Sejarah Nabi Muhammad: Perjalanan Pertama ke Negeri Syam

0
4177

BincangSyariah.Com – Nabi Muhammad saw. ketika masih kecil sering menggembalakan kambing penduduk-penduduk Makkah dengan imbalan yang dapat beliau gunakan untuk bertahan hidup.

Ketika beliau mencapai usia sembilan tahun (riwayat lain menyebutkan dua belas tahun atau tiga belas tahun) pamannya; Abu Thalib hendak mengadakan misi dagang ke negeri Syam. Tetapi, terlihat Muhammad sangat berat untuk ditinggalkan oleh Abu Thalib. Akhirnya, karena kasihan, Abu Thalib pun mengajak Muhammad bersamanya ke negeri Syam.

Perjalanan yang tidak begitu lama ini adalah untuk pertama kalinya bagi mereka. Ketika mereka sampai di dekat daerah Bushra (perbatasan antara negeri Syam dan Arab), seorang pendeta Yahudi bernama Buhaira datang menemui orang-orang dari kafilah Abu Thalib.

Pendeta Yahudi itu menanyakan kepada mereka tentang berita yang terdapat di dalam kitab suci orang-orang Yahudi, yaitu mengenai diutusnya seorang nabi dari kalangan bangsa Arab yang saatnya sudah tiba. Mereka menjawab bahwa sampai saat itu belum nampak tanda-tandanya. Ungkapan ini sering dilontarkan oleh orang-orang ahli kitab sebelum Rasulullah saw. diutus, baik dari kalangan orang Yahudi maupun dari kalangan orang Nasrani. Namun, Allah swt. telah berfirman:

فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

….. Ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar. (Q.S. Al-Baqarah/2: 89)

Di dalam riwayat lain yang termaktub dalam kitab Khulasah Nurul Yaqin disebutkan bahwa Pendeta Buhaira tersebut langsung mengatakan kepada Abu Thalib. Ia memberi tahu Abu Thalib bahwa ponakannya itu kelak akan menjadi nabi yang terakhir. Ia telah mengetahui tanda-tanda kenabiannya sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab ahli kitab. Ia pun meminta Abu Thalib segera kembali pulang bersama Nabi Muhammad saw. karena kahwatir musuh mengintainya.

 

Sumber: Kitab Nurul Yaqin fi Siirati Sayyidil Mursaliin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek dan Khulasah Nurul Yaqin karya Umar Abdul Jabbar.

Baca Juga :  Kondisi Ekonomi Masyarakat Arab Pra-Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here