Sejarah Kesultanan di Aceh

0
1432

BincangSyariah.Com – Kali pertama muncul kerajaan Islam di ujung utara pulau Sumatera ialah Kesultanan Aceh atau Aceh Darussalam pada tahun 1514. Kesultanan ini didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Wilayah kekuasannya terus berkembang hingga Pidie, Pasai, Aru, Perlak, Tamiang dan Lamuri selain wilayah Aceh besar dan Daya. Sejak kesultanan ini berdiri, ia menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa.

Misal pada tahun 1521 M saat Kesultanan Aceh masih di bawah kekuasaan Ali Mughayat Syah, Portugis di bawah kepemimpinan Jorge D. Brito menyerang Kesultanan Aceh. Namun penyerangan tersebut berhasil dikalahkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Tetapi saat Sultan Salahuddin berkuasa ia mulai bersikap terbuka dengan bangsa Portugis dan mengizinkan mereka masuk ke Sumatera. (Empat Ratu yang Pernah Memimpin Kesultanan Aceh)

Saat Sultan Iskandar Muda memimpin, kesultanan ini mencapai masa kejayaannya. Ia memimpin sejak tahun 1607-1636 Masehi. Hal tersebut karena pada masa kepemimpinannya, ia mulai membangun jaringan perdagangan yang kuat serta pasukan armada.  Sehingga Aceh disegani oleh bangsa Eropa. Sistem pemerintahan yang diterapkan adalah sistem Islam dan diberlakukan secara tegas. Wilayah kekuasannya pun meliputi Sumatera Barat, Riau dan Semenanjung Malaka.

Selain melakukan perluasan wilayah ia juga melakukan pengembangan ilmu pengetahuan, pembangunan masjid dan lembaga pendidikan. Selain itu perkembangan ilmu sastra juga sangat pesat. Pada masanya juga lahir tokoh sastra dari Sumatera yang tersohor, ialah Hamzah Fansuri.

Hamzah Fansuri terkenal selain sebagai ulama sufi yang menganut aliran wujudiyyah (panteisme) ia juga terkenal sebagai sastrwan yang melahirkan banyak karya sastra dalam bentuk syiir. Ia merupakan penyair pertama yang memperkenalkan syair ke dalam sastra Melayu. Syair-syairnya seperti Syair Burung Pingai, Syair Burung Pungguk, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Saat ini ia Hamzah Fansuri dimakamakan di Ujong Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar.

Baca Juga :  Ini Tiga Contoh Kedekatan Nabi Muhammad Dengan Non Muslim

Selain karya sastra hasil ciptaan Hamzah Fansuri yang lahir di masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda lahir pula karya sastra sejarah bernama Hikayat Aceh. Tetapi penulis dari hikayat tersebut tidak diketahui sampai saat ini. Hikayat tersebut didominasi oleh cerita kebesaran dan kepahlawanan Sultan Iskandar Muda sejak masa anak-anak. Namun selain itu Hikayat Aceh juga menceritakan tentang berdirinya Kesultanan Aceh atau Aceh Darussalam.

Setelah Sultan Iskandar Sani, menantu sekaligus pengganti Sultan Iskandar Muda wafat pada tahun 1641 M, Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultanah (Sultan perempuan). Terdapat empat sultanah yang sempat memimpin Kesultanan Aceh. Keempatnya adalah Sultanah Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675 M) yang merupakan istri dari Sultan Sani. Beliau menggantikan suaminya sendiri untuk memimpin Aceh.

Setelah itu ada Sri Ratu Naqiyatuddin Nurul Alam, Inayat Syah, dan Kamalat Syah. Kepimpinan perempuan berhenti di Aceh saat Mekkah mengeluarkan fatwa tentang pelarangan kepemimpinan perempuan pada tahun 1699 M.

Tidak hanya masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda yang mengalami masa kejayaan dan melahirkan tokoh besar. Pada masa kepemimpinan salah satu sultanah tersebut yaitu, Sultanah Safiatuddin Tajul Alam lahirlah tokoh sekaligus penyebar tarekat Syattariah yang sangat berpengaruh besar di dunia Islam.

Ia bernama Abdur Rauf Singkel. Ia belajar tarekat Syattariah di tanah suci Mekkah dan mengembangkannya di Aceh setelah ia kembali pada tahun 1622 M. Pada masa kepemimpinan Sultanah Safiatuddin, ia menjadi mufti kerajaan dan sangat produktif menulis. Kitab tafsir pertama yang ia  tulis dalam bahasa melayu berjudul Turjuman al-Mustafid (Terjemah Pemberi Faedah).

Sebelum muncul tarekat Syattariah yang dibawa oleh Abdur Rauf Sangkel sempat juga berkembang tarekar Rifaiah dari India yang dibawa oleh Nuruddin ar-Raniri pada. Tarekat tersebut berkembang pada tahun 1637 saat masa kepemimpinan Sultan Iskandar Sani. Ar-Raniri bisa mengembangkan tarekat tersebut karena ia menjalin hubungan baik dengan Sultan Iskandar Sani terlebih setelah ia diangkat menjadi mufti.

Baca Juga :  Sembilan Alasan Kebolehan Merayakan Maulid Nabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here