Sejarah Nabi; Umratul Qadha, Umrah yang Tertunda

0
1722

BincangSyariah.Com – Setahun berjalan sejak perjanjian Hudaibiyah, pada bulan Dzul Qa’dah Rasulullah beserta para sahabatnya kembali melaksanakan umrah yang sempat tertunda sebab tepat setahun yang lalu pada bulan yang sama para orang musyrik Quraish menghalangi rombongan Rasulullah untuk umrah. Umrah ini merupakan pengganti umrah yang dihalangi tahun lalu, karena itu umrah ini disebut Umratul Qadha atau umrah penganti.

Saat itu adalah tahun ke 7 Hijriyah, Rasulullah berangkat bersama rombongan kaum Muslimin yang juga berangkat bersamanya pada umrah tahun sebelumnya yang belum terlaksana. Tatkala penduduk Makkah mendengar kabar kedatangan Rasulullah, mereka keluar dari Makkah untuk menyingkir ke perbukitan selama Nabi Muhammad dan kaumnya melaksanakan umrah sebagaimana tersebut dalam perjanjian Hudaibiyah. Para kaum Quraish itu memperkirakan Nabi Muhammad dan para sahabatnya berada dalam kesulitan dan kepayahan selama terusir dari Makkah.

Mereka mendirikan kemah di Daar al-Nadwah di utara kota Makkah, yaitu tempat yang biasanya digunakan para pemimpin Mekah berkumpul untuk berunding dan bertransaksi bisnis, untuk melihat Rasulullah dan para pengikutnya.

Ketika Rasulullah memasuki Masjidil Haram, beliau menyelubungkan jubahnya dan membiarkan lengan kanannya, kemudian beliau berkata, “Semoga Allah limpahkan kasih sayang kepada orang yang hari ini memperlihatkan kemampuan dirinya,” Kemudian beliau menyentuh batu yang berada di ujung bangunan ka’bah atau hajar aswad, kemudian beliau berlari-lari kecil (harwala). Para sahabat berjalan dengan kecepatan yang sama dengannya. Kemudian, ketika mengitari belakang Ka’bah kemudian beliau menyentuh rukun yamani dan berjalan mengitar sampai menyentuh batu hitam lagi. Kemudian beliau berlari-lari kecil seperti sebelumnya selama tiga putaran dan sisanya berjalan.

Menurut riwayat Ibnu Abbas dalam Shirah Ibnu Hisyam, tadinya orang-orang Quriash mengira bahwa Nabi Muhammad dan para sahabatnya kesusahan dan kepayahan, tetapi apa yag mereka lihat pada Umrah Qadha membuktikan para orang-orang Quraish bahwa beliau tidak kesusahan sebagaimana yang suku Quraish rumorkan di antara mereka sendiri. Bagaimanapun, Nabi dan para sahabat telah melaksanakan Umrah Qadha dan serangkaian ibadah yang kemudian menjadi tata cara ibadah haji.

Berdasarkan riwayat Ibnu Humaid, dari sahabat Abdullah bin Abu Bakar menuturkan, ketika Rasulullah memasuki Makkah untuk melaksanakan umrah tersebut, beliau menunggangi unta bersama dengan Abdullah bin Rawahah yang memegang tali kekang unta bersyair, “

Berikan jalan, hai orang-orang yang tidak mempercayainya # Aku adalah saksi bahwa Dia adalah utusan-Nya

Berikan jalan, segala kebaikan bagi utusan-Nya # Wahai Tuhan sungguh aku percaya dengan apa yang ia katakan

Aku percaya akan kebenaran Allah dalam meyakininya # Kami akan memerangimu atas takwilnya

Seperti kami akan memerangimu atas wahyu-Nya # dengan tebasan yang memutuskan kepala dari lehernya # yang membuat seorang karib melupakan karibnya

Menurut al-Thabari dalam catatan kakinya, dua bait terakhir dari syair di atas adalah milik ‘Ammar bin Yasar, yang berdasarkan keterangan Ibnu Hisyam bahwa hanya dua ayat pertama yang asli: dua ayat terakhir, menurutnya, diucapkan pada kesempatan lain. Yaitu dikatakan ‘Ammar bin Yasar pada Perang Shiffin, di mana pada hari itu ‘Ammar terbunuh dan yang membunuhnya adalah Abu al-Ghadiyah al-Fazary dan Ibnu Juz’i, keduanya bersekongkol membunuhnya.

Menurut riwayat ‘Ashim bin Umar bin Qatadah, pada saat itu sebelum memasuki Makkah, Rasulullah memerintahkan pasukan berkuda dan bersenjata pedang dan panah mendahului di depan. Dia menunjuk Bashir bib Sa’ad bertanggung jawab atas pasukan bersenjata, dan Muhammad bin Maslamah yang bertanggung jawab atas pasukan berkuda.

Ketika kaum Quraisy menerima kabar ini, itu membuat mereka takut. Mereka mengirim Mikraz bin Hafs bin al-Akhyaf, yang bertemu dengan pasukan Muslim di Marr al Dzahran. Rasulullah berkata kepada dia: “Muda atau tua, saya tidak pernah dikenal tetapi untuk menjaga janji. Saya tidak ingin membawa senjata melawan mereka, tetapi senjata akan dekat dengan saya.” Lalu Mikraz kembali ke Quraish dan memberi tahu mereka. Demikianlah, bagaimana umat muslim melaksanakan Umratul Qadha dengan lancar dan damai setahun setelah perjanjian Hudaibiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here