Sejarah Kurban Pertama di Muka Bumi

0
515

BincangSyariah.Com – Berkurban adalah perbuatan yang dianjurkan dalam agama Islam. Perintah kepada Nabi Muhammad saw. agar melakukan kurban bahkan diabadikan di dalam Alquran. Allah Swt. berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.” (QS Al Kautsar: 3)

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah berkurban dengan dua ekor kambing yang putih warnanya serta besar tanduknya.

Seperti kebanyakan ibadah-ibadah lain di dalam syariat Islam, berkurban bukanlah kekhususan umat Nabi Muhammad saw. Sebelum datangnya Islam yang dibawa Nabi saw., ia telah memiliki sejarah yang panjang.

Sejarah kurban bermula dari sebuah ‘konflik internal’ di satu-satunya keluarga manusia yg ada di bumi; keluarga Nabi Adam a.s.

Setelah diturunkan ke bumi, seperti dikisahkan oleh Imam Al-Qurtubi dan Syekh Nawawi Banten dalam masing-masing tafsirnya, Nabi Adam a.s. dan istrinya, Hawa, dikaruniai dua anak kembar, laki-laki dan perempuan: Qabil dan Iqlimiya (di keterangan lain bernama Iqlima). Kemudian setelah itu, memiliki dua anak kembar lagi: Habil dan Luyutsa (di keterangan lain bernama Lubudza).

Allah memerintahkan Nabi Adam a.s. agar menikahkan putra-putrinya dengan saudara yang bukan kembarannya; Qabil dengan Luyutsa; Habil dengan Iqlimiya. Sayangnya rencana ini tidak berjalan mulus. Wajah Iqlimiya yang lebih cantik dari pada Luyutsa membuat Qabil cemburu dan menggugat perintah ini.

Nabi Adam a.s. berkata pada Qabil, “Wahai anakku, Allah yang memerintahkanmu melakukan ini.”

“Allah tidak memerintahkan hal ini. Ini kehendakmu saja.” Protes Qabil pada ayahnya. Qabil bersikukuh ingin menikahi Iqlimiya dengan dalih dia adalah saudara kembarnya. Janin mereka berdua tumbuh bersama dalam rahim Hawa.

Nabi Adam a.s. pun mengadakan sayembara, siapa menang, dia akan menikahi Iqlimiya. Sayembaranya adalah mempersembahkan kurban. “Siapa yang kurbannya diterima, dialah yang berhak menikahi Iqlimiya.” Kata Nabi Adam a.s.

Baca Juga :  Orang yang Bernazar Berkurban, Bolehkah Memakan Dagingnya?

Habil seorang peternak, wajar jika mengurbankan hewan ternak; kambing. Qabil seorang petani, dia mengurbankan hasil panen.

Pada hari yang dijanjikan, di sebuah gunung, keduanya datang membawa kurban masing-masing. Habil membawa kambing terbaiknya. Sementara Qabil membawa hasil panen terburuknya. Sudah begitu, di tengah perjalanan ia masih sempat menyeleksi lagi barang bawaannya. Jika ada yang masih cukup bagus, ia makan. Enggan sekali mempersembahkan barang bagus.

Lalu Nabi Adam a.s. memanjatkan doa kepada Allah. Tak berselang lama, datanglah api menghampiri kurban Habil dan membawanya ke langit; tanda kurban Habil diterima. Sedangkan kurban Qabil tak tersentuh sampai dimakan hewan-hewan liar.

Qabil belum bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Kecemburuannya pada Habil semakin menjadi-jadi dan memutuskan untuk membunuh Habil. Ia pun menjadi manusia pertama di muka bumi yang melakukan pembunuhan.

Kisah di atas secara singkat diabadikan di dalam firman Allah Swt.:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka (Bani Israil) kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Qabil berkata: ‘Aku pasti membunuhmu!’ Habil berkata: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.’” (QS Al-Ma`idah: 27)

Sementara itu, kambing Habil yang diangkat ke langit digembalakan di surga. Ratusan tahun kambing itu di sana hingga akhirnya Allah menjadikannya kurban pengganti saat Nabi Ibrahim a.s. hendak berkurban dengan menyembelih Nabi Ismail a.s. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here