Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX

0
811

BincangSyariah.Com – Teori terakhir mengatakan bahwa Islam masuk ke nusantara sejak abad  ke-7 M. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah hukum Islam (baca: mu’alamah [dalam arti luas]) telah masuk di masyarakat saat itu? Buku ini seakan-akan menjawab pertanyaan secara tersirat bahwa Islam masuk tidak bersamaan dengan hukumnya.

Buku ini menjelaskan bagaimana hukum Islam berinteraksi dengan masyarakat nusantara mulai kurun waktu abad ke-14 sampai dengan 19. Artinya, hukum Islam baru mulai berpengaruh baru pada abad ke-14, pasca munculnya kerajaan-kerajaan Islam. Dengan demikian hukum Islam di nusantara tidak akan bisa masuk tanpa ada endorsement atau mungkin yang lebih ekstrim “paksaan” dari negara.

Wilayah nusantara yang menerapkan hukum Islam lebih banyak di tanah melayu. Bisa kita lihat mulai dari paling ujung Sumatera, Aceh. Kerajaan Samudra Pasai, Kesultanan Aceh, Batu Bertulis Trengganu (Malaysia), dan Kesultanan Malaka. Dalam buku ini ada satu manuskrip yang [\ditulis oleh Ahmad Rifai di jawa yang berisi tentang h¢\\\ukum merokok] uniknya fatwanya tersebut tidak murni soal hukum, tapi sangat berkaitan dengan bisnis opium oleh penjajah saat itu.

Penerapan hukum Islam sejak dahulu tidak hanya pada aspek privat, tapi juga publik. Walaupun begitu, lewat buku ini kita tidak menemukan bagaimana hukum Islam diterapkan dalam konteks bernegara dan ekonomi. Fakta ini menunjukkan bahwa konsen raja saat itu adalah hukum pidana. Walaupun penerapannya masih terdapat problem.

Bisa kita lihat dalam buku ini, hukum Islam tidak diterapkan sebagaimana seharusnya. Sering kali penerapannya berdasarkan selera dan kemauan raja. Misalnya dalam kasus penjatuhan sanksi potong tangan. Saat itu potong tangan tidak hanya dijatuhkan bagi pencuri saja, tapi juga bagi pelaku kejahatan lain seperti zina, sehingga tidak heran jika pada masa ini banyak warga yang tidak memiliki tangan atau berjalan dibantu dengan bambu karena kakinya juga dipotong karena berkali-kali mencuri.

Baca Juga :  Umur Hewan Kurban yang Dianjurkan Rasulullah

Ayang mengatakan bahwa sanksi pidana adat merupakan opsi utama, seperti sanksi congkel mata, potong tangan bagi pemabuk, penzina dimasukkan kedalam lobang yang didalamnya terdapat hewan buas, dan lain sebagainya. Pada bab II disuguhkan fakta hukum Islam di Aceh yang merinding ketika membacanya. Walau buku ini karya ilmiah tapi bahasanya menggugah perasaan.

Hal lain yang menarik lainnya dari buku ini adalah setiap hukum yang diterapkan oleh raja dirujuk kepada kitab sumber utama yang menjadi landasan aturan tersebut. Hasilnya ditemukan bahwa mazhab Syafi’i merupakan mazhab yang banyak menjadi rujukan dalam penerapan hukum Islam di Nusantara.

Sebagai pembaca, buku ini sangat kaya informasi karena berasal dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal. Namun untuk lebih memudahkan perlu adanya editing ulang agar buku ini tidak terlihat seperti kumpulan artikel yang diterbitkan dalam bentuk buku.
Tentunya masih banyak yang tidak bisa kami uraikan di sini, mau lebih tau bagaimana hukum Islam diterapkan? Silakan buka lembar perlembar halaman buku ini, akan menemukan keasyikan layaknya hidup pada masa itu. Jangan lupa secangkir kopi.

Info Buku:

Judul: Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX

Penulis: Ayang Utriza Yakin

Penerbit: Prenada Media Group

Cetakan: 2016

ISBN: 9786024220402

Tebal: 248 halaman

Peresensi: Abdul Karim Munthe, Direktur Eksekutif el-Bukhari Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here