Sejarah Kata “Jilbab”; Berasal dari Etiopia

0
1389

BincangSyariah.Com –  Kata jilbab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah masuk sejak edisi pertama. Ini berarti kata tersebut sudah cukup lama dikenal masyarakat Indonesia. Kata jilbab sendiri merupakan bentuk mufrad dari jamak jalābīb. Dalam Alquran, hanya terdapat satu kata jilbab dalam bentuk jamak dalam surah al-Ahzab; 59.

Menurut Ibnu ‘Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir, jilbab yang digunakan wanita antara suatu wilayah dengan wilayah lain berbeda-beda sesuai tradisi setempat. Selain itu, menurut ulama asal Tunisia ini, jilbab digunakan pada waktu itu untuk membedakan antara wanita merdeka dan budak. Wanita merdeka diperintah untuk mengenakan jilbab, sementara wanita budak tidak ada perintah tersebut. Perintah mengenakan jilbab tersebut dimaksudkan untuk menghindari pelecehan seksual terhadap wanita merdeka pada masa itu.

Para pakar leksikograf Arab tidak memberikan satu pendapat dalam mendefinisikan kata jilbab. Dalam Lisanul ‘Arab, paling tidak kata jilbab merujuk pada dua makna ‘pakaian luar yang menutupi kepala hingga dada (semacam abaya atau gamis); dan tutup kepala’. Para pakar sepakat bahwa kata jilbab adalah bahan yang dipakai khusus untuk perempuan.

Sementara itu, Ibnu Faris dalam Maqāyis al-Lughah mengatakan, kata dasar j-l-b (jalaba) memiliki dua makna dasar. Pertama,

الْإِتْيَانُ بِالشَّيْءِ مِنْ مَوْضِعٍ إِلَى مَوْضِعٍ

Bila diterjemahkan secara literal, frasa di atas bermakna ‘mendatangkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain’. Dengan bahasa lain, kata itu biasa dipadankan dengan kata menarik dalam verba bahasa Indonesia. Kedua,

شَيْءٌ يُغَشِّي شَيْئًا

Bila diterjemahkan secara literal, frasa di atas bermakna ‘sesuatu menutupi sesuatu yang lain’. Dengan kata lain, kata jalaba juga dapat diterjemahkan dengan tertutup. Ibnu Faris mencontohkan dengan kata al-julbah ‘bekas  luka’. Ketika luka sudah mengering atau sembuh, biasanya kita menyebut dengan koreng atau dalam bahasa Indonesia kemungkinan lebih dekat disebut alit ‘bekas koreng yang tidak bisa hilang pada kulit’. Dari akar kata inilah kata jilbab termusytak. Namun, Ibnu Faris tidak menyebutkan, kata jilbab dalam bahasa Arab itu berbentuk masdar, isim masdar, atau bentuk yang lain.

Baca Juga :  Pandangan Para Ulama tentang Cadar

Pakar bahasa rumpun Semit, Arthur Jeffery dalam The Foreign Vocabulary of the Qur’ān menyebutkan pendapat bahwa kata jilbab bukan murni berasal dari bahasa Arab, akan tetapi merupakan serapan dari bahasa Etiopia.

Berikut ini pernyataan Arthur Jeffery:

Dari bahasa Etiopia (Eth) tersebut dalam kutipan, terbentuklah kata jilbab dalam bahasa Arab. Setelah itu, barulah muncul verba atau kata kerja jalbaba yang bermakna ‘memakai jilbab’. Dari kasus ini, kata kerja atau verba terbentuk dari kata benda atau nomina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here