Mengapa Banyak Santri yang Rumahnya di Sekitar Masjid? Ini Sejarahnya

0
542

BincangSyariah.Com Saat kali pertama masuk di perguruan tinggi Islam penulis tak jarang menjumpai banyak kawan yang memiliki latar belakang santri. Ketika berkunjung ke rumah mereka, lokasi tempat tinggal mereka banyak –untuk mengatakan tidak semuanya- yang berdekatan dengan masjid. Minimal langgar atau mushola kecil akan nampak di dekat lokasi rumahnya. Sehingga, mudah ditebak jika hendak mencari alamat rumah seorang santri biasanya tidak jauh-jauh dari lokasi masjid.

Dalam kajian sejarah ada ungkapan bahwa peristiwa sejarah akan terjadi hanya sekali atau disebut Einmalig. Namun pola sejarah akan selalu berulang (historia repette). Begitu juga dengan pola tempat tinggal atau rumah santri setelah keluar dari pesantren. Saefudin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (1987), menyebut bahwa santri biasanya dikenal sebagai bongso putihan. Akan tetapi wilayah santri juga disebut dengan istilah kauman, tempat komunitas santri bertempat tinggal.

Biasanya di wilayah ini terdapat masjid yang menjadi pusat kegiatan keagamaan. Selain dijadikan tempat beribadah, di sekitar masjid juga terdapat pondok pesantren atau sekolah agama. Polarisasi yang kentara ini membuat Clifford Geertz dalam penelitiannya tentang Agama Jawa (2013) membagi tiga kelompok masyarakat dalam budaya Jawa. Ketiganya yaitu, santri, abangan dan priyayi.

Santri merupakan kelompok muslim Jawa yang taat dalam menjalankan aturan dan ajaran agama. Meskipun menurut Geertz santri terbagi menjadi dua kelompok, antara mereka yang tradisional dan modernis. Tapi dalam konteks ini yang dimaksud adalah yang pertama. Mereka ini yang biasanya hidup di sekitaran masjid atau langgar dan membangun keluarga dan tempat tingga; di sekitarnya.

Langgar merupakan masjid kecil yang juga digunakan sebagai tempat beribadah. Hanya saja, langgar tidak dipakai untuk salat Jumat. Tempat ini hanya dipakai salat berjamaah dan tempat mengaji anak-anak di waktu sore atau petang (maghrib). Selain itu, biasanya masjid dan langgar dipimpin oleh para alumni pesantren, atau orang kaya yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren atau lulusan pesanntren yang dipercaya oleh masyarakat setempat.

Baca Juga :  Sikap Rasulullah Kepada Wanita Pezina yang Hamil

Masjid dan langgar, dalam bahasa Geertz, merupakan titik terminal riil untuk menjalin komunikasi antara mereka para alumni pesantren (santri) dengan masyarakat umum. Sehingga polanya mulai dari seseorang belajar ke seorang kiai, kemudian ia pulang dan berbaur kembali ke masyarakatnya dan menyebarkan ilmu yang diperoleh dari kiainya melalui masjid-masjid atau langgar. Sehingga masjid merupakan arena yang penting bagi proses penguatan komunitas masyarakat dalam kultur santri.

Maka hingga hari ini kita sangat mudah menemukan mereka yang bertempat tinggal di sekitar masjid selalu terdapat satu atau dua orang alumni pesantren. Para santri ini yang menjadi produk pesantren dalam mensyiarkan agama Islam. Bahkan menurut KH Muslih al-Maroqi, pengasuh pesantren Futuhiyyah Mranggen yang juga pernah menjadi Rais ‘Am Jama’ah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyah (JATMAN), seorang santri setelah lulus harus mengajar. Jika tidak atau belum mampu hendaklah terus belajar (ngaji).

Hal itu mengisyaratkan bahwa seorang santri memiliki tugas untuk mengedukasi masyarakatnya. Untuk menjalankan tugas ini maka masjid dan langgar menjadi sarana untuk mewujudkannya. Maka dari masjid dan langgar pulalah terbentuk komunitas santri. Mereka berkeluarga, memiliki anak, mengantarkan anaknya atau anggota keluarganya yang lain belajar ke pesantren dan setelah selesai menyebar kembali ke daerah-daerah mereka berumah tangga kelak dalam rangka menjalankan tugas yang sama, mengedukasi masyarakat. Dan masjid adalah titik terminal keberangkatannya.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika di sekitar masjid selalu ada lulusan pesantren (santri). Sebab pada dasarnya, Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (1985) menyebutkan, bahwa elemen pesantren selalu terdiri dari santri, kiai, pondok atau tempat tinggal, kitab yang dipelajari dan masjid. Maka sebagai bagian dari tradisi yang telah melekat dalam kehidupan santri, masjid merupakan elemen yang lekat dengan kehidupan santri.

Baca Juga :  Menyikapi Perbedaan Pendapat Dengan Bijak

Problem yang muncul kemudian ialah gelombang industrialisasi yang masif. Misalnya kaitannya dengan bisnis properti atau perumahan. Biasanya di sebuah komplek perumahan yang dibangun oleh pengembang atau warga setempat juga terdapat bangunan masjid. Persoalannya kemudian masihkah masjid dalam sebuah perumahan dapat disebut sebagai wilayah kauman sebagai pusat komunitas santri. Tentu ini akan menjadi ruang pertaruungan dan kontestasi ideologi santri dalam menjaga tradisi pola syiar Islam ala kaum pesantren.

Jika hari ini kemudian banyak masjid-masjid yang sudah tidak lagi ‘dikuasai’ oleh para santri, maka ini menjadi sirine panggilan bagi para alumnus pesantren bahwa sudah semestinya kita harus kembali ke masjid. Karena masjid adalah simbol identitas dimana kaum santri berada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here