Sejarah Pembayaran Sekolah dalam Khazanah Islam

0
8

BincangSyariah.Com – Dalam khazanah Islam, salah satu peradaban yang dapat kita temukan ada di masa kita sekarang ini adalah tradisi pembayaran sekolah. Tentu praktiknya tidak sesistematis di masa sekarang di mana sebuah sekolah, khususnya yang tidak dikelola di bawah pengelolaan negara, telah menetapkan sejumlah bayaran yang harus ditunaikan bagi siswa yang ingin belajar di sekolah tersebut. Jumlahnya pun bervariasi dari yang harganya terjangkau sampai cukup mahal sehingga yang bisa menikmati pendidikan di sekolah tersebut hanya mereka yang memiliki penghasilan tinggi. Harga yang beragam itu biasanya bergantung kepada interpretasi tiap sekolah untuk menghadirkan konsep dan kualitas pendidikan yang seperti apa.

Bara’ Nizar Rayyan dalam artikelnya berjudul as-Shohabah Yahtafiluuna bi Takharuuj Abnaa’ihim wa Jawaaiz wa Syahaadaat wa Alqaab ‘Ilmiyyah: Mā Dzā Ta’rifu ‘an al-Ihtifā’ bi al-Khirrījīn fī Tārīkhinā? (Sahabat Nabi Melakukan Perayaan atas “Kelulusan” Anak Mereka, Hadiah, Ijazah Kelulusan, dan Gelar Ilmiah: Apa yang Kalian Ketahui tentang Penghormatan terhadap Sarjana dalam Sejarah Kita?) membahas secara luas tentang tradisi penghormatan terhadap mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat tertentu pada peradaban Islam.

Dalam artikel tersebut, ia membahas seluruh unsur yang hari ini sering kita temukan di setiap acara-acara wisuda penganugerahan gelar akademik, mulai dari jenis gelar akademik itu sendiri, pakaian khusus (bagi yang telah lulus), hadiah tertentu bagi para pelajar (termasuk pelajar terbaik), hingga persoalan pembayaran pendidikan yang dibayarkan kepada lembaga penyelenggara yaitu sekolah.

Dalam tradisi Islam, sejarah pembayaran sekolah dimulai dengan kegiatan memberikan sejumlah uang kepada orang yang mengajarkan, atau memberi hadiah pada murid yang telah menyelesaikan pendidikan. Memberikan sejumlah uang kepada guru yang diminta membantu mengajarkan anaknya, pernah dilakukan oleh Abu Hanifah (w. 150 H). Ia memberikan uang sebesar 500 dirham kepada seorang guru yang telah mengajarkan ilmu agama kepada anaknya yang bernama Hammad.

Rayyan menekankan, diantara istilah yang awal-awal digunakan untuk orang yang menyelesaikan pendidikan adalah hadziq/hādziq. Istilah ini, dahulu pertama kali digunakan untuk orang yang sudah sudah menyelesaikan pendidikan Al-Quran di tempat-tempat belajar yang disebut dengan al-Kuttāb.

Namun, ada tradisi yang kuat di kalangan para pengajar Al-Quran di masa itu, untuk menolak bayaran jika yang diajarkan adalah Al-Quran namun cukup mentolelir untuk ilmu-ilmu lain. Al-Imam al-Khatib al-Baghdadi dalam karya sejarahnya, Tārikh Baghdād, menyebutkan kisah Abu Muhamma bin Sa’id ‘Uqdah al-Kufi, ayah dari seorang ahli hadis bernama Abu al-‘Abbās bin ‘Uqdah an-Naḥwī (w. 333 H). ‘Uqdah pernah mengajarkan anak dari seorang bernama Ibn Hisyām an-Khozzāz, seorang pedagang kaya. Saat anaknya telah selesai belajar Al-Quran, Ibn Hisyam menghadiahkan sekian dinar kepada ‘Uqdah. Namun ‘Uqdah menolaknya. Ibn Hisyam kemudian mengira kalau maksud ‘Uqdah menolak karena jumlah yang ia berikan terlalu sedikit. Namun ‘Uqdah menjawab,

ما رددتُّها استقلالًا ولكنّي سألني الصبيُّ أن أعلّمَهُ القرآن، فاختلط تعليم النحو بتعليم القرآن؛ فلا أستحلُّ أن آخذ منه شيئًا ولو دفع إلى الدنيا!!

Aku menolak uang itu bukan karena sedikit. Tetapi karena seorang anak memintaku untuk mengajarinya Al-Quran. Dan belajar nahwu (ujungnya) tidak terpisahkan dari belajar Al-Quran. Maka saya bisa menghalalkan untuk saya mengambil upah dari kegiatan itu, bahkan meskipun seisi dunia dijadikan upah untuk itu!

Sementara, kegiatan tasyakuran bagi para pelajar yang sudah menyelesaikan pendidikan (di masa itu adalah pendidikan belajar Al-Quran), bahkan tercatat sudah dilakukan sejak zaman Abdullah bin Mas’ud (w. 39 H). Seorang sahabat Nabi Saw. yang akhirnya menjadi guru Al-Quran di Kufah ini, suatu ketika memiliki seorang murid yang sudah selesai belajar Al-Quran. Abdullah bin Mas’ud kemudian merayakannya dengan membeli sejumlah buah kenari (jauzan) untuk dibagi-bagikan secara merata kepada anak-anak didiknya. Dan ia tidak suka, kalau konsepnya hadiah tersebut diperebutkan (an-nahb). Kisah ini direkam diantaranya di dalam as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi.

Konsep ini kelak diikuti diantara oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Ia melakukan hal yang mirip dilakukan oleh Abdullah bin Mas’ud dan ia juga tidak suka murid-muridnya bersaing untuk mendapatkan hadiah tertentu setelah menyelesaikan pembelajaran. Batasan untuk tidak memperebutkan hadiah ini kemudian makin memudar, seiring dengan makin besarnya hadiah yang diberikan. Kelompok pertama yang mentradisikan memberi hadiah besar bagi orang yang telah menyelesaikan belajar adalah para keluarga kerajaan yang memberikan hadiah besar kepada putranya, bahkan berupa emas, perak, dan permata.

Contohnya adalah yang dilakukan oleh Khalifah a-Mutawakkil, salah seorang Khalifah dinasti Abbasiyyah yang memberikan penghormatan kepada anaknya al-Mu’tazz yang telah menyelesaikan pendidikan. Al-Mutawakkil memberikan kepada guru al-Mu’tazz, Syaikh Muhammad bin ‘Imran, sebuah pertama senilai 5000 dinar. Sementara, untuk al-Mu’tazz, sang putra, dibuatkan perayaan khusus di salah satu istana Kekhalifahan Abbasiyyah dan al-Mu’tazz menerima hadiah dari ayahnya sebuah pertama senilai 100.000 dinar, selain setelahnya dipersilahkan untuk berpidato diatas podium.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here