Sejarah Masuknya Islam di Korea Selatan

1
56

BincangSyariah.Com – Sejarah masuknya Islam di Korea Selatan berkaitan erat dengan sejarah Korea Selatan yang memiliki beberapa peristiwa penting dan berpengaruh terhadap perkembangan agama Islam di negara tersebut.

Apa yang terlintas pertama kali ketika berbicara Korea Selatan hari? Pop culture-nya (k-pop, drama, film)? Teknologi dan otomotif (Samsung, Hyundai, KIA?) Atau makanan dan pariwisatanya yang kini mulai terus digemari? Ya, yang disebutkan tadi memang tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan mengenai Korea Selatan.

Kini, membicarakan Korea berarti termasuk membicarakan budaya populernya yang bisa dikatakan kuat mewarnai perkembangan budaya populer. Lewat kampanye Hallyu (Korean Wave), Korea Selatan bisa dikatakan melangkah habis-habisan untuk menjadikan budaya populernya menjadi salah satu tren baru tidak hanya budaya Asia, tapi juga pop-culture yang disukai dunia.

Namun, kali ini kami bukan ingin membicarakan soal itu semua. Kali ini penulis ingin membicarakan tentang Islam dan Korea Selatan. Memang seperti tidak ada irisan sama sekali antara kepesatan budaya populer Korea Selatan dengan soal perkembangan Islam di sana.

Jika membicarakan Islam dan Korea Selatan, siapa kira-kira yang pertama kali terlintas di kepala para pembaca, khususnya pembaca di Indonesia? Kalau saya, jujur saja, Ayana Moon, perempuan Korea Selatan yang memeluk Islam dan kini dikenal luas sebagai selebgram dan model muslimah yang mengembangkan karirnya di Indonesia dan Malaysia.

Sejatinya, Ayana Moon hanyalah satu dari kurang lebih 35.000 muslim Korea (korean muslim, sebutan untuk orang Korea Selatan yang memeluk Islam) baru yang saat ini terus berdinamika dalam menjalankan ajaran agamanya di negara yang kini dikenal–dan mungkin « dipuja-puja » oleh banyak orang di seluruh dunia–dengan industri hiburannya yang sangat jaya, terbentang dari film hingga musik.

Interaksi Semenanjung Korea dengan Orang Muslim Era Pra-Modern

Terkait sejarah masuknya Islam di Korea Selatan, para akademisi dan sejarawan, baik dari Korea Selatan maupun pengamat dari luar, punya pandangan yang beragam sejak kapan sebenarnya persinggungan semenanjung Korea dengan agama Islam tersebut.

Jeeyun Kwon dalam artikelnya The Rise of Korean Islam: Migration and Da’wa mengutip pendapat Lee Hee-soo dalam bukunya The History of Korean-Islamic Cultural Exchange bahwa persinggungan semenanjung Korea dengan Islam dimulai saat pelaut-pelaut dari Arab dan Persia mulai berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Korea di awal abad ke-9 M.

Di awal abad ke-11, mereka sudah sampai membangun sebuah masjid di kota Kaesong, ibukota dari Dinasti Goryeo/Koryo yang saat ini masuk ke dalam wilayah Korea Utara. Keberadaan muslim di sana berkembang seiring dengan penaklukan Dinasti Mongol terhadap semenanjung Korea di tahun 1270.

Fakta tersebut memang didukung dengan catatan sejarah bahwa banyak orang-orang Islam yang sudah tinggal dan bertempat di wilayah pelabuhan-pelabuhan di timur semenanjung China seperti Ghuangzhou, sebagai bagian dari aktivitas keberadaan jalur sutra pada waktu itu.

Tentang sejarah masuknya Islam di Korea Selatan, lebih detail dipaparkan oleh Lee Hee-soo dalam tulisannya, Early Korea-Arabic Maritime Relations Based on Muslim Sources, para pakar geografi Arab, seperti yang paling pertama misalnya adalah Ibn Karabidh, sudah menyebut Korea dengan sebutan Silla/Shilla, nama yang digunakan untuk menyebut sebuah semenanjung di bagian paling timur dari Cina. Disebut-sebut, nama itu memiliki nama daerah yang indah dan tempat dimana banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan bisa diobati disana.

Dalam sejarah Korea, disebutkan Silla adalah kerajaan di sebagian besar wilayah timur semenanjung Korea dan juga satu dari tiga kerajaan terakhir yang berada di Semenanjung Korea, bersama dengan Goguryeo di sebelah utara dan Baekje di sebelah barat daya. Kemudian terjadi kekacauan di Baekjae dan Silla hingga kemudian dua kerajaan ini dikuasai oleh Kerajaan Goguryeo dan berubah nama menjadi Goryeo/Koryo.

Interaksi dengan orang-orang di semananjung Korea dan orang-orang Islam, sudah sampai terdengar di kalangan intelektual Islam di masa itu semisal para sejarawan. Ibn Khurdaddhbih, seperti dikutip oleh Lee Hee-soo dalam artikelnya 1500 years betweean Korea and Middle East (1500 Tahun Hubungan Korea dengan Timur Tengah), adalah orang pertama yang membicarakan orang-orang Islam yang tinggal di China. Ibn Khurdaddhbih menyebut kalau orang-orang Silla adalah keturunan Nabi Nuh,

“…Silla berada di bagian ujung China dan bangsanya adalah ras kulit putih. Orang-orang Silla adalah keturunan anak Nabi Nuh, Japhet, dan anak Japhet, Amur. Silla adalah negeri yang kaya emas. Orang-orang Islam yang tinggal di sana, merasa terpikat dengan lingkungannya yang menyenangkan, cenderung untuk tinggal di sana terus dan tidak ingin kembali lagi.”

Selain ibn Khurddadhbih, Hee-soo meneliti sekian literatur dari orang-orang Muslim baik dari para sejarawan atau ahli geografi yang membicarakan wilayah Silla tersebut sejak awal abad ke-9 hingga abad ke-16. Nama-nama sejarawan dan pakar geografi yang disebut diantaranya adalah Ibn al-Bakuwi, al-Mas’udi, al-Idrisi, Ibn Said, al-Maqrizi, hingga Ibn Khaldun. Dalam amatan See-hoo, makin kontemporer, ahli geografi dari kalangan muslim makin akurat menentukan posisi Silla tersebut.

Masih menurut Hee-soo, dalam proses masuknya Islam ke Korea Selatan, sebagian orang-orang Bani Alawi (keturunan Ali bin Abi Thalib) yang dipersekusi di masa Dinasti Umayyah, ada yang sampai melarikan diri hingga ke wilayah-wilayah di pantai timur China. Hee-soo mengutip sumber dari penulis bernama Nuruddin Muhammad al-‘Awfi, yang menyebutkan bahwa sudah ada komunitas dengan jumlah pengikut dalam jumlah besar yang berada di Pulau Hainan, pulau yang kini menjadi pulau paling selatan di wilayah Tiongkok.

Dari kutipan ini, melihat posisi pulau Hainan berada di sepanjang pantai timur China, Hee-soo memandang besar kemungkinan mereka pun berkemungkinan sudah berinteraksi dengan wilayah Semenanjung Korea. Walhasil, keberadaan Islam di semenanjung Korea sebenarnya cukup jelas sejak awal-awal abad ke-7 sebagai bagian dari aktivitas perdagangan pantai timur Tiongkok dan pantai barat semenanjung Korea.

Menurut rujukan yang disebut Koryosa, sebuah kronik resmi sejarah kerajaan Goryeo, orang-orang Taishi (istilah lama dalam bahasa China untuk orang Arab), di tahun 1024 sudah datang ke Korea untuk memperkenalkan produk-produk mereka kepada Raja saat itu. Kehadiran orang-orang Taishi di semenanjung Korea tersebut merupakan bagian dari gelombang kehadiran para pedagang yang tidak hanya berasal dari wilayah-wilayah di dataran China, tapi bahkan dunia Islam.

Bisa dibiang, keberadaan orang Taishi tersebut adalah bagian dari gelombang kedatangan orang-orang Asia Tengah ke Asia bagian Timur. Penyebabnya adalah menguatnya Dinasti Mongol di semenanjung China, yang menyebabkan jalur perdagangan Asia (sering disebut: jalur sutera) menguat. Di samping stabilitas yang dibangun Mongol, kebijakan tersebut membuka jalan kedatangan berbagai bangsa lain ke sisi timur Asia, termasuk semenanjung Korea.

Di antara mereka, ada yang merupakan orang-orang Uighur, yang umumnya selain sebagai pedagang, pengembara/imigran biasa, atau yang menjadi pegawai dinasti Mongol. Hee-soo menyebut, salah satu orang Uighur yang pegawai dinasti Mongol itu yang diutus melayani kerajaan Goryeo, menikah dengan seorang putri raja Goryeo dan menjadi sumber dari klan Deoksu Jang. Orang tersebut disebut bernama Jang Sun Ryong, dan sang putri adalah anak dari raja bernama Chungyeol.

Kehadiran orang-orang yang beragama Islam di masa Dinasti Goryeo tersebut diterima karena disebut-sebut membawa peradabandan teknologi, dimana Dinasti Yuan disebut sangat mendapatkan keuntungan dari peradaban itu. Produk peradaban itu berupa teknologi astronomi, almanak, pengobatan, dan persenjataan. Selain peradaban, beberapa orang muslim baik yang sudah menjadi orang China maupun orang Arab, bahkan dipersilahkan untuk menunjukkan aktivitas keagamaannya, mulai dari membangun masjid, membaca Al-Quran di acara-acara resmi kerajaan, sampai mendoakan raja yang berkuasa agar selalu panjang umur.

Namun, seiring dengan terintegrasinya orang-orang beragama Islam sebagai bagian dari masyarakat Korea, muncul sebuah keputusan dari Dinasti Joseon untuk melakukan penyeragaman identitas dan larangan menunjukkan identitas lain selain identitas Kecinaan pada waktu itu. Kondisi tersebut terus berjalan hingga membuat semenanjung Korea menjadi pemerintahan yang tertutup, dan relasinya dengan komunitas-komunitas muslim berakhir sama sekali.

Baca: Ayana Jihye Moon: Mualaf Asal Korea yang Berbeda Nasib dengan Kristen Gray

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here