Sejarah Kesultanan Banjar: Kerajaan Hindu yang Berjanji Masuk Islam ke Sultan Demak

0
894

BincangSyariah.Com – Kerajaan Islam yang kali pertama berdiri di Kalimantan Selatan adalah Kesultanan Banjar. Mulanya ia adalah Kerajaan Daha, salah satu kerajaan Hindu di Kalimantan Selatan.

Pangeran Samudera yang kala itu memimpin Kerajaan Daha, meminta bantuan kepada Kesultanan Demak agar merebut kekuasaan di Daha dan ia berjanji jika berhasil akan memeluk agama Islam. Setelah Kesultanan Demak berhasil merebut kekuasaan di Demak, Samudera akhirnya memenuhi janjinya untuk memeluk agama Islam. Ia pun masuk Islam di bawah bimbingan utusan Kesultanan Demak.

Setelah masuk Islam, pada tahun 1595 M Pangeran Samudera kemudian mendirikan Kesultanan Banjar dan menjadi kesultanan Islam yang berperan dalam menyebarkan agama Islam. Pangeran Samudera yang menjadi pemimpin Kesultanan Banjar bergelar Maharaja Suryanullah atau orang-orang mengenalnya dengan Suriansyah juga menjadi tokoh penting dalam sejarah Islam di Kalimantan.

Setelah Kerajaan Daha berganti menjadi Kesultanan Banjar, banyak masyarakat setempat yang akhirnya memeluk Islam. Populasi muslim di Banjar yang meningkat dengan berubahnya agama pimpinan kerajaan mereka, menjadi indikasi berhasilnya penyebaran agama Islam.

Penyebaran agama Islam serta perluasan wilayah kerajaan juga merambah ke Sambas, Sampit, Batanglawai, Sukadana, Tanjungwaringin, Medawi, dan Sambangan.

Pada tahun 1636 M, setelah pusat pemerintahan dipindah ke Martapura, wilayah kekuasaan Kesultanan Banjar meluas hingga ke daerah Landak, Mendawai, Pulau Laut bahkan hingga ke seluruh Pantai Timur Kalimantan, termasuk Kutai Pasir dan Berau.

Pemindahan pusat pemerintahan tidak hanya terjadi saat Sultan Suriansyah memimpin, tetapi juga terjadi saat Sultan Hidayatullah memimpin. Perpindahan tersebut terjadi pada tahun 1650 M ke Muara Tambangan oleh Sultan Hidayatullah.

Pada masa kepemimpinan Sultan Tahlilullah, sejak 1700-1745 M, muncullah seorang ulama besar yang sejak kecil diasuh oleh Sultan Tahlilullah sendiri. Ia bernama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 M) atau masyhur dengan sebutan Syekh al-Banjari.

Baca Juga :  Hukum Mengusir Anak Kecil yang Berisik di Dalam Masjid dan Tradisi Bahsul Masail

Sejak kecil hingga usia 30 tahun, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tinggal di istana kerajaan sampai akhirnya ia dikirim ke Mekkah untuk menuntut ilmu. Masa belajarnya terjadi dengan kurun waktu yang cukup lama yaitu, selama 30 tahun. Setelah 30 tahun ia belajar di Mekkah, ia kembali ke tanah air dan membangun Pesantren Dalam Pagar.

Syekh al-Banjari menjadi tokoh yang sangat berperan dalam pengembangan agama Islam yang bermazhab Syafii. Syekh al-Banjari juga menjadi mufti pada masa kepemimpinan Sultan Tahmidullah II putra dari Sultan Tamjidullah I.

Selain mengajar, ia juga menulis kitab Sabil al-Muhtadin yang berisi persoalan hukum fikih dan menjadi kitab rujukan tidak hanya di Kalimantan tetapi juga di seluruh nusantara. Selain kitab dalam bidang fikih, ia juga menulis kitab Kanz al-Ma’rifah yang merupakan kitab bertemakan tasawuf.

Pada kisaran tahun 1850-an, saat Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Tamjidillah II, terjadi peperangan melawan Belanda yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Peperangan ini terkenal dengan Perang Banjar.

Saat itu, selain pemberontakan kepada Belanda yang mencoba menguasai Kalimantan dan meruntuhkan kerajaan Islam, pemberontakan tersebut juga dilakukan kepada Sultan Tamjidillah II sendiri yang pro terhadap Belanda. Sikap Sultan Tamjidillah yang akhirnya memberikan akses kepada Belanda menimbulkan sikap berontak dari rakyat.

Peperangan tersebut justru menjadi kesempatan Belanda untuk menghapuskan Kesultanan. Hingga akhirnya Kesultanan Banjar berakhir pada tahun 1860 meskipun peperangan masih terus berlanjut hingga tahun 1863. Pertempuran-pertempuran kecil tetap berlanjut sampai tahun 1905.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here