Tafsir-tafsir Imajinatif tentang Ibu Hawa, Istri Nabi Adam

0
282

BincangSyariah.Com – Wanita yang pertama, Hawa, yang sebagaimana dikatakan dalam tradisi, tercipta dari tulang rusuk Adam. Bahkan Geothe, penyair terbesar di Jerman, sangat mengenal versi Islam dari kisah ini. Syair yang diintisarikan dari hadis ini menasihatkan kaum pria agar memperlakukan wanita dengan ramah dan sabar. Karena Tuhan mengambil tulang rusuk yang bengkok untuk menciptakannya, bentuk yang dihasilkan tidak bisa lurus sepenuhnya.

Maka, jika pria berusaha untuk menekuknya, dia akan patah, dan jika dia membiarkannya tanpa diganggu, dia akan semakin bengkok. Penyair itu kemudian bertanya pada Adam sang pria; Mana yang lebih buruk? Sebagai jawaban, dia memberikan nasihat dengan sangat bijak: perlakukan wanita dengan sabar, penih cinta kasih dan hati-hati sebab tak seorangpun menginginkan tulang rusuk yang patah.

Tak pernah sekalipun disebutkan dalam al-Qur’an bahwa Hawa bertanggung jawab atas terusirnya mereka dari surga, pun di dalam al-Qur’an juga tak pernah disebut mengenai istilah dosa asal yang oleh para pendongeng disematkan padanya sebagai ‘sang pembawa dosa asal ke dalam dunia.’

Dalam cerita para Nabi, terutama dalam versi-versi yang telah dibumbui dan disebarkan oleh para pendongeng-pendongeng imajinatif, Hawa memang memainkan peranan yang begitu penting. Kecantikannya digambarkan dalam warna-warna yang penuh cahaya, “… Dia sama besar dan sama eloknya dengan Adam, punya 700 jalinan di rambutnya, dihiasi dengan chrysolite dan wangi kesturi… kulitnya lebih lembut dari pada Adam dan lebih indah warnanya, suaranya lebih merdu daripada suara Adam.”

Juga diceritakan dalam suatu riwayat bahwa Allah berfirman kepada Adam, “Belas kasih-Ku telah kucurahkan seluruhnya untukmu dan hamba-Ku Hawa, dan tak ada rahmat lain, wahai Adam, yang lebih besar dari pada seorang istri yang bertakwa.”

Cerita-cerita besar menggambarkan bersatunya pria dengan wanita pertama ini dengan gambaran pernikahan yang begitu meriah dan indah. Sebagian legenda bahkan menceritakan bahwa sebelum pernikahan berlangsung, Allah memerintahkan para ghilman (malaikat-malaikat pekerja di surga) untuk menghias surga dan mempercantik Hawa.

Baca Juga :  Benarkah Siti Hawa Penyebab Nabi Adam Terusir dari Surga?

Pesta pernikahan berjalan begitu khidmat , Allah memanggil seluruh malaikat yang ada di langit agar berkumpul di bawah pohon Thuba untuk mendoakan keduanya. Para malaikat yang lain menaburkan koin-koin surga, intan permata dan Yakut ke atas kepala pasangan pengantin ini. Setelah melunasi mahar, yang menurut Ibn Jauzi dalam kitabnya Salwatul Ahzan berupa bacaan shalawat pada Nabi Muhammad sebanyak 20 kali, Hawa resmi menjadi pendamping Adam. Menemani setiap langkah dari perjalanan-perjalanan Adam di Surga.

Kebahagiaan ini terhenti begitu mereka terjerat godaan dari ular kecil yang memasuki taman dengan bersembunyi di dalam paruh burung merak dan memakan buah terlarang (yang biasanya digambarkan dengan khuldi), pakaian mereka lepas. Bagian ini yang kemudian dijadikan oleh para pendongeng sebagai penekanan atas kesembronoan Hawa.

Gambaran-gambaran dramatis mengungkapkan bagaimana Hawa bertanya pada Allah dimana dia membuat kesalahan dan hukuman apa yang akan diterimanya, dan Allah menjawab, “Aku akan mengurangi kemampuanmu dalam bidang pemikiran dan agama, akan aku kurangi juga bagianmu dalam persaksian dan warisan.”

Kata-kata ini diambil dari dua perintah al-Qur’an yang menyatakan bahwa dua orang saksi wanita dibutuhkan untuk menjadi pengganti seorang pria (QS al-Baqarah [2]: 282)  dan anak perempuan menerima warisan lebih sedikit daripada anak laki-laki (QS. An-Nisa’ [4]: 11). Dengan cara yang sama, masih menurut para pendongeng, Allah menghukumnya dengan “Memenjarakannya seumur hidupnya”- yang kemudian dikembangkan dengan istilah pingitan yang berlaku bagi seluruh wanita setelahnya.

Menurut periwayatan lain, Hawa juga dihukum dengan diberitahu bahwa tidak akan ada wanita yang ikut serta di dalam ibadah yang paling baik yakni shalat Jum’at. Ia juga akan mengalami menstruasi dan kehamilan, dan ‘seorang wanita tidak akan pernah menjadi nabi atau orang bijak setelah ini’.

Cerita dan tafsiran ini hanya untuk menunjukkan betapa banyak asumsi-asumsi yang tersebar luas tanpa didasarkan pada apa yang termaktub dalam al-Qur’an. Tafsir-tafsir imajinatif seperti ini tidak patut kita yakini meskipun dalam beberapa hal memang terkesan masuk akal dan logis. Wallahu a’lam bis shawab…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here