Sejarah Islam di Andalusia; Ulama Berpengaruh Era Dinasti Juhur dan Keruntuhannya

0
620

BincangSyariah.Com – Pasca wafatnya Abu al-Hazm bin Juhur, Dinasti Juhur dipimpin oleh putra tunggalnya, Abu al-Walid Muhammad bin Juhur. Semua anggota Majlis Syuro sepakat untuk menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Dalam hal politik ia mengikuti jejak Ayahnya. Prinsip demokratis tetap ia pegang teguh sehingga melahirkan suasana politik yang aman dan tentram. Ia juga sangat piawai dalam hal perpolitikan.

Salah satu strateginya untuk melibatkan orang-orang dari berbagai golongan dalam pemerintahan adalah dengan mengangkat Abu Marwan bin Hayyan seorang sejarawan pada masanya sebagai anggota Dewan di Pemerintahan. Abu Hayyan pun mengakui selama menjabat sebagai anggota dewan bahwa Abu al-Walid termasuk sosok pemimpin yang bijaksana dan mulia. Ia tidak mengalami masalah dalam pemerintahan.

Selain itu ia juga menunjuk seorang penyair yang ulung menjadi seorang menteri sekaligus juru bicara dan duta besar, Aba al-Walid bin Zaidun. Namun pada kemudian hari, Aba al-Walid bin Zaidun melakukan suatu tindakan pelanggaran yang akhirnya menyebabkan ia masuk penjara. Ia justru kemudian melarikan diri ke Sevilla dan menjadi menteri pertama di sana untuk kepemimpinan Mu’tadhid bin Abbad.

Meski kekacauan dan kemunduran dinasti ini terjadi pasca kepemimpinan Abu al-Hazm dan Abu al-Walid, perkembangan keilmuan dan sejarah masih terus berlanjut di Cordoba. Cordoba diakui sebagai kota yang melahirkan para cendikiawan baik di bidang agama dan sastra.

Hal itu terbukti dengan kedatangan beberapa peniliti barat untuk terus melakukan penelitian dan informasi. Begitu juga para mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru dunia. Cordoba masih hidup dan menjadi kiblat keilmuan. Selain lembaga pendidikan, perpustakaan yang dibangun sejak Dinasti Umayyah masih terus menjadi pusat keilmuan.

Para penyair dan sejarawan yang lahir dan besar di Cordoba tidak dipungkiri sangat berperan dalam beberapa urusan pemerintahan baik di bidang politik dan keilmuan. Beberapa tokoh besar yang ahli dalam bidang Filsafat dan Fiqh adalah Ibnu al-Hazm al-Andalus (994-1063 M), pemimpin para hakim, Yunus bin Abdullah bin Mughits (950-1038 M), seorang sejarawan yang kini karya-karyanya menjadi rujukan para ahli sejarah, al-Awhad Abu Marwan bin Hayyan (987-1075 M) dan juga muridnya Abu Abdullah al-Hamidi (1029-1095 M) dan masih banyak lagi.

Baca Juga :  Asal Usul Ideologi Jabariyyah

Dua Cendekiawan dari Cordoba

Ibnu al-Hazm al-Andalus bernama lengkap Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm al-Farisi. Kakenya, Khalf bin Ma’dan merupakan orang yang menemani Abdurrahman bin Dakhil saat memasuki Andalusia. Ibnu Hazm lahir di Cordoba pada tahun 994 M, tumbuh dan belajar di sana. Ia bermazhab Syafi’i  dan kemudian menjadi seseorang yang ahli dalam bidang tafsir, hadis, fiqih, dan sejarawan. Karena keahliannya dalam berbagai bidang keilmuan ia dianggap sebagai sosok ulama yang berpengaruh.

Selain dalam ilmu agama dan sejarah, ia juga merupakan seorang menteri di Cordoba. Ibnu al-Hazm hidup di mengalami Fitnah al-Andalus (921-1031 M). Ia sempat berperan dalam membantu al-Murtadho yang sempat menjadi khalifah Dinasti Umayyah. Tetapi karena itulah ia tertangkap dan dipenjara pada pertengahan tahun 1018 M, kemudian dibebaskan dan kembali ke Cordoba. Kemudian ia menjadi menteri pada masa Khalifah al-Mustadzhir lalu khalifah dibunuh dan Ibn al-Hazm dipenjara sampai akhirnya dibebaskan.

Ia lalu mengalami hidup masa Muluk at-Thawaif dan mengalami masa-masa memuncaknya polemik yang terjadi di pemerintahan. Ia sempat mengajak beberapa masyarakat agar tidak diam saja dan melawan. Tindakannya tersebut yang membuat ia akhirnya dikucilkan dan kemudian pergi ke satu negara dan negara lain sampai ia wafat di kota Niebla, Spanyol. Ia meninggalkan beberapa karya tulis berupa buku yaitu, Thuq al-Hamamah, al-Muhalli fil al-Fiqh, Wa al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nahl, wa an-Nasikh wa al-Mansukh dan juga kitab dalam bidang kedokteran.

Cendekiawan kedua yang dikenal sebagai sejarawan kenamaan di Cordoba ialah Abu Marwan Ibnu Hayyan. Ia bernama lengkap Abu Marwan bin Hayyan bin Khalaf bin Husein bin Hayyan bin al-Qurthuby al-Umawy. Ayahnya merupakan seorang menteri Khalifah Manshur bin Abi ‘Amir era Dinasti Umayyah. Ibnu Hayyan mengalami masa-masa saat berdirinya Muluk at-Thawaif dan sosok yang paling banyak menuliskan sejarah tentangnya.

Baca Juga :  Asal Mula Penamaan Andalusia; Cikal Bakal Kota Peradaban Islam di Spanyol

Ia juga menjadi menteri di Dinasti Bani Juhur pada masa kepemimpinan Abu al-Walid dan mengalami masa-masa runtuhnya dinasti ini. Selain dikenal sebagai sejarawan ia juga dikenal sebagai sastrawan. Dua karya peninggalannya yang terkenal ialah al-Muqtabis fi al-Andalus dan al-Matin fi Tarikh al-Andalus.

Masa Kemunduran

Saat Abu al-Walid berusia sepuh, ia memikirkan siapa yang kelak akan meneruskan kepemimpinan di dinasti ini. Ia memiliki dua anak bernama Abdurrahman dan Abdu al-Mulk. Namun Abdu al-Mulk sebagai anak kedua saat itu terlihat lebih piawai dan pandai. Ia pun meminta pendapat dari anggota Majlis Syuro dan mereka menyarankan untuk memilih Abdurrahman karena ia yang tertua. Pasca wafatnya akhirnya Abdurrahman terpilih dan dibai’at menjadi pemimpin Majlis Syuro.

Tapi ternyata Abdurrahman memiliki perangai yang buruk. Ia bersikap otoriter dan korupsi terhadap uang rakyat, sangat berbeda dengan kakek dan ayahnya. Lalu Abdu al-Mulk mengangkat meminta kepada Ibnu Saqo’ yang dulu menjadi menteri masa Ayahnya untuk membantu mengurusi jalannya pemerintahan. Pemerintahan mulai stabil.

Secara de jure kepemimpinan dipegang oleh Abdurrahman tetapi pada faktanya pemerintahan dijalankan oleh Ibnu Saqo’. Kemudian Abdu al-Mulk mendapat hasutan dari utusan Mu’tadhid bin ‘Abbad untuk melakukan pembunuhan terhadap Ibnu Saqo’. Karena kepolosannya itulah Abdu al-Mulk membunuhnya pada tahun 1063 M.

Terjadilah perebutan wilayah dan kekuasaan antara Abdurrahman dan Abdu al-Mulk. Kemudian pada tahun 1064 M mereka membagi dua atas wilayah kekuasaan dan Abdurrahman mendapat wilayah yang lebih besar.

Karena Cordoba menjadi pusat peradaban Islam di antara kerajaan-kerajaan lainnya, kemundurannya menjadi kesempatan bagi kerajaan lain untuk menyerangnya. Ia pun diserang pertama kali oleh Kerajaan Toledo milik Ma’mun bin Yahya. Abdu al-Mulk lantas meminta bantuan kepada al-Mu’tamid bin Abbad dan itu menjadi pemohonan yang terakhir. Karena setelah itu kerajaan Bani Juhur telah selesai.

Baca Juga :  Kisah Polemik Mengaji Sifat 20 di Medan dan Bukittinggi di Awal Abad ke-20

*Diolah dari buku Qisshoh al-Andalus min al-Fathi ila as-Shuquti karya dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here