Aku memohon perlindungan kalian”. Setelah itu dia kembali ke Makkah dan menceritakan semuanya kepada Quraisy.

Rasulullah kemudian memerintahkan para sahabat untuk melakukan persiapan berangkat ke Makkah. Beliau juga meyerukan kepada suku-suku yang ada di sekitar Madinah, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya hadir di Madinah pada bulan Ramadan”. Kemudian datanglah kabilah Aslam, Ghifar, Muzainah, Asyja’ dan Juhainah.

Rasulullah merahasiakan berita keberangkatan pasukannya, agar tidak menyebar dan didengar oleh pihak Quraisy.

Berita keberangkatan Rasul justru akan dibocorkan oleh Hatib bin Abi Balta’ah. Dia mengirimkan sepucuk surat kepada Quraisy dengan menyewa kurir, yaitu seorang gadis dari Muzainah. Surat tersebut kemudian disembunyikan di kepala dan dililitkan pada sanggul rambut.

Allah kemudian mengutus Jibril agar memberi tahu Rasulullah atas perbuatan Hathib tersebut. Segera, Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam dan Miqdad dan Amr. Rasul berkata pada mereka, “Berangkatlah menuju padang rumput Khakh, di sana engkau akan bertemu seorang wanita yang berada di atas haudaj (sekedup). Dia membawa sepucuk surat untuk Quraisy”.

Mereka segera berangkat dan menemukan perempuan tersebut di padang rumput yang telah ditunjukkan oleh Rasul. Unta perempuan itu pun dihentikan dan digeledah semua pelananya, namun tidak ditemukan apa-apa.

Ali kemudian mengancam, “Demi Allah! Engkau pilih menyerahkan suratmu atau aku akan membuka pakaianmu”. Perempuan itu kemudian melepas sanggulnya dan menyerahkan surat tersebut.

Mereka bertiga kemudian kembali menghadap Rasulullah. Rasulullah kemudian bertanya kepada Hathib, “Apa ini wahai Hathib?” Hathib menjawab, “Janganlah terburu-buru wahai Rasulullah! Aku hanyalah sekutu Quraisy dan aku bukanlah dari bangsa mereka. Sedangkan para sahabat Muhajirin yang bersamamu, mereka memiliki kerabat di Makkah yang bisa menjaga keluarga dan harta mereka di sana. Ketika aku tidak memiliki hubungan nasab dengan Quraisy, maka aku ingin mendapat simpati mereka sehingga mereka mau menjaga keluargaku di Makkah”.

Rasulullah kemudian memaafkan Hathib karena dia adalah salah satu pasukan perang Badar, dimana Allah telah berfirman kepada mereka, “Lakukan sesuka kalian, Aku telah memaafkan kalian”.

Rasulullah kemudian berangkat ke Makkah pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 H. bersama 100.000 pasukan dan menyerahkan urusan Madinah kepada Abu Ruhm Kultsum bin Hushain al-Ghifari.

Setelah sampai di mata air al-Kadid, Rasululah membatalkan puasa selepas salat Asar. Beliau secara terang-terangan minum di atas tunggangannya, agar segenap pasukan melihat apa yang beliau lakukan. Lalu bersabda, “Kuatkanlah tubuh kalian untuk menghadapi musuh”. Setelah itu beliau memerintahkan untuk berbuka.

Sesampainya di Dzul Hulaifah, Rasullah bertemu dengan pamannya Abbas beserta keluarganya yang akan berhijrah ke Madinah. Rasul kemudian mengirimkan harta dan keluarga Abbas ke madinah, sementara dia sendiri ikut bersama Rasulullah ke Makkah.

Abu Sufyan bin Harits dan Abdullah bin Abi Umayyah, saudara Ummul Mukminin Ummu Salamah, juga turut berhijrah dan bertemu dengan Nabi di tengah perjalanan di dekat Makkah. Keduanya kemudian memeluk agama Islam.

Ketika Rasullulah sampai ke Marr Adz-Dzahran, beliau memerintahkan para pasukan agar menyalakan 10.000 api. Sejauh ini, berita keberangkatan Rasulullah belum terdengar oleh Quraisy. Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa’ keluar dari Makkah untuk menyelidiki keadaan, sehingga mereka sampai di Marr Adz-Dzahran.

Ketika melihat pasukan Rasulullah mereka terkejut, dan pengintaian mereka kemudian diketahui oleh salah satu pengawal Rasullah. Abu Sufyan kemudian dihadapkan pada Rasulullah, dan ia pun masuk Islam.

Ketika pasukan akan melanjutkan perjalanan, Rasul memerintahkan Abbas agar menahan Abu Sufyan di rekahan bukit supaya bisa melihat setiap batalion yang melintas.

Abbas berkata kepada Rasulullah, bahwa Abu Sufyan adalah orang yang gila kehormatan, dia mengusulkan agar Abu Sufyan mendapat bagian kehormatan tersebut. Rasulullah kemudian bersabda, “Baiklah! Siapa saja yang memasuki rumah Abu Sufyan dia akan selamat. Siapa saja yang menutup pintu rumahnya akan selamat, dan siapa saja yang memasuki Masjid juga akan selamat”.

Sebelum memasuki Makkah, sejak di Dzi Thuwa, Rasulullah membagi pasukan muslimin menjadi beberapa kelompok. Zubair bin Awwam bersama pasukannya masuk melalui Kada’ jalur atas Makkah. Khalid bin Walid bersama kabilah Aslam, Ghifar, Muzainah dan Juhaina masuk melalui al-Lith yaitu jalur bawah Makkah. Kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah bersama pasukannya di depan Rasulullah Saw.

Mereka semua masuk dalam keadaan aman tanpa perlawanan dari penduduk Quraisy kecuali sedikit perlawanan dari Shafwan bin Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal, Abdullah bin Zam’ah, Suhail bin Amr dan kelompoknya yang berhasil ditaklukkan oleh pasukan Khalid bin Walid; 13 orang meninggal dan lainnya melarikan diri.

Penaklukan tersebut terjadi pada hari Jum’at tanggal 20 Ramadan

Sesampainya di Baitullah, Rasulullah beserta para sahabat melakukan tawaf dan mengusap hajar aswad dengan tongkat beliau. Saat itu, di sekitar Ka’bah terdapat 360 patung, maka Rasulullah mendorong patung-patung tersebut dengan kayu sambil membaca firman Allah:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“…Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. (Q.S. Al-Isra’ [17] : 81).

Sejak saat itulah Baitullah dibersihkan dari patung-patung, gambar-gambar, adzan berkumandang, dan salat jamaah didirikan. Dengan demikian cahaya kebenaran Islam bersinar terang di tanah suci Makkah. []

Referensi: Nurul yaqin fi Siirati Sayyidil Mursalin, Ad-Durar fi Ikhtisharil Maghazi wa as-Siyar, al-Mab’ats wa al-Maghazi, Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam, Fiqhu as-Siirah an-Nabawiyyah, dan Fiqhu as-Sirah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here