Sejarah Memahami Hadis Dengan Perspektif Sains

1
530

BincangSyariah.Com – Pada mulanya tradisi kajian hadis banyak digagas oleh ulama dari kalangan Sunni, dan juga sebagian dari Syiah. Mereka mengembangkan sistem sanad, kritik sanad, serta juga kritik matan. Ulumul hadits menjadi salah satu peranti penting dalam kajian keislaman.

Kritik matan oleh para cendekiawan dinilai dikembangkan lebih belakangan dibanding kritik sanad. Salah satu sorotan pada redaksi matan hadits adalah adanya muatan yang tidak rasional, dan tidak logis. Kerancuan rasional dalam matan hadits banyak ditelusuri oleh para ulama, dan geliat kritik berdasarkan rasio dan logika ini salah satunya juga disumbang oleh peradaban ahlur ra’yi dan ulama aliran Mutazilah.

Perihal hikayat Nabi Musa memukul malaikat, atau kisah-kisah yang bagi sebagian aliran diperdebatkan semacam hadis “Allah turun ke bumi pada sepertiga malam”, adalah diantara contohnya, Sebagai usaha mendamaikan ketidakcocokan dengan ‘logika’ di masa itu, ada yang memilih melakukan takwil seperti banyak dipaparkan ulama hadis dalam pelbagai syarah, dan ada juga yang membandingkan riwayat seperti dilakukan Ibnu Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalafil Hadits.

Perihal konten hadis yang kontroversial dan bertentangan dengan rasio atau akal berjalan seiring zaman. Penerimaan akan hadis yang demikian erat kaitannya dengan kecenderungan perilaku dan intelektual umat muslim. Selama sanad tidak bermasalah, dan secara matan dapat dikompromikan, banyak ulama Sunni mengusahakan hadis itu untuk tetap hidup, baik diriwayatkan maupun diamalkan.

Menjadi persoalan ketika pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, studi Islam dengan corak historis-kritis dan orientalisme mulai banyak ditelaah. Selain problem historis yang dikupas oleh Ignas Goldziher atau Joseph Schacht di masa itu, persoalan kritik hadis atas dasar rasionalitas mulai mendapat tempat untuk didiskusikan termasuk di kalangan muslim – dan kali ini, mulai ada bahasan tersendiri atas hubungannya dengan sains dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Hukum Memanjangkan Rambut bagi Laki-laki, Benarkah Sunah Rasul?

Ada geliat kaum muslimin yang menempuh pendidikan sains untuk mempertanyakan dasar-dasar agama Islam yang tidak sejalan dengan rasio atau ilmu pengetahuan. Pada 1906, seorang dokter dari Mesir bernama Muhammad Taufiq Sidqi menulis artikel di Jurnal Al Manar yang populer di Mesir sebagai majalah kajian Islam bereputasi. Kesimpulan dari analisis tokoh ini cukup mencengangkan: Islam adalah cukup dengan Al Quran saja. Alasan yang disodorkan adalah tiadanya permohonan tersurat dari Nabi untuk penulisan sunnah, serta menurutnya tidak ada sumber terpercaya tentang adanya hadis hingga baru adanya sejarah kodifikasi sekian ratus tahun kemudian.

Bagaimana mungkin agama dibangun atas dasar otoritas yang samar? Menurut Sidqi, apa yang dinamakan sunnah adalah apa yang hidup di masa Nabi dan diikuti para sahabat. Pasca Nabi mangkat, hukum yang berkembang beradaptasi dengan apa yang dilakukan sahabat itu – dan semuanya tidak akan bertentangan dengan Al Quran. Hadis yang tercatat belakangan banyak terdistorsi oleh custom budaya masyarakat perawi dan juga kisah Israiliyat. Sidqi bukannya benar-benar mengabaikan hadis, namun hanya merujuk hadis yang benar-benar teruji mutawatir .

Ada konten matan hadis yang tidak relevan dengan pengetahuan kedokterannya. Sidqi mengritik hadis lalat yang ada dalam kitab-kitab hadis kanonik, yang menyebutkan bahwa ketika lalat dicelupkan maka ia bisa menjadi obat. Menurut Sidqi, ini obskur dan belum terbukti secara ilmiah.

Dinamika Jurnal Al-Manar yang memuat artikel Sidqi sangat erat dengan dua intelektual penting Al Azhar berikut: Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Keduanya membawa tradisi rasionalitas dalam Islam – khususnya di Al Azhar – lebih jauh untuk dikaji. Usaha kedua tokoh tersebut adalah menjadikan Islam tetap relevan dan hidup di zaman modern.

Baca Juga :  Kisah Nabi Saw. Begitu Menghormati Perempuan yang Menyusuinya

Rasyid Ridha menyebutkan bahwa kritik hadis yang sudah dilakukan ulama di masa lampau bisa melengkapi telaah yang dilakukan cendekiawan di era modern. Mengingat Rasyid Ridha juga terdidik dalam tradisi kajian hadis Sunni, ia mengajukan suatu pemahaman ulang atas hadis-hadis yang sanadnya tunggal (hadits ahad), terutama yang dijadikan dasar akidah, syariah, atau dipercaya memiliki nilai pengetahuan tertentu.

Ia menyinggung tentang hadis terbelahnya rembulan – yang banyak disebut sebagai penafsiran dari surat Al Insyiqaq. Namun ia juga menyatakan, sebenarnya narasi bulan terbelah dalam Al Quran itu bersifat mutasyabihat, dan variasi kisah tentang terbelahnya bulan dalam riwayat hadis begitu beragam – dan periwayatan seputar kisah ini sangat terkait dengan siapa perawi yang mengisahkannya. Selain itu, adanya riwayat hadis perihal matahari mengelilingi bumi dibantah oleh pengetahuan modern – sehingga hadis tersebut perlu dipertimbangkan untuk tidak dinilai shahih.

Rasyid Ridha memilih untuk tidak memersoalkan hadis-hadis yang masih samar secara sains, seperti hadis sayap lalat. Hadis ini dinilai sahih para ulama meski sanadnya ahad/tunggal, sehingga secara sains, bisa saja ia benar, bisa saja salah. Ia memilih untuk mengikuti perkembangan pengetahuan, seperti halnya bisa ular yang ternyata digunakan luas sebagai penyembuh. Kritik rasional atas hadis juga diikuti murid Rasyid Ridha, seperti Muhammad Al Ghazali.

Ketika geliat islamisme makin mengemuka di banyak tempat, muncul gerakan untuk kembali ke sunnah – tak terkecuali di kalangan ilmuwan. Beberapa di antaranya turut menggagas konsep adanya keajaiban saintifik dalam Al-Quran dan hadis. Salah satu penyeru hal ini adalah Zaghlul an-Najjar, ilmuwan geologi dari Mesir yang populer dengan i’jaz ilmiah dalam kitab suci dan sunnah.

Baca Juga :  Kemesraan Rasulullah dengan Shafiyyah

Secara epistemologis, telaah itu dikritik tajam oleh intelektual seperti Ziauddin Sardar, maupun yang lebih terkini seperti dilakukan fisikawan Nidhal Guessoum dari Uni Emirat Arab dalam bukunya Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science. Persoalan kemukjizatan ilmiah dalam Al Quran dan sunnah, memiliki banyak cacat klaim dan metodologi, bahkan termasuk dalam bukti-bukti ilmiah yang disajikan. Dan menurut Guessoum, tendensi glorifikasi Islam itu menyebabkan sains di sebagian bangsa muslim menjadi jalan di tempat.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here