Begini Sejarah Masuknya Islam ke Armenia Negeri Sejuta Biara

0
870

BincangSyariah.Com – Masih ingat dengan tuduhan kasus genosida Kekaisaran Utsmaniyah terhadap etnis Kristen?  Perdebatan menyoal otoritas Masjid Biru Yerevan antar Azerbaijan dan Iran? Atau kisah-kisah perjuangan para Hemshin? Ya, sederet peristiwa kontroversial ini terjadi di negeri Armenia. (Baca: Abu Gharaniq; Raja Muslim Penakluk Malta Eropa Selatan)

Armenia, tidak hanya mempesona karena memiliki biara-biara kuno. Tapi tercatat dalam buku sejarah, masjid – masjid nan indah juga sempat berdiri tegak di sini pada masa pendudukan Islam dulu. Ya setidaknya sebelum terjadi transisi kekuasaan yang memaksa penyusutan populasi rumah ibadah Muslim sehingga kini hanya tersisa satu masjid saja yaitu Blue Mosque Yerevan.

Meski kawasan ini dikelilingi negara–negara Islami, seperti Turki di barat Azerbaijan di timur, Iran di selatan. Namun pengaruh Kristen Ortodoks berasa lebih kental. Lihat saja sekitar 93% masyarakatnya tergabung dalam umat Gereja Apostolik. Tidak mengherankan, sebab konon Armenia adalah negara pertama yang menganut agama Kristen. Hal ini diperkuat dengan adanya Gereja  Armenia yang tidak lain adalah gereja nasional tertua di dunia.

Dilansir dari PEW Forum, tahun 1990 penduduk Muslim di sini mencapai angka 128.000 orang atau sekitar  3,6%. Jumlah ini kemudian menyurut drastis pada tahun 2010 yang hanya menyisakan seribu  orang Muslim saja atau kurang dari 0,1%. Meskipun  terbilang kaum minoritas, setidaknya hal ini menjadi bukti konkret bahwa Islam dulu pernah merambah ke sini.

Sebelum kedatangan Islam, Armenia dikenal sebagai arena pertempuran. Di satu sisi ada duel sengit antara  Byzantium dan Sassania Persia  sebab memang letaknya dihimpit kedua imperium adidaya tadi.  Sedangkan disisi lain, konflik kabilah antar suku Turki yang berselisih dengan suku Khazar masih belum padam. Kedua – duanya adalah suku paling berpengaruh yang sudah lama menetap di Armenia.

Adapun soal ekspedisi Muslim ke Armenia telah dilakukan sejak masa Khulafa Ar-Rasyidin tepatnya di era Umar bin Khattab pada tahun 17 H. Saat itu, beliau mengalokasikan sebuah korps  militer guna keperluan pembebasan menuju arah timur. Termasuk yang menjadi sasaran adalah Armenia.

Baca Juga :  Abu Gharaniq; Raja Muslim Penakluk Malta Eropa Selatan

Pertahanan negara yang terletak di Asia ini cukup sulit ditembus. Tidak hanya karena diberkahi faktor geografis dengan melimpahnya  pertahanan alam seperti pengunungan, rawa dan sungai. Disaat yang bersamaan, wilayah ini juga terlindungi oleh negara – negara tentangga yang pada saat itu mayoritas berada dibawah kendali Romawi.

Maka yang dilakukan angkatan militer Muslim untuk memperlancar penaklukan adalah terlebih dahulu melakukan operasi di dua wilayah perbatasan Armenia yaitu Azrbaijan dan Al-Jazirah (antara sungai Tigris dan Eufrat). Nah, setelah memukul mundur pasukan oposisi dari wilayah tadi baru lah kemudian fokus dialihkan menuju Armenia.

Menurut Al Baladzuri dalam Futuh Buldan kawasan Armenia saat itu terbagi kedalam empat bagian. Syimsyath, Qaliqa, Ahlat, Arjis dan Bagnes masuk dalam kategori Armenia IV. Busfurjan, Dabil dan sekitarnya tergabung dalam Armenia III.  Armenia II diwakili oleh wilayah Juzran. Sedangakan Sisajan dan Arran merupakan Armenia I.

Menurut Mahmud Syit Khattab pengarang Qadat Fath Al-Islami,  setidaknya butuh empat kali tahapan  hingga benar – benar Armenia mampu ditaklukan secara keseluruhan. Keempat tahapan ini  berturut – turut terjadi pada tahun 17 H, 19 H, 22 H dan 25 H. Dengan kata lain, berlangsung dari era Umar bin Khattab hingga era Utsman bin Affan.

Tahun 17 H, Umar bin Khattab mengutus ‘Iyad bin Ghanam Al-Fihri untuk melakukan upaya awal penaklukan. Iyad sendiri adalah sosok Sahabat Nabi asal Quraisy yang turut menyaksikan jalannya perjanjian Hudaibiyah.

Setia terhadap Nabi dan rela mengerahkan segala kemampuannya untuk agama Islam, begitulah sosok ‘Iyadh. Kiprahnya di dalam kemiliteran sudah tidak dapat diragukan. Ikut dalam sejumlah pertempuran penting di wilayah timur Islam hingga pernah menjabat sebagai piminan jenderal tertinggi di Homs menggantikan Abu Ubaidah Al-Jarrah.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Muzzammil Ayat 6-7: Ini Alasan Nabi Diperintah Shalat Malam

Sumber sejarah mengungkap bahwa ia adalah sosok Muslim pertama yang berhasil menerobos pertahanan berlapis Armenia IV. Pada saat itu tiga wilayah sekaligus sukses ditaklukan yakni Bitlis, Ahlat, dan Ain Al-Hamidhah.   Kendati ekspedisi ini bisa dibilang berhasil, namun pengaruhnya tidak begitu awet. Sehingga perlu dilakukan ekspedisi lanjutan.

Dua tahun kemudian operasi kembali dilangsungkan. Masih di tempat yang sama yaitu Armenia IV. Bedanya, kini giliran Utsman bin Abi Ash Ats-Tsaqifi yang mengepalai serdadu Muslim. Ia adalah Sahabat Nabi asal Thaif dari kabilah Tsaqif. Berkat kecerdasannya, diusianya yang masih belia ia sudah pernah terpilih sebagai satu dari enam delegasi guna menyampaikan keislaman Bani Tsaqif kepada Rasulullah Saw.

Karena terbatasnya jumlah prajurit,    Utsman bin Abi Ash tidak ditugaskan untuk melakukan perluasan namun lebih difokuskan untuk memperkuat wilayah Iyad bin Ghanam. Disisi lain, hal ini ditujukan juga sebagai ultimatum terhadap Romawi agar tidak menyabotase Muslimin lagi seperti kasus yang pernah terjadi sebelumnya di Homs, Suriah.

Tidak hanya Utsman bin Abi Ash, masih ditahun yang sama yakni 19 H, sang jenderal pemberani, Habib bin Maslamah Al-Fihri juga turut diturunkan Umar bin Khattab ke sejumlah wilayah. Dalam operasi ini Syimsath, Karin, Mirbala dan Fuks berhasil ia kuasai.

Selanjutnya tahun 22 H, perjuangan umat Muslim beralih ke kawasan Armenia I. Giliran salah satu provinsi terpenting Armenia, Derbent yang sukses ditundukan. Secara geografis, ini adalah wilayah pertahanan terkuat sebab letaknya dikelilingi rawa lebat, gunung hingga laut. Jelas, dengan robohnya pertahanan terkuat ini maka kesempatan membebaskan Aremania menjadi lebih terbuka lebar.

Keberhasilan menduduki Derbent tidak terlepas dari ikut sertanya tokoh – tokoh pembesar Muslim dalam pertempuran tersebut seperti Suraqah bin Umar, Abdurrahman bin Rabi’ah Al-Bahili, Bukair bin Abdullah, Habib bin Maslamah dan Hudzaifah bin Asid al-Ghiffari.

Baca Juga :  Wejangan Pengarang Kifayatul Akhyar tentang Pemimpin Koruptor

Selanjutnya di tahun 25 H, atas izin Khalifah Utsman bin Affan ekspedisi Armenia kembali digalakkan. Tujuan yang diusung kali ini tidak hanya untuk menjaga kestabilan wilayah sebelumnya namun juga berupaya melebarkan sayap kekuasaan.

Dalam misi krusial ini Habib bin Maslamah diutus bersama sekitar 6000 – 8000 personil beraliansi dengan Iyad bin Ghanam untuk menghadapi kekuatan besar Romawi. Tidak tanggung – tanggung pasukan Habib bin Maslamah ini menyusur daratan dari kawasan Armenia I, II, III hingga IV. Diantaranya mereka sukses menduduki Ahlat, Fuks, Arges, Bagnes, Ardasyath, Dabil, Nashwa, Jurzan hingga ke Taflis.

Berangkat dari kisah heroik ini, Habib bin Maslamah kemudian dijuluki sebagai Habiburrum mengingat ia telah banyak bertempur dan menguasai banyak wilayah Romawi. Kota Nasywa di timur sampai Karin di barat, hingga ke pegunungan Kaukasus di utara adalah secuil area Romawi yang pernah ditaklukan Habib bin Maslamah.

Untuk mempercepat proses pembebasan seluruh negera beribukota Yerevan ini, Habib bin Maslamah menugaskan Salman bin Rabi’ah untuk melakukan penyempurnaan  ekspedisi di Armenia I. Hasilnya ia mampu menaklukkan Barda,  Arran, Bailaqan, Syamkur, Syirvan, Shabran, pegunungan Masqath,  kawasan – kawasan di sungai Araxe dan Kour lalu berakhir di Derbent.

Dengan jatuhnya sederat wilayah esensial Armenia, otomatis kendali Romawi atas Armenia ikut melemah. Sehingga pusat pemerintahan Armenia  lantas beralih ke pangkuan umat Islam. Sebagaimana pada tahun 32 H, Abdurrahman bin Rabi’ah Al – Bahili resmi dilantik sebagai gubernur Derbent, mengawali kisah pemerintahan Islam di sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here