Sejarah Jihad Masa Nabi dan Konteks Jihad Masa Kini

0
81

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini kata jihad sering muncul ke permukaan. Demikian juga media sosial ramai banyak membincangkan term jihad ini. Lantas seperti apa sebenarnya sejarah jihad di masa Rasulullah Saw. dan bagaimana kontekstualisasi jihad masa kini? Yuk simak jawabannya berikut ini:

Jihad secara etimologi berarti mengerahkan segala kemampuan atau bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Namun, secara terminologi para ulama fikih berbeda ungkapan dalam mendefinisikannya.

Pertama, mazhab Hanafiyah mendefinisikan jihad adalah mengajak kepada agama yang benar dan memerangi siapa saja yang tidak menerimanya, baik menggunakan harta maupun jiwa raga.

Kedua, mazhab Malikiyah mendefinisikan jihad adalah memeranginya orang muslim terhadap orang kafir yang bukan mu’ahad untuk menegakkan kalimat Allah atau memeranginya orang kafir kepada orang muslim atau kepada tanah milik muslim.

Ketiga, definisi jihad dari mazhab Syafiiyah adalah memerangi orang kafir, menolong agama Islam atau berjihad melawan jiwa (hawa nafsu) dan setan. (Wahbah Zuhaili, Atsaru al-Harbi fi al-Fikhi al-Islami, 33)

Berdasarkan pemaparan definisi jihad oleh ulama-ulama klasik di atas, nampaknya definisi jihad cenderung diarahkan kepada berperang saja. Perlu ditekankan bahwa meskipun jihad menurut para ulama klasik diarahkan kepada perang, namun prinsip jihad konteks peperangan dalam islam bersifat defensif bukan ofensif. Hal ini di dasarkan surah al-Baqarah ayat 190:

وَقاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Secara substansi ayat ini menjelaskan bahwa peperangan dalam islam bersifat defensif. Sehingga kita hanya boleh memerangi orang kafir yang menyerang kita terlebih dahulu.  (Ahmad Musthafa al-Maraghi. Tafsir al-Maraghi. jus 2 hal 88)

Sejarah Jihad Masa Nabi

Dalam kitab Al-Fiqh al-Manhajī ‘ala Mazhab al-Imām al-Syāfii (j. 8/ h. 112) disebutkan bahwa sejarah mencatat perihal jihad di  masa nabi terbagi beberapa fase (tahapan) :

Pertama, fase dakwah. Perlu diketahui bahwa peperangan hanyalah media (perantara) bukanlah tujuan utama. Sehingga jika tujuan utama terealisasi yakni orang-orang kafir tidak menyerang kaum muslimin atau tunduk kepada hukum Allah , maka tentu jihad konteks perang tidak akan disyariatkan.

Namun, jika tujuan agama tidak tercapai  kecuali dengan peperangan, maka disinilah alasan disyariatkannya perang. Akan tetapi sekali lagi diingatkan bahwa perang dalam islam sifatnya defensif bukan ofensif.

Kedua, upeti (pajak). Jika fase pertama dakwah gagal, dalam artian mereka tetap tidak mau masuk islam, maka sekurang-kurangnya mereka memiliki prinsip-prinsip yang senafas dengan Islam untuk kemaslahatan bersama. Termasuk bagian dari kemaslahatan bersama adalah pembayaran dana sosial  yang diambil dari mereka (pajak). Perihal keyakinan (Islam) tidak bisa di paksa, akan tetapi setidaknya perilaku mereka sejalan dengan Islam. Berdasarkan kaidah fikih:

ما لا يدرك كله لايترك كله

Sesuatu yang tidak bisa dicapai semuanya maka jangan ditinggalkan semuanya.”

Ketiga, fase peperangan. Manakala orang-orang kafiir menolak untuk masuk islam dan mematuhi aturan  perundang-undangan dalam islam setelah melalui fase-fase sebelumnya, maka jalan terakhir adalah berperang. Berdasarkan firman Allah

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ ]سورة التوبة : 29[

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

(Dr. Musthafa al-Khin, Dr. Musthafa al-Bugha, ‘Ali as-Syarbaji, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam as-Syafi’i, juz 8 hal 112)

Jihad Masa Kini

Bilamana dikaji lebih dalam lagi, sebenarnya jihad dengan konteks sekarang tidak hanya tertentu kepada perang saja melainkan mencakup kepada segala usaha (kebaikan) yang bergerak di jalan Allah. Hal ini didasarkan dengan keumuman surah al-Hajj ayat 78 :

وَجاهِدُوا في الله حَقَّ جِهادِهِ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya”.

Intisari dari ayat ini mengatakan bahwa kata jihad dalam al-Qur’an sifatnya umum, sehingga bisa bermakna luas tergantung macam-macam bentuk jihad. Di antara bentuk-bentuk jihad yakni : pertama, jihad melawan hawa nafsu. Kedua, jihad melawan setan. Ketiga, jihad melawan orang kafir. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa jihad tidak hanya tertentu kepada perang melainkan lebih luas dari itu. (Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, Tafsir Munir, jus 17 hal 285)

Dr. Muhammad Amaarah dalam kitabnya Assamāhah al-Islamiyyah Haqīqatu al- Jihād wa al-Qitāl wa al-Hārbi menegaskan bahwa jihad masa kini adalah perang pemikiran dan diskusi ilmiah. Sehingga melalui pemikiran ini, maka menyebarkan ilmu (knowledge) baik melalui tulisan dan sebagainya juga termasuk medan jihad. (Dr. Muhammad Amārah, Assamāhah al-Islamiyyah Haqīqat al- Jihād wa al-Qitāl wa al-Harbī, hal 52)

Alhasil, jihad dalam Islam adalah segala bentuk usaha (kebaikan) yang dilakukan semata-mata karena Allah, bisa berbentuk peperangan (konteks jaman dulu) atau hal lain yang berorientasi kepada manfaat untuk agama dan bangsa, semisal memerangi hawa nafsu dan menyebarkan ilmu. Nampaknya, jihad dengan makna terakhir inilah yang sangat relevan dengan konteks jihad masa kini. Semoga bermanfaat, wallāhu a’lam.

Artikel ini terbit atas kerjasama dengan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here